puisi


Hanya patung terentang,
mengucap Selamat datang.

Kota angkara,
kota angkasa,

Telah menanti, telah menari.
Roda meluncur liar, darah mengalir deras.

Jendral memberi pencuri hormat,
penguasa bercengkrama.

Lariku dari mulut Singa,
tapi ke mulut makhluk apakah ku ‘kan melangkah?

Jangan ku lari, o Tuhan, jangan.
Kemanakah ku dapat pergi dari naungan sayap-Mu?

bila saat ini
waktu berhenti

hingga kugenggam bulir bulir hujan
tanpa basah dan dingin

tak perlu kauputar balik waktu itu
ku hanya ingin bila saat ini
waktu terhenti

bila saat ini
waktu berhenti

semua angin kan canggung terdiam
semua api kan rapuh terbeku
tanpa desiran
tanpa tarian

ku tak perlu memutar balik waktu lalu
ku hanya ingin bila saja

bila saja saat ini
waktu terhenti

dan semua angkasa raya pun gulita
dan semua pencakar langit membisu
saat cahaya remang bergeming
saat ambisi angkara hilang menguap

tapi saat ini
segalanya menerjang
ke kanan dan ke kiri
menggala di segala ruang

ku tak perlu mengulang waktu tadi
ku hanya mau
waktu terhenti

pada mulanya adalah Firman.

Jadilah Terang!

maka terang, sinar, dan harapan untuk kemuliaan pun
lanjut tersirat,

dirimu.

diriku.

Namun, entah sejak kapan.

sejak kapan?

ya. Entah sejak kapan,

saat aku terkurung dari belakang dan depan,
saat aku terlingkup daripada samudera luas,
saat aku terhempas dan bergulung di ombak raya.

belakangku dan depanku.
samuderaku, ombak dan air terjunku,

tidak kuingat

tidak kuingat

tidak kuingat

Ah

Jikalau.. aku bergulat denganmu di pagi buta,
dapatkahku bergelut saat pinggulku terpukul?

sebelum pagi merekah.

dan seluruh awan yang mengelilingiku bergerak
berputar putar, meraung raung.

dibalik semua rimba dan ribaan,
membelakangi sang mentari.

sang Terang dunia

saat kuterdiam
dan

saat kuberhenti

masih saja,

FirmanMu.