Renungan


1 Samuel 8, bangsa israel menginginkan raja untuk memerintah mereka, ingin meniru bangsa-bangsa lain disekitarnya. Allah tidak suka dengan sifat dan motivasi mereka, namun demikian, Allah tetap mengijinkan permohonan itu terjadi (adanya raja di israel, bagian dari rencana penebusan).

Saat permohonan kita tidak terwujud, hal ini sebenarnya mempermudah kita untuk berserah kepada Tuhan.

Saat permohonan kita terwujud, kita harus berhati-hati untuk tidak serta-merta mengasumsikan “wah, kehendak saya sudah sama dengan kehendak Allah”. Bisa saja Allah mengijinkan hal itu terjadi untuk hal lain yang baik, namun Ia sama sekali tidak setuju dengan maksud hati kita.
(dari renungan mezbah doa)

Prerogatif Allah,

Ketidakberdayaan manusia.

Jangan ku meninggi,

Ya Allah.

Dan inipun datangnya dari TUHAN semesta alam;
Ia ajaib dalam keputusan
dan agung dalam kebijiaksanaan. (Yes 28.29)

Inipun =

membajak,

mencangkul,

menyisir tanah,

menabur,

mengirik,

dst. (28.25 ff)

.

Inipun datangnya dari Tuhan.

hikmat dalam rutinitas hidup,

hikmat dalam kesederhanaan.

Di pelbagai cerita fantasi (komik doraemon, film enchanted, etc.), sering dikisahkan bahwa saat orang di masa lalu melihat televisi, mereka melihat kotak ajaib yang dimana terdapat orang di dalamnya.

Saat kita melihat televisi, apa yang kita lihat? kumpulan transistor, gelombang pemancar, program stasiun berita. Pengetahuan kita memberi kita banyak presuposisi tentang apa yang kita lihat. Fiksi dan fakta tersaru dalam diode, Pikir dan pakar terlupakan. Di kotak itu, nyawa terlihat seperti angka; di kotak itu aktor menjadi nabi.

Dunia televisi, dunia yang dapat kita panggil sesuka hati, apakah kita terpanggil oleh tangis yang disiarkan?
yang dapat kita bunuh sesuka hati, apakah kita membunuh hati yang disiarkan?

Kapan kita bisa sedikit lebih naif,
sedikit lagi lebih purba,

untuk melihat manusia sesungguhnya di balik layar kaca?
melihat nyawa di balik angka?

———-

Duncan,

yang baru saja melihat kumpulan transistor di bus, dan gagal melihat Jaipur.

Workshop ISCF, IBS Kitab Wahyu, kegiatan iscf terakhir dalam fase ini. Melihat isu-isu dalam jemaat Efesus yang mendapat teguran melalui surat. Keesokan harinya, mencoba melihat isu-isu keenam jemaat yang lain. Masukan sangat ditunggu di comment.

1. Church in Ephesus
Memiliki pengajaran dan kegiatan yang kuat, tetapi terdapat eksklusivitas yang tidak memiliki kasih. Surat dikirim oleh yang memegang ketujuh bintang dan berjalan diantara ketujuh kaki dian; oleh Dia yang memegang kuasa atas kepala jemaat, jemaat dan berada beserta mereka, seakan berkata “ini gereja-Ku, dimana kasih-Ku kau letakkan?”

2. Church in Smyrna
Mendapati cobaan yang berat, dimana jemaatnya lambat laun akan dicobai dan mungkin menghadapi kematian. Surat dikirim oleh yang pertama dan terakhir; oleh Dia yang telah mati dan bangkit, seakan berkata “kalau kau bersama-Ku, kau pun akan bangkit dari kematian seperti yang telah Kutunjukkan”

3. Church in Pergamum
Meskipun tetap berpegang kepada iman, tapi jemaat ini terbawa oleh ketidaktaatan yang berasal dari arus pengajaran yang tidak sehat dari pengaruh luar. Surat dikirim oleh Dia yang empunya pedang bermata dua; seakan berkata “keadilan akan dijaga dengan pedang, dan ketidaktaatanmu akan menghadapi pedang”

4. Church in Thyatira
Meskipun melayani dalam kesabaran dan kasih, tetapi dalam jemaat sendiri ada pengajar palsu yang mengajar ketidaktaatan kepada Allah. Surat dikirim oleh Dia yang bermata seperti api, dan kakinya seperti tembaga, seakan berkata “bisa Kulihat dirimu dan ketidaktaatanmu sampai ke dalam-dalam, hanya yang berdiri bersama-Ku saja yang akan tetap teguh”

5. Church in Sardis
Dikritik karena tidak bersemangat, dan malas. Jemaat yang biasa-biasa saja, tidak sampai sesat karena memang mungkin tidak cukup berpikir. Surat dikirim oleh Dia yang memiliki tujuh roh dan tujuh bintang; seakan berkata “ini roh yang daripada-Ku, di mana roh dan semangatmu?”

6. Church in Philadelphia
Jemaat yang terkata kecil kekuatannya, namun dijanjikan kekuatan oleh Allah, dan mereka setia terhadap misi-Nya. Surat dikirim oleh dia yang Kudus, yang Benar, yang memegang kunci Daud; seakan berkata “sekecil apapun engkau, jika pintu telah Kubuka tak akan ada yang bisa menutup, dan jika telah Kututup tak akan ada yang bisa membuka, manfaatkanlah kairos ini.”

7. Church in Laodicea
Mendapat teguran yang paling keras, karena mereka “suam-suam kuku” atau mungkin acuh tak acuh terhadap kebenaran yang dari Allah. Surat dikirim oleh Amin, saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan, Dia yang seakan berkata “ini Aku, kegenapan akan kebenaran dan janji Allah. Masihkah kau acuh tak acuh terhadap-Ku?”

Pertanyaan-pernyataan di atas bukanlah Firman Tuhan, tetapi saat saya menempatkan diri sebagai pembaca dengan keterbatasan pengetahuan terhadap konteks jaman dulu, itu pertanyaan dan pernyataan yang terngiang saat membaca kop surat bertajuk “From:..”, seakan-akan ditanyakan kepada gereja. Akan isu-isu yang saya rasa masih sangat relevan bagi gereja segala abad dan tempat (termasuk masa kini).

Dapatkah kita berkata; “ini aku Tuhan, milik-Mu, bagian jemaat-Mu dan gereja-Mu yang telah setia.”?

Make me a captive, Lord,

      And then I shall be free;

Force me to render up my sword,

      And I shall conqueror be.

I sink in life’s alarms

      When by myself I stand;

Imprison me within Thine arms,

      And strong shall be my hand.

 

Quotation yang bagus dari George Matheson. Penggambaran yang indah mengenai paradox kebebasan dan ketaatan. Suatu pembahasan yang sudah sangat ama sering diucapkan, namun sangat susah untuk dilakukan.

Ketika masalah timbul, dan kita mencoba menyelesaikannya. Mengusahakan segala cara, hanya untuk kecewa di kemudian hari. Putus asa, hancur hati dan menyerah. Seakan tidak ada hal lain yang dapat kita andalkan untuk keluar dari masalah itu. Seakan Tuhan diam dan tidak ikut campur. Ketika kemudian kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan dan menyerahkan semuanya, barulah Tuhan bekerja.

Berapa kali kita berada dalam situasi demikian? Ketika kita merasa kita bisa melakukan sesuatu, Tuhan mengijinkan kita melakukannya dengan kekuatan sendiri. Barulah ketika kita menyerah total, Tuhan baru bekerja.

Posting ini didedikasikan untuk mereka yang sedang mengalami persimpangan di kehidupan mereka. Mereka yang terus berjuang mencari kehendak Tuhan dalam diri mereka, karena mereka hanya ingin menyenangkan hati-Nya. Biarlah bisa menjadi sebuah pengingat bagi mereka.

kitab yesaya 1-11 bercerita tentang yehuda yang akan diserang asyur dan israel (utara), yang ditutup dengan sebuah pengharapan bahwa akan muncul suatu tunas dari tunggul isai yang akan menghakimi dan menyelamatkan mereka.

kesebelas pasal ini ditutup dengan sebuah pasal, yesaya 12, sebagai sebuah respon terhadap keselamatan yang Tuhan sudah berikan. (dalam hal ini, keselamatan dari musuh-musuh, untuk menunjukkan bahwa kata ini memiliki arti yang luas dan dalam)

responnya begini:

pada waktu itu engkau akan berkata:

“Aku mau bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN,
karena sungguhpun Engkau telah murka terhadap aku:
tetapi murka-Mu telah surut dan Engkau menghibur aku.

Sungguh, Allah itu keselamatanku;
aku percaya dengan tidak gementar,
sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku,
Ia telah menjadi keselamatanku.”

maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.

pada waktu itu kamu akan berkata:

“Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya,
beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa,
masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur!

Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia;
baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi!
Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion,
sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!”

bersyukur dan beritahu. cukup sederhana, ya? ;)

Where there is no prophetic vision the people cast off restraint,
but blessed is he who keeps the law.
(Pro 29:18)

Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.
Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.
(Ams 29:18)

Pekerjaan saya sekarang mengharuskan saya untuk pergi ke National Cancer Centre (NCC) seminggu sekali dan ke Nanyang Technological University (NTU) di empat hari lainnya. Dan lingkungan kerja di dua tempat ini berbeda jauh. Di NTU, saya ditempatkan di sebuah lab dengan etos kerja yang cukup rendah. Mahasiswa PhD di lab ini seperti tidak terlihat keseriusannya dalam mengerjakan atau memikirkan tesisnya. Dan ini berpengaruh kepada saya. Sulit sekali menemukan motivasi ketika saya bekerja di NTU di tengah lingkungan yang sulit seperti ini.

Sebaliknya, di NCC (saya ditempatkan di bagian Oncologic Imaging – CT, MRI, X-ray, Ultrasound, PET, etc.), tampaknya semua orang mengerjakan tugasnya dengan bertanggung jawab. Walau, tentunya, memang ada dua latar belakang terhadap hal ini. Pertama, karena tuntutan pekerjaan, dalam arti kedatangan pasien yang seperti tidak habis-habisnya memang mengharuskan kita untuk menjalankan tugas kita. Jika kita bermalas-malasan, pastilah pekerjaan kita akan tidak selesai.

Kedua, karena memang kita dengan segenap hati mengerjakan tugas kita. Untuk ini pun masih ada dua sisi yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan, namun dapat dibedakan. Yaitu, untuk sedapat mungkin mengerjakan bagian masing-masing dalam pelayanan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan, dalam hal ini, orang-orang yang sakit kanker dan ingin mengetahui perkembangan terapi mereka (diagnosis) maupun yang ingin mendeteksi apakah ada tumor di dalam tubuh mereka (prognosis). Dan, tentunya, untuk bekerja segenap hati untuk Tuhan. Ya, bekerja bagi manusia dan bagi Tuhan. Pro Deo et homo.

Sayangnya, saya masih belum berbuat apapun dengan segenap hati seperti untuk Tuhan. At best, saya bekerja dengan segenap hati sebagai bentuk kasih terhadap sesama saja. Tiap kali saya ke NCC, hati saya selalu trenyuh melihat kondisi pasien-pasien di sana. Dan itu yang selalu mendorong saya untuk mengerjakan tugas saya dengan baik. Dengan doa dan harapan bahwa riset dan pekerjaan saya suatu hari dapat meningkatkan kualitas terapi kanker. Dan, puji Tuhan, setiap kali saya ke NCC saya akan kembali lagi ke NTU dengan lebih bertanggung jawab. Sebelum pada akhirnya harus berjuang lagi dan melawan suasana ‘kemalasan’ di lab saya. Menurut terminologi teknik kontrol, pergi ke NCC adalah bentuk kontrol terhadap pekerjaan saya untuk mencegah ‘ketidakstabilan’ yang akan mungkin terjadi jika saya tidak dikontrol. (walau hal sebaliknya sangat mungkin terjadi: saya mengekspor kemalasan dari NTU ke NCC! Lord forbid!) Dan itu kondisi at best.

At worst, saya bekerja masih karena tuntutan pekerjaan. Dalam bahasa saya, sungguh mustahil untuk bermalas-malasan ketika saya melihat bagaimana rekan-rekan yang lain bekerja dengan setia! Dan, sungguh mustahil pula untuk bermalas-malasan ketika melihat pasien-pasien itu.

Ayat yang saya kutip di atas merupakan ayat saat teduh saya beberapa minggu yang lalu yang merefleksikan kondisi saya sekarang. Ketika tidak ada ‘prophetic vision’, menjadi liarlah rakyat. Ketika saya melupakan bagaimana kondisi di NCC, menjadi liarlah saya. Namun, lebih baik lagi, berbahagialah orang yang berpegang pada hukum dan tidak perlu menunggu ‘prophetic vision.’ Ketimbang bekerja dengan ‘kontrol’, adalah lebih baik untuk bekerja dengan segenap hati. Dengan berpegang pada hukum. Hukum kasih. Kasihilah Tuhan Allahmu, kasihilah sesamamu manusia. Bekerja sebagai bentuk kasih terhadap Tuhan dan sesama. Tuhan tolong saya. Amin.

Seperti orang gila menembakkan panah api, panah dan maut,demikianlah orang yang memperdaya sesamanya dan berkata : “aku hanya bersenda gurau.” (Amsal 26 : 18-19)

Seberapa banyak dari kita yang berpikir sebelum kita bercanda (bersenda gurau)? Di sebuah film, saya melihat tentang salah satu bagian cerita dimana seseorang berkata kepada temannya bahwa rumahnya kebakaran. Temannya itupun menjadi panik dan segera berlari ke rumahnya. Ternyata dia mendapati bahwa rumahnya masih utuh dan baik-baik saja. Kontan teman ini kembali dengan marah-marah. Namun dengan santainya, orang tadi berkata bahwa ia hanya bercanda saja. Mungkin saat kita menonton film ini, kita akan tertawa karena melihat temannya yang berlari panik dan akhirnya mendapati dia sedang dibohongi.

Mari kita pertimbangkan kasus seperti ini. Seandainya temannya adalah orang yang sakit jantung. Begitu dikatakan bahwa rumahnya kebakaran, orang ini langsung terkena serangan jantung dan meninggal. Padahal, maksud awal dari orang itu hanya ingin bercanda, namun  malah mengakibatkan kematian.

Mungkin tidak semua kasus seperti ini, tapi “kematian-kematian” lain mungkin terjadi. Tak salah jika dikatakan “lidah bagaikan pedang”. Pertimbangkanlah, apakah saat kita bercanda, kita malah mungkin sedang menusukkan pedang tersebut ke dalam hati teman kita?

Berawal dari sebuah percakapan santai dengan dua orang teman sebelum pergi untuk brunch, saya diingatkan oleh sebuah quote dari nickname MSN teman saya. Bunyinya begini:

“Early birds get the worms” – “Early worms get eaten by the birds”

yang bisa diterjemahkan menjadi

“Burung-burung yang bangun awal mendapatkan cacing-cacing” – “Cacing-cacing yang bangun awal dimakan oleh burung-burung”

 dan menurut teman saya ini (kalau tidak salah), moral cerita ini adalah

“once you’re a worm you will always be a worm” - and get eaten by the birds.

yang kira-kira bisa diterjemahkan menjadi

“Sekali cacing tetaplah cacing” – dimakan oleh burung-burung.

Yah, memang tidak sepenuhnya salah juga. Tetapi membuatku jadi berpikir. Kita sebagai manusia, mau menempatkan diri dalam cerita ini sebagai seekor burung ataukah seekor cacing?

Kita-kita yang mengasosiasikan diri dengan para cacing akan berkata,

“Yah, kalau begitu, mau bangun pagi mau bangun siang tidak akan merubah fakta bahwa aku adalah seekor cacing. Dan seekor cacing sudah ditakdirkan untuk dimakan oleh burung-burung. Lebih baik kita bersantai-santai saja setelah puas baru kita bangun dan menunggu dimakan oleh burung-burung di udara”

Sebaliknya, kita yang mengasosiasikan diri dengan para burung akan berkata,

“Mari kita bangun awal dan pergi untuk mencari cacing-cacing itu karena kita memang perlu (baca: terpanggil untuk) makan. Kalau kita menunda-nunda untuk pergi mungkin kita tidak akan bisa dapat makan hari ini – memang sih, ada cacing-cacing yang bermalas-malasan sehingga baru keluar di siang hari tetapi setidaknya sekali mereka keluar bisa langsung kita makan”

Kejadian 1:26,

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, …

Kita diciptakan menurut gambar dan rupaNya, kita jauh lebih berharga dibandingkan burung-burung itu (Matius 6:26). Masakan kita mau menyamakan panggilan yang kita miliki dengan takdir para cacing? Ironisnya, manusia seringkali berusaha menolak panggilan yang ia miliki (Yunus misalnya) dan memilih untuk menyerah pada “takdir” (perhatikan tanda kutip di sini) yg sebenarnya jelas bukan apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita.

Bagaimana dengan anda?

secarik kalimat dari saat teduh;

It is not that God makes us beautifully rounded grapes, but that He squeezes the sweetness out of us. Spiritually, we cannot measure our life by success, but only by what God pours through us, and we cannot measure that at all.

Semoga bisa menguatkan kita yang merasa gagal dan di dalam tekanan =)

Halaman Berikutnya »