.yosafat


setelah sekian lama absen dari dunia persilatan (baca: ngeblog), saya mau nulis lagi

Ini hasil perenungan saya setelah berlibur selama seminggu di Indonesia.

Di sepanjang jalan terpampang gambar-gambar calon legislatif dari berbagai partai. Ada yang ukurannya besar sekali, besar, sedang, kecil, dan kecil sekali. Ada yang bermuka garang, kumis tebal, tanpa senyum, kaku dan terlalu formal, ada juga yang terlalu narsis, kemaki (bahasa jawa, arti: lawan kata kemayu), dan kemayu. Terlebih lagi ada juga yang mempunyai wajah tidak bersahabat sama sekali.

Poster-poster yang menghiasi sepanjang jalan itu sangat merusak pemandangan. Saya mencoba jujur dan menuliskan apa yang ada di lubuk hati saya. Ya, merusak pemandangan dan keindahan. Bukan karena wajah para calon legislatif yang kurang menarik bagi saya, tetapi karena poster tersebut – menurut saya – tidak ditempatkan dengan rapi.

Metode yang digunakan dalam poster tersebut pun kadang tidak bisa saya pahami, entah saya yang tidak bisa mencerna dengan baik, atau mungkin poster tersebut yang sebenarnya tidak jelas. Ada menuliskan bahwa calon legislatif tersebut adalah mantan juara dunia cabang olahraga tertentu atau artis tertentu, ada juga yang malah memajang foto bapak/kakeknya di poster yang sama, padahal kakeknya juga bukan orang partai tersebut. Saya sempat bertanya-tanya, sebenarnya apa kaitan semua itu dengan beban kerja yang akan mereka hadapi kelak jika mereka terpilih menjadi anggota legislatif? Kenapa mereka tidak memamerkan keunggulan mereka yang sekiranya berkaitan dengan pekerjaannya kelak? Atau jangan-jangan mereka sebenarnya tidak mempunyai keunggulan yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya kelak? (lagi…)

Menanggapi tulisan di sini.

Beberapa hal yang perlu kita siapkan untuk membuat aggregrator blog, jika ingin membuat yang profesional

1. Web hosting. Bisa mencari yang gratisan, jumlahnya ada buaaaanyak. Atau yang berbayar. Ada yang mahal, ada yang murah. Tergantung layanan.

2. Domain. Kalau tidak mau beli domain, bisa pakai domain gratisan juga. Namun domain gratisan itu memang tidak bagus.

3. Content Management Software. Bisa memakai WordPress atau yang lainnya.

4. Setelah semuanya siap, kita bisa buat aggregrator blog dengan memakai ini misalnya.

Saya belum mencari alternatif lain. Saya coba cari. Dulu pernah lihat aggregrator blog memakai blogspot. Saya duga gratis.

Ada ide lain?

Coba amati list di bawah ini.

Januari, Februari, Maret yang telah terhilang dari blog ini…

Mari kita aktifkan kembali….

Saya ingin sedikit bermain-main dengan Anda. Sejujurnya, saya tidak ingin Anda mengetahui ataupun membaca tulisan saya kali ini. Namun, saya tidak tahan untuk menuliskannya.

 

Anda mempunyai kebebasan untuk membaca tulisan saya, walaupun sebenarnya saya menginginkan Anda untuk tidak membacanya.

 

(lagi…)

Sepertinya saya sudah cukup lama tidak menulis di blog ini. Ya, benar. Saya pun sebenarnya tidak menjadi aktif menulis di tempat lain. Boleh dibilang, saya absen menulis beberapa waktu ini.

Kali ini mungkin saya akan menulis dengan gaya yang cukup ringan. Tidak terlalu serius, tetapi juga tidak selalu bercanda. Walaupun demikian, saya tetap berharap tulisan ini bukan hanya sekedar tulisan yang dibaca dan tidak berarti begitu saja. Saya berharap semoga tulisan ini bisa berguna bagi kita, pelayanan kita, dan tentunya untuk kemuliaan Tuhan.

Baiklah, mungkin sudah terlalu cukup paragraf diatas sebagai pengantar. Mari, saya ajak Anda ke dalam tulisan ini.

(lagi…)

Saya ingin sekedar menambahkan beberapa hal yang sempat terpikir setelah membaca tulisan Saudara Martin di post sebelumnya. Jika tanggapan saya kurang berhubungan dengan tulisan sebelumnya, mohon maaf.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbincang-bincang dengan saudara saya yang berada di Indonesia. Saya waktu itu bertanya kepadanya kira-kira apa yang bisa mengurangi jumlah korupsi di Indonesia.

Saudara saya ini menjawab, bahwa salah satunya adalah dengan sistem yang dirancang sedemikian rupa, sehingga menyulitkan orang untuk melakukan korupsi. Bahkan bukan hanya korupsi, tapi juga beberapa kebiasaan buruk lainnya.

Jika setiap akun bank yang dimiliki oleh seorang pegawai, dapat dideteksi oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Maka orang enggan mengirimkan hasil uang korupsi melalui bank. Seperti ini contohnya, misal saya adalah seorang pegawai. Saya baru saja menerima sogokan sejumlah uang dan hendak dikirimkan ke akun bank saya. Tapi karena jumlah itu besar sekali, maka setiap uang yang masuk ke akun saya, yang jumlahnya melebiji batas “kecurigaan” yang telah didefinisikan oleh lembaga semacam KPK dsb, maka saya bisa diperiksa. Setidaknya hal ini dapat mengurangi jumlah korupsi. Walaupun saya sadar, bahwa dalam pelaksanaan tidak akan sesederhana ini.

Contoh lain adalah dengan menggaji pegawai sesuai dengan tingkat kesulitan kerjanya. Tidak sedikit korupsi dan penyimpangan-penyimpangan terjadi karena gaji yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, padahal ia telah bekerja dan seharusnya gajinya lebih dari itu. Ujung-ujungnya pegawai tersebut melakukan korupsi.

Banyak juga orang yang tidak professional di pekerjaannya, karena lebih sibuk mengurus bisnis sampingannya. Kenapa mengurus bisnis sampingannya? Ya mungkin karena gaji yang diperoleh dari tempat kerja yang sebenarnya kurang mencukupi. Sehingga tidak jarang pekerjaan di tempat semula jadi acak-acakan.

Ada pengalaman lain mengenai hal pembajakan. Apapun bentuknya. Bisa berupa software, kaset, buku, dan sebagainya. Saya pun dulu sering sekali menggunakan barang bajakan. Baik itu berupa software, film dan buku. Tapi perlahan-lahan saya kurangi. Mencari alternatif lain yang tidak memerlukan membajak.

Seorang teman pernah berkata, agar kita tidak membajak, dengan alasan jika nanti suatu saat, barang kita dibajak (bisa berupa software buatan kita, ato buku hasil tulisan kita atau apaun itu), apakah kita juga senang dengan hal itu?

Memang benar, hal diatas, seperti pencegahan korupsi dengan sistem, penggajian sesuai beban kerja, dan tidak membajak supaya tidak dibajak gantian, adalah langkah awal yang terlihat itu baik. Hasilnya kejahatan korupsi dan pembajakan itu dapat dihindari.

Tapi apakah hanya sampai disana?

Tidak. Menurut saya, alasan tidak korupsi karena sistemnya tidak memungkinkan bagi kita untuk korupsi, tidak korupsi karena kita sudah digaji dengan layak, tidak membajak karena kita takut dibajak, merupakan alasan yang kurang tepat, terutama bagi saya, dan semoga Anda juga.

Kenapa kita tidak berkata, kita tidak melakukan korupsi, tidak membajak, karena iman kita menjadikan kita secara sadar untuk tidak melakukan hal-hal tersebut? Bukan karena takut dibajak. Bukan karena takut ketahuan KPK. Tapi karena kita memang tidak mau melakukan hal itu. Karena kita tahu hal itu tidak benar dan tidak boleh kita lakukan.  

Kita sering menjadikan kita seakan-akan benar, karena tidak melakukan suatu kesalahan. Tapi kadang kita tidak merenungkan kenapa kita tidak melakukan hal itu. Alasan apa yang mendasari kita tidak melakukan itu, perlu kita gali lebih jauh.

Orang yang hidup karena iman, perbuatan baik akan ada dalam dirinya. Namun, orang yang berbuat baik, belum tentu dia berbuat baik karena imannya.

Amin.

Iseng-iseng cari generator logo di internet. (lebih tepatnya, karena tidak bisa membuat sendiri =)

logoteoblogi.jpg
dari logoblog.org dan diedit menggunakan MS Paint

Jika Anda hendak menampilkan logo blog ini pada sidebar blog Anda, silakan copy dan paste kode di bawah ini.

<a href="http://teoblogi.wordpress.com" target="_blank" ><img border="none" width="200" height="44" src="http://teoblogi.files.wordpress.com/2007/07/logoteoblogi.jpg"></a>

Anda boleh mengubah nilai width dan height disesuaikan dengan panjang dan lebar sidebar Anda. Akan tetapi mohon diperhatikan proporsi perbandingan panjang dan lebarnya, sehingga akan tetap terlihat proporsional.

Saya ingin berbagi mengenai apa yang saya alami beberapa waktu ini. Ini adalah pengalaman pribadi saya, bagaimana Tuhan mendidik saya melalui cara yang mungkin berbeda dengan Anda.

Masa-masa ini adalah masa liburan di universitas saya. Liburnya sekitar 13 minggu, ya sekitar 3 bulan. Namun, saya tidak pulang ke kampung halaman, karena saya harus tinggal di sini untuk mengerjakan project yang hukumnya wajib bagi setiap mahasiswa teknik elektro tahun ke-2 yang beranjak ke tahun ke-3. Project itu memakan waktu sekitar 5 minggu. Lalu setelah itu, saya ada waktu senggang sekitar 1 minggu.

Setelah selesai project, saya mengikuti program semester pendek. Semester pendek ini memakan waktu sekitar 5 minggu juga. Jika termasuk ujian, jadi sekitar 6 minggu. Total waktu yang saya pakai sekitar 12 minggu.

Menjalani hidup di perantauan, maka hal yang sangat krusial adalah uang. Ya, saya tidak mempunyai cukup uang untuk dapat bertahan hidup di masa liburan. Jika tidak ada project dan semester pendek, maka uang saya (Study Loan) yang berasal dari pinjaman salah satu bank di Singapura, cukup untuk biaya hidup. Hal ini sudah saya pikirkan matang-matang. Berbagai kalkulasi dan perhitungan pun saya lakukan untuk memperkirakan sampai dimana saya dapat bertahan hidup dengan uang yang terbatas.

Saya putuskan waktu itu, untuk meminta uang kepada kakak saya di Indonesia, untuk biaya hidup saya selama project dan semester pendek. Waktu itu sudah saya perkirakan akan cukup. Saya pun sudah berusaha mencari kerja sampingan untuk menambah uang sebagai penyokong biaya hidup. Namun, entah kenapa saya selalu tidak mendapat kesempatan itu. Pasti ada saja alasannya.

Hal yang tidak diduga-pun terjadi. Saya jatuh sakit. Deman saya sangat tinggi. Ketika saya periksa ke dokter, dari gejala-gejala yang terjadi, dokter menduga saya terkena demam berdarah. Setelah dilakukan tes darah, ternyata saya tidak terkena demam berdarah. Hanya demam biasa. Hal tidak diduga yang lain, terjadi juga. Dari hasil tes darah, dokter menyatakan saya terkena infeksi paru-paru. Saya harus minum obat lagi untuk mengobati infeksi paru-paru disamping minum obat untuk demam saya.

Mulai dari biaya obat, dan biaya tes darah pun menambah daftar pengeluaran uang saya. Tidak bisa ditunda-tunda lagi. Jika mungkin saya bisa menunda membeli sebuah buku, tapi saya tidak bisa menunda membayar uang obat dan tes darah.

Pengeluaran lain yang berhubungan dengan sakit pun masih ada. Saya biasanya makan sehari 2 kali. Namun, karena saya sakit dan harus minum obat sehabis makan, maka saya pun tidak bisa menunda makan 3 kali sehari. Untuk deman, saya hanya minum obat sampai demam saya benar-benar sembuh, tapi untuk infeksi paru-paru, saya harus minum obat sekitar selama 3 minggu.

Tanpa disadari, keuangan sudah pada ambang batasnya. Saya tidak punya pemasukan lain, dan saya juga tidak tega jika saya harus meminta uang dari rumah lagi. Saya merasa tidak bijaksana jika saya meminta dan meminta uang dari rumah. Karena saya tau, kondisi ekonomi di rumah juga masih dalam tahap pemulihan. Dan memang saya sewajarnya tidak banyak membebani mereka, karena saya selayaknya sudah dicukupkan dengan uang pinjaman itu.

Hari ini, uang saya tinggal sekitar SG $ 5. Saya pakai untuk makan pagi (jam 3 sore) sekitar $1.8 dengan membeli sepiring chicken rice. Semalam saya sudah berdoa, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya mencoba mencari pinjaman uang dari teman. Namun, teman yang biasa meminjami saya uang, dia sedang berada di Indonesia. Sebenarnya saya merasa berat hati untuk meminjam uang. Bukan karena malu, tapi karena saya tidak ingin membebani dan merepotkan teman terlalu sering.

Akhirnya saya memutuskan untuk meminjam uang pada salah seorang teman yang masih berada di Singapura. Sebelum meminta bantuannya, saya mendoakannya dahulu. Dalam doa saya, saya meminta kepada Tuhan, kira-kira seperti ini,

Ya Tuhan, saya tidak tau apa yang sebaiknya saya lakukan, tapi saya kepikiran untuk meminjam uang kepada si A. Jika Engkau berkenan saya meminjam uang darinya, pakailah dia menjadi sarana dalam membantuku, tapi jika Engkau berkehendak lain, tunjukkanlah apa yang sebaiknya saya lakukan.

Doa ini saya ucapkan setelah saya selesai makan chicken rice dan menjelang saya masuk kelas bahasa Jepang program semester pendek ini.

Dalam perjalanan ke kelas, saya melewati mesin ATM. Saya ingat, saldo terakhir bulan lalu adalah $6. Dan tidak mungkin akan bertambah, karena ini belum masa uang pinjaman dari bank dicairkan. Tapi karena tidak ada antrian di mesin ATM, saya iseng-iseng memasukkan kartu ATM. Memasukkan nomer pin dan melihat saldo akun saya.

Ya, masih $6. Belum berubah. Itu kalimat yang ada di pikiran saya.

Tapi, sebentar. Kenapa ada angka 6 dibelakang angka 6? Saya lihat kembali. Ternyata saldo saat itu $66. Saya kaget. Darimana uang ini berasal. Seketika saya teringat bahwa, saya pernah dikirimi email bahwa itu uang biaya asrama yang dikembalikan karena saya keluar dari asrama sebelum waktu yang ditentukan. Thanks God, seketika saya berteriak dalam hati. Jadi masih ada uang sekitar $50. Karena pecahan terkecil di mesin ATM adalah $50.

Saya tertawa dan terseyum, mengingat betapa kalutnya saya ketika sudah tidak ada uang. Dan betapa saya merasa tidak enak untuk merepotkan teman maupun keluarga.

Didikan Tuhan itu sempurna. Melalui cara dan kejadian yang mungkin tidak kita pahami dan kita duga. Namun satu yang pasti bahwa, Tuhan itu mendidik kita, bukan mempermainkan kita.

Tuhan mendidik saya, sehingga saya bisa sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Tidak lagi megandalkan diri sendiri. Bukan kemewahan yang Tuhan berikan, bukan sesuatu yang serba berlimpah ruah dalam hidup saya. Tapi segala sesuatu yang mendidik saya, yang Tuhan berikan kepada saya.

Setidaknya saya masih punya waktu 2 minggu-an lagi, sebelum saya benar-benar harus merepotkan teman dan keluarga. Dan mungkin hal lain akan terjadi, yang tentunya tetap mendidik saya, untuk mejadi lebih setia dan bersandar pada Tuhan.

 

Salam.

  1. Karena saya JOMBLO suka ngeblog.

  2. Karena belum banyak blog dengan konsep seperti JOMBLO Teoblogi ini.

  3. Karena saya ingin teman-teman saya JOMBLO ngeblog juga.

  4. Karena saya ingin belajar JOMBLO bersama teman-teman melalui blog ini.

  5. Karena saya ingin tulisan saya dibaca orang JOMBLO.

  6. Karena (katanya) : “ngeBlog dong, biar ga JOMBLO goBlog”. saya sendiri juga lupa siapa yang bilang mengenai hal ini.

  7. Karena siapa tau, saya mendapatkan komunitas JOMBLO baru di Teoblogi ini.

  8. Karena saya ingin tetap menulis dalam bahasa JOMBLO Indonesia.

  9. Karena siapa tau, saya tidak lagi menjadi JOMBLO seseorang yang tidak produktif.

  10. Alasan sebenarnya : Karena saya ingin memberi warna di Teoblogi. Yang nomer 1 sampai dengan 9 itu cuma bercanda.

Maaf, judul diatas seharusnya : Alasan yang sebenarnya kenapa saya ngeTeoblogi.

Pada hari minggu, seorang anak kecil keluar dari gereja. Ternyata dia baru selesai sekolah minggu. Seorang pemuda, yang kebetulan sedang berada di sekitar gereja, menghampiri anak kecil itu.

“Tadi di sekolah minggu, apa yang diajarkan oleh kakak pengasuh?”, tanya pemuda tersebut.

“Kakak pengasuh bercerita tentang Nabi Musa yang berhasil membelah dan menyeberang Laut Merah yang dalam.”, jawah si anak kecil.

“Cerita sebenarnya tidak seperti itu. Itu bukan laut yang dalam, tapi airnya cuma sebatas mata kaki, makanya Nabi Musa bisa melewatinya.”, sahut si pemuda.

“Wah, ternyata Raja Firaun lebih payah, dia dan pasukannya tewas di air setinggi mata kaki saat mengejar Nabi Musa.” jawab si anak kecil.

Pesan dari cerita : Kadang anak kecil lebih mempercayai secara tulus apa yang tertulis di alkitab.