.raymond


Seorang teman bercerita tentang kejadian yang baru saja ia alami pada saat ia ke Hong Kong. Pada saat akan masuk ke kereta dalam kota, seorang pencopet mengambil dompetnya dan membawanya (dompetnya) kabur. Singkat kata seorang polisi gendut mengejar pencopet ini (sayang bukan Samo Hung) dan menghilang dari pandangan. Sayangnya juga, tidak seperti di film-film di mana si polisi menggunakan keahlian akrobat khas Jackie Chan berhasil menangkap si pencopet ini, dalam kasus temanku ia tidak berhasil menangkap si pencuri ini.

Cerita temanku ini mengingatkanku bahwa kita bisa melihat banyak kejadian serupa di mana terjadi kejar-kejaran polisi dan pencuri. Tetapi yang ingin aku bicarakan adalah orang-orang alias crowd yang ada di sekitar daerah kejadian. Misalnya kita bisa melihat adegan di mana polisi mengejar pencuri melewati daerah pasar dan ada kereta-kereta buah-buahan yang terbalik dan buah-buahan yg tercecer di mana-mana. Memang mungkin dalam kasus ini si penjual buah tidak punya cukup waktu buat bereaksi apa-apa. Tetapi seringkali kita perhatikan juga bahwa ada orang banyak yang semustinya mengetahui bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi, bahwa ada polisi yg sedang mengejar dan satu-satunya orang yang sedang berlari di depan polisi adalah seorang yg kemungkinan besar adalah orang yang polisi ini kejar. Dan sepertinya, orang-orang ini punya cukup waktu buat bereaksi. Entah itu menahan si pencuri supaya tidak terus lari, ataukah…… menghindar?

Mencoba berhipotesa sedikit, apakah kira-kira yang ada di pikiran orang-orang itu? Apakah…

“gak boleh kepo ah.. itu kan urusan mereka…”

“huh huh? Ini orang yang lagi lari ini buronan polisi? Berarti semustinya aku bantu polisi itu donk? Eh… tapi kalo ternyata dia cuman lagi lari aja dan bukan buronan gimana? Malu atuh…”

“jangan maen sok jagoan ah.. ntar kenapa-napa repot”

“Ah ada juga orang yang lain bisa bantuin. Kenapa harus aku?”

“gerak enggak gerak enggak gerak enggak gerak enggak (100x)…. …. …..”

“huh? apa?”

“…”

dan lain-lain.

Entah apa yang mereka pikirkan. Dan aku sendiri mungkin masih bergumul apakah kalau aku ada dalam posisi salah satu orang itu, aku akan bertindak dengan benar? – entah apakah “tindakan yang benar itu”.

Bagaimana dengan anda? Kalau anda sedang berada di suatu jalan, lalu seorang polisi sedang mengejar seorang lelaki yang sedang berlari-lari membawa sebuah benda yang kelihatannya seperti dompet dan melaju ke arah anda? Apa yang akan anda lakukan?

Berawal dari sebuah percakapan santai dengan dua orang teman sebelum pergi untuk brunch, saya diingatkan oleh sebuah quote dari nickname MSN teman saya. Bunyinya begini:

“Early birds get the worms” – “Early worms get eaten by the birds”

yang bisa diterjemahkan menjadi

“Burung-burung yang bangun awal mendapatkan cacing-cacing” – “Cacing-cacing yang bangun awal dimakan oleh burung-burung”

 dan menurut teman saya ini (kalau tidak salah), moral cerita ini adalah

“once you’re a worm you will always be a worm” - and get eaten by the birds.

yang kira-kira bisa diterjemahkan menjadi

“Sekali cacing tetaplah cacing” – dimakan oleh burung-burung.

Yah, memang tidak sepenuhnya salah juga. Tetapi membuatku jadi berpikir. Kita sebagai manusia, mau menempatkan diri dalam cerita ini sebagai seekor burung ataukah seekor cacing?

Kita-kita yang mengasosiasikan diri dengan para cacing akan berkata,

“Yah, kalau begitu, mau bangun pagi mau bangun siang tidak akan merubah fakta bahwa aku adalah seekor cacing. Dan seekor cacing sudah ditakdirkan untuk dimakan oleh burung-burung. Lebih baik kita bersantai-santai saja setelah puas baru kita bangun dan menunggu dimakan oleh burung-burung di udara”

Sebaliknya, kita yang mengasosiasikan diri dengan para burung akan berkata,

“Mari kita bangun awal dan pergi untuk mencari cacing-cacing itu karena kita memang perlu (baca: terpanggil untuk) makan. Kalau kita menunda-nunda untuk pergi mungkin kita tidak akan bisa dapat makan hari ini – memang sih, ada cacing-cacing yang bermalas-malasan sehingga baru keluar di siang hari tetapi setidaknya sekali mereka keluar bisa langsung kita makan”

Kejadian 1:26,

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, …

Kita diciptakan menurut gambar dan rupaNya, kita jauh lebih berharga dibandingkan burung-burung itu (Matius 6:26). Masakan kita mau menyamakan panggilan yang kita miliki dengan takdir para cacing? Ironisnya, manusia seringkali berusaha menolak panggilan yang ia miliki (Yunus misalnya) dan memilih untuk menyerah pada “takdir” (perhatikan tanda kutip di sini) yg sebenarnya jelas bukan apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita.

Bagaimana dengan anda?