Saya ingin berbagi mengenai apa yang saya alami beberapa waktu ini. Ini adalah pengalaman pribadi saya, bagaimana Tuhan mendidik saya melalui cara yang mungkin berbeda dengan Anda.
Masa-masa ini adalah masa liburan di universitas saya. Liburnya sekitar 13 minggu, ya sekitar 3 bulan. Namun, saya tidak pulang ke kampung halaman, karena saya harus tinggal di sini untuk mengerjakan project yang hukumnya wajib bagi setiap mahasiswa teknik elektro tahun ke-2 yang beranjak ke tahun ke-3. Project itu memakan waktu sekitar 5 minggu. Lalu setelah itu, saya ada waktu senggang sekitar 1 minggu.
Setelah selesai project, saya mengikuti program semester pendek. Semester pendek ini memakan waktu sekitar 5 minggu juga. Jika termasuk ujian, jadi sekitar 6 minggu. Total waktu yang saya pakai sekitar 12 minggu.
Menjalani hidup di perantauan, maka hal yang sangat krusial adalah uang. Ya, saya tidak mempunyai cukup uang untuk dapat bertahan hidup di masa liburan. Jika tidak ada project dan semester pendek, maka uang saya (Study Loan) yang berasal dari pinjaman salah satu bank di Singapura, cukup untuk biaya hidup. Hal ini sudah saya pikirkan matang-matang. Berbagai kalkulasi dan perhitungan pun saya lakukan untuk memperkirakan sampai dimana saya dapat bertahan hidup dengan uang yang terbatas.
Saya putuskan waktu itu, untuk meminta uang kepada kakak saya di Indonesia, untuk biaya hidup saya selama project dan semester pendek. Waktu itu sudah saya perkirakan akan cukup. Saya pun sudah berusaha mencari kerja sampingan untuk menambah uang sebagai penyokong biaya hidup. Namun, entah kenapa saya selalu tidak mendapat kesempatan itu. Pasti ada saja alasannya.
Hal yang tidak diduga-pun terjadi. Saya jatuh sakit. Deman saya sangat tinggi. Ketika saya periksa ke dokter, dari gejala-gejala yang terjadi, dokter menduga saya terkena demam berdarah. Setelah dilakukan tes darah, ternyata saya tidak terkena demam berdarah. Hanya demam biasa. Hal tidak diduga yang lain, terjadi juga. Dari hasil tes darah, dokter menyatakan saya terkena infeksi paru-paru. Saya harus minum obat lagi untuk mengobati infeksi paru-paru disamping minum obat untuk demam saya.
Mulai dari biaya obat, dan biaya tes darah pun menambah daftar pengeluaran uang saya. Tidak bisa ditunda-tunda lagi. Jika mungkin saya bisa menunda membeli sebuah buku, tapi saya tidak bisa menunda membayar uang obat dan tes darah.
Pengeluaran lain yang berhubungan dengan sakit pun masih ada. Saya biasanya makan sehari 2 kali. Namun, karena saya sakit dan harus minum obat sehabis makan, maka saya pun tidak bisa menunda makan 3 kali sehari. Untuk deman, saya hanya minum obat sampai demam saya benar-benar sembuh, tapi untuk infeksi paru-paru, saya harus minum obat sekitar selama 3 minggu.
Tanpa disadari, keuangan sudah pada ambang batasnya. Saya tidak punya pemasukan lain, dan saya juga tidak tega jika saya harus meminta uang dari rumah lagi. Saya merasa tidak bijaksana jika saya meminta dan meminta uang dari rumah. Karena saya tau, kondisi ekonomi di rumah juga masih dalam tahap pemulihan. Dan memang saya sewajarnya tidak banyak membebani mereka, karena saya selayaknya sudah dicukupkan dengan uang pinjaman itu.
Hari ini, uang saya tinggal sekitar SG $ 5. Saya pakai untuk makan pagi (jam 3 sore) sekitar $1.8 dengan membeli sepiring chicken rice. Semalam saya sudah berdoa, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya mencoba mencari pinjaman uang dari teman. Namun, teman yang biasa meminjami saya uang, dia sedang berada di Indonesia. Sebenarnya saya merasa berat hati untuk meminjam uang. Bukan karena malu, tapi karena saya tidak ingin membebani dan merepotkan teman terlalu sering.
Akhirnya saya memutuskan untuk meminjam uang pada salah seorang teman yang masih berada di Singapura. Sebelum meminta bantuannya, saya mendoakannya dahulu. Dalam doa saya, saya meminta kepada Tuhan, kira-kira seperti ini,
Ya Tuhan, saya tidak tau apa yang sebaiknya saya lakukan, tapi saya kepikiran untuk meminjam uang kepada si A. Jika Engkau berkenan saya meminjam uang darinya, pakailah dia menjadi sarana dalam membantuku, tapi jika Engkau berkehendak lain, tunjukkanlah apa yang sebaiknya saya lakukan.
Doa ini saya ucapkan setelah saya selesai makan chicken rice dan menjelang saya masuk kelas bahasa Jepang program semester pendek ini.
Dalam perjalanan ke kelas, saya melewati mesin ATM. Saya ingat, saldo terakhir bulan lalu adalah $6. Dan tidak mungkin akan bertambah, karena ini belum masa uang pinjaman dari bank dicairkan. Tapi karena tidak ada antrian di mesin ATM, saya iseng-iseng memasukkan kartu ATM. Memasukkan nomer pin dan melihat saldo akun saya.
Ya, masih $6. Belum berubah. Itu kalimat yang ada di pikiran saya.
Tapi, sebentar. Kenapa ada angka 6 dibelakang angka 6? Saya lihat kembali. Ternyata saldo saat itu $66. Saya kaget. Darimana uang ini berasal. Seketika saya teringat bahwa, saya pernah dikirimi email bahwa itu uang biaya asrama yang dikembalikan karena saya keluar dari asrama sebelum waktu yang ditentukan. Thanks God, seketika saya berteriak dalam hati. Jadi masih ada uang sekitar $50. Karena pecahan terkecil di mesin ATM adalah $50.
Saya tertawa dan terseyum, mengingat betapa kalutnya saya ketika sudah tidak ada uang. Dan betapa saya merasa tidak enak untuk merepotkan teman maupun keluarga.
Didikan Tuhan itu sempurna. Melalui cara dan kejadian yang mungkin tidak kita pahami dan kita duga. Namun satu yang pasti bahwa, Tuhan itu mendidik kita, bukan mempermainkan kita.
Tuhan mendidik saya, sehingga saya bisa sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Tidak lagi megandalkan diri sendiri. Bukan kemewahan yang Tuhan berikan, bukan sesuatu yang serba berlimpah ruah dalam hidup saya. Tapi segala sesuatu yang mendidik saya, yang Tuhan berikan kepada saya.
Setidaknya saya masih punya waktu 2 minggu-an lagi, sebelum saya benar-benar harus merepotkan teman dan keluarga. Dan mungkin hal lain akan terjadi, yang tentunya tetap mendidik saya, untuk mejadi lebih setia dan bersandar pada Tuhan.
Salam.