Misi


pada tahun 2002, Timor Leste menjadi anggota PBB, sama seperti Indonesia.

5 tahun lewat sudah, apa pandangan Indonesia kepada Tim-tim? Pengkhianatkah? Sama seperti jambret dan supir tabrak lari?

5 tahun lewat sudah, apa pandangan Timor Leste kepada Indonesia? Penjajahkah? Sama seperti Netherlands dan Nippon yang menyisakan pahit dan getir?

5 tahun lewat sudah, apa cita anak bangsa? Dengki ataukah damai?

Saya suka membaca sejarah. Melihat dan merenungkan bagaimana Allah terus bekerja dari waktu ke waktu. Pun dengan sejarah penyebaran Kabar Baik ke seluruh dunia. Saya mudah untuk terkagum melihat ketaatan orang-orang yang memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang yang belum pernah sama sekali mendengar kisah kasih Allah ini. Terkagum, terharu, terbuai.

Namun, sesuai naturnya, sejarah akan terus berkembang. Masa yang kita hidupi sekarang pun akan menjadi sejarah, nantinya. Sejarah pemberitaan kisah kasih Allah masih ditulis. Dan kita pun sebenarnya dipanggil untuk ambil bagian di dalamnya. Siapa tahu, seratus tahun lagi, di buku “From Jerusalem to Irian Jaya” edisi terbaru, kita akan menemukan kalimat berikut ini: “Pada awal abad ke-21, dimulailah pergerakan misi mahasiswa Indonesia di Singapura…” Siapa tahu. =)

Konteks kata kontekstualisasi di tulisan ini adalah kontekstualisasi yang dilakukan di misi. Dan di tulisan ini saya mengadopsi arti misi sebagai pelayanan pekabaran Injil lintas budaya. Kontekstualisasi dengan indah diutarakan Paulus dengan:

Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang,
aku menjadikan diriku hamba dari semua orang,
supaya aku boleh memenangkan
sebanyak mungkin orang.

Demikianlah bagi orang Yahudi
aku menjadi seperti orang Yahudi,
supaya aku memenangkan
orang-orang Yahudi.

Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat
aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat
(sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat),
supaya aku dapat memenangkan
mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.

Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat
aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat
(sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah,
karena aku hidup di bawah hukum Kristus),
supaya aku dapat memenangkan
mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.

Bagi orang-orang yang lemah
aku menjadi seperti orang yang lemah,
supaya aku dapat menyelamatkan
mereka yang lemah.

Bagi semua orang
aku telah menjadi segala-galanya,
supaya aku sedapat mungkin memenangkan
beberapa orang dari antara mereka.
(1 Kor 9:19-22)

Dapat kita perhatikan sebuah pola pada perikop di atas:

Bagi X
aku telah menjadi seperti X
supaya aku dapat {memenangkan, menyelamatkan}
X.

Sebagai contoh:

Bagi Budi
aku telah menjadi seperti Budi
supaya aku dapat memenangkan
Budi.

Bagi orang Eropa
aku telah menjadi seperti orang Eropa
supaya aku dapat menyelamatkan
orang Eropa.

Atau, menurut sebuah buku yang saya baca:

Kontekstualisasi adalah bagaimana cara menabur bibit [i.e., Kabar Baik] tanpa harus menanam pot dan tanahnya. [i.e., budaya sang penabur]

Kontekstualisasi tidak hanya berarti harus bersedia mengorbankan banyak budaya asal yang mungkin bertentangan dengan budaya tujuan, namun seringkali meliputi kesediaan untuk mengorbankan banyak tradisi dan budaya rohani asal. Saat kita menjalankan misi itu sepenuhnya lah kita baru menyadari mana sebenarnya dogma rohani kita yang esensial dan mana yang opsional atau tradisional semata. Dan, ironisnya, ini lah yang paling sulit untuk dilakukan. Untuk melepaskan banyak kosa kata rohani kita dan melepaskan banyak kebiasaan ibadah kita. Yang malahan paling sering menjadi polemik di antara kita. Saya pernah menyaksikan bagaimana seseorang boleh dibilang melepaskan hampir semua identitas kekristenannya dan secara literal memenuhi apa yang ditulis Paulus di atas. Dan begitu tertegun ketika menyadari latar belakang tradisi kekristenannya sungguh berbeda dengan apa yang ia lakukan sekarang. Supaya apa? Supaya ia dapat memenangkan Budi, atau orang Eropa. Tergantung di mana dan kepada siapa kontekstualisasi itu dijalankan.

Ketika saya pertama kali menyadari hal ini, pemikiran saya pertama kali menuju kepada kondisi kesatuan gereja pada masa ini. Yang terkadang terpecah-pecah karena alasan yang sepele dan menggelikan. Gaya ibadah, lah. Ga suka sama jenis lagunya, lah. Walau, mungkin ada penjelasan rasional mengenai hal ini. Yaitu, untuk menjaga kemurnian ajaran. Namun, sampai semurni apakah kita ingin menjalankan ajaran kita? Sadarkah kita kalau sebenarnya praktek ibadah kita sebagian besar sangat Barat sekali? Sungguh pengalaman saya itu menyadarkan saya bahwa banyak aspek spiritualitas saya yang opsional (terutama yang praksis) dan apa saja yang sebenarnya esensial.

Karena itu, bermisilah sebagai sebuah gereja. Saat sebuah gereja semakin bermisi, saat itu pulalah sebuah gereja semakin menyadari betapa banyak aspek spiritualitasnya yang sebenarnya sebuah tradisi dan budaya semata. Saat itulah sebuah gereja akan semakin menghargai bermacam-macam tradisi gereja yang berbeda dengan dirinya. Saat itu pulalah gereja-gereja boleh semakin bersatu dalam mengabarkan Kabar Baik. Tidaklah heran kalau konferensi mahasiswa interdenominasi pertama (dan kedua, ketiga) di Singapura adalah konferensi misi. Saat gereja bermisi, ia bersatu.

Sungguh, pilihan membutakan kita. Pernahkah teman-teman berpikir, bagaimana jemaat Protestan Indonesia dengan ratusan denominasinya di Indonesia dapat beribadah dengan belasan denominasi saja di Singapura? Ya, karena di sini ‘lebih sedikit’ pilihan. Sekarang bagaimana kalau di sebuah tempat hanya terdapat satu denominasi saja? Die, die, walaupun berbeda jauh, kita akan beribadah di sana. Apalagi, dalam misi yang berkontekstualisasi. Bahkan, kalau saya bilang, kita akan bersedia untuk mengorbankan bentuk ibadah yang biasa kita temui di gereja! Ya, mengapa tidak? Mengapa tidak kita kembangkan sendiri liturgi à la Indonesia? Banyak yang sudah terlanjur terjadi dan seperti tak mungkin untuk dipulihkan lagi. Salah satunya adalah bentuk ibadah kita. Saya hanya bisa berandai-andai seperti apakah jadinya jikalau misionaris-misionaris Eropa itu berkontekstualisasi dalam misi mereka ke belahan penjuru dunia. Saya sungguh bersyukur untuk sumbangsih mereka dan tidak mengecilkan sedikit pun ketaatan mereka yang telah membagikan Kabar Baik ke banyak daerah yang sebelumnya tidak mengenal Yesus. Namun, kita selalu dapat belajar dari pengalaman masa lalu. Alkitab bukanlah kitab yang berisi orang-orang yang sempurna (kec. Yesus), namun berisikan orang-orang yang berdosa namun bersandar kepada kasih karunia Tuhan. Sejarah gereja tidak sepenuhnya diisi oleh kisah-kisah indah, namun banyak kekelaman sering terjadi pula. Kita bisa belajar dari sejarah ribuan tahun gereja telah bermisi. Marilah ketika kita bermisi, kita tidak menanam pot dan tanah kita, tidak memaksakan tradisi dan budaya rohani kita, namun membiarkan sendiri gereja lokal di sana untuk menentukan bagaimana mereka akan mengembangkan tradisi dan budaya rohani mereka masing-masing. Dan, bukan sinkretisme tentunya! Kesetiaan terhadap Firman Tuhan harus diutamakan. Lagi, kita harus setia kepada Firman Tuhan. Namun, kita harus dengan rendah hati pula menerima kalau banyak hal yang kita lakukan sekarang ini sebenarnya merupakan tradisi dan budaya semata.

Bagaimana dengan yang sudah ada sekarang? Bagaimana yang sudah terlanjur terpecah-pecah? Sejujurnya, saya masih mendambakan adanya kesatuan penuh antara gereja-gereja. Entah bagaimana caranya, saya tidak tahu. Namun, ada cara minimal yang menurut saya akan menunjukkan sikap hormat dan mengakui otoritas gereja lain. Saya sering sedih ketika mendengar ada sebuah gereja yang menanam gereja di sebuah tempat yang sebenarnya, o ya, ada gereja di sana! Hanya karena gereja ini berbeda dengan gereja lokal di tempat itu, jadilah mereka menanam gereja di sana. Misalnya, jemaat berbahasa Indonesia di Singapura. Ketika ada sebuah gereja berbahasa Indonesia baru di sini, saya pun bertanya: apa yang ada disini kurang, ya? Sampai kapan kita mau menambah gereja di sini? Bagi saya, maaf saja, menanam gereja di tempat di mana gereja sudah ada dan sebenarnya cukup untuk menampung umat Kristen di sana dan menjangkau orang yang belum percaya sama dengan sebuah pernyataan sikap bahwa kita tidak mengakui gereja-gereja di sini mampu untuk menyokong umat Kristen di sana. Saya pribadi, asalkan gereja lokal tidak liberal, tidak akan pernah menanam gereja di sebuah tempat di mana gereja sudah ada. Jika memang kita merasakan bahwa gereja lokal membutuhkan pertolongan, tolonglah. Masih banyak cara untuk menolong, bukan? Memberi pembinaan, menyokong dengan dana, mendukung dalam doa. Mengapa tidak? Sungguh, pilihan membutakan kita.

Pengalaman saya melihat bagaimana seseorang bersedia melakukan kontekstualisasi secara radikal untuk dapat menjangkau orang lain akan selalu mengingatkan saya bahwa saya harus bersedia untuk bersekutu dengan semua saudara saya terlepas dari apa pun latar belakang mereka. Kalau kita sudah demikian relanya berubah dan berkorban demi orang lain untuk mendengarkan Injil, saya tidak melihat adanya alasan mengapa saya harus menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah yang mungkin akan berbeda jauh dengan tradisi dan budaya rohani yang biasa saya jalani.

Akhir kata, saya mohon maaf jika tulisan ini mungkin tidak berkenan di hati saudara. Jikalau saya terkesan keras dalam tulisan ini, semoga itu hanya karena kerinduan hati saya yang mendalam dan besar untuk melihat gereja Tuhan bisa bersatu. Dan kegetiran hati saya ketika melihat betapa gereja Tuhan masih saling terkam satu sama lain. Kesatuan gereja adalah sebuah topik yang sudah menempati tempat tersendiri dalam hati saya.

PS: Setelah saya membaca lagi tulisan ini, saya menyadari kalau alur pikiran di tulisan ini agak tidak terorganisir. Mungkin suatu hari saya akan merapikannya. =)

Sebagai orang yang hidup di Singapura, saya sudah cukup termanjakan, terbiasa, dan terpengaruh budaya instan negeri ini. Internet cepat, akses informasi instan, kegiatan yang padat, perubahan tren dalam waktu yang sekejap. Budaya instan ini juga mempengaruhi spiritualitas kita. Saat teduh sejenak, renungan singkat, pertumbuhan instan, dst. Dan hal ini ternyata turut mempengaruhi bagaimana gereja berpikir dalam mendukung pelayanan misi.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mendengarkan seorang pekerja yang menceritakan bagaimana ia sulit mencari dukungan dana dari gereja. Dalam arti, pada umumnya banyak yang ingin mendukung pelayanannya dalam dana, hanya saja untuk jangka waktu yang singkat. Dua tahun. Tiga tahun. Dan kalau dalam jangka waktu tersebut tidak ada “buah”, maka dukungan dana tersebut dicabut. Dengan tidak memperhatikan betapa sulit daerah yang dilayani. Dan lebih terpincut dengan potensi daerah yang lain. Mendengar betapa banyak dan cepat “buah” di sana. Karena itu, jarang yang berani untuk mendukung daerah yang sama dengan setia sampai puluhan tahun.

Pekerja itu melanjutkan ceritanya dengan mengingatkan kita dari sejarah. Ia menunjukkan bahwa banyak daerah yang memang membutuhkan waktu yang lama untuk terbuka. Namun kita seolah-olah tidak melihat hal itu. Yang kita inginkan adalah hasil, sekarang juga. Ya kalau begini, repot. Kita jadi mudah kecewa jika setelah dua, tiga, bahkan sampai lima tahun, tidak ada hasil. Namun, apa artinya lima tahun. Kita harus siap mendukung pelayanan misi ke daerah-daerah yang memang sulit bukan hanya untuk jangka waktu tersebut. Kita harus siap untuk mendukung selama puluhan tahun.

Mulai bulan ini saya juga memiliki komitmen pribadi untuk mendukung pelayanan seorang pengerja. Semoga saya sungguh-sungguh menghidupi apa yang telah saya tulis dan yakini ini.

Menyambut Bulan Misi di GPBB, saya akan menampilkan beberapa renungan misi yang diperoleh dari pengalaman pribadi akhir-akhir ini. Doakan agar saya bisa mentaati komitmen yang diambil, terlebih-lebih dengan latar belakang saya yang “tidak pernah mengakhiri dengan baik apa yang dimulainya.” Doakan juga agar saya bisa mentransformasi pengalaman-pengalaman yang spesifik ini kepada suatu pemahaman misi yang general dengan tanpa melakukan ekstrapolasi yang berlebihan. Judul-judul yang disiapkan (tentatif):

  • Tafsir Alkitab yang berlebihan dalam Misi
  • Misi, kontekstualisasi, dan kesatuan Gereja
  • Frontier Mission (Rm 15:20-21)
  • Kristus – Satu Tubuh, Banyak Anggota
  • Perjalanan misi dan pertukaran budaya

Saya ingin menampilkan cara pandang yang berbeda dalam melihat kejadian ini. Hm, dua cara pandang yang lain. Tidak bertentangan, namun akan melengkapi pandangan yang sudah ada.

Pertama, mengenai kesiapan untuk mati. Singkat saja:

Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik. (Ibr 11:35b)

Some were tortured, refusing to accept release, so that they might rise again to a better life. (Heb 11:35b ESV)

Bagi saya, pergi berarti siap untuk mati. Sekiranya kita juga boleh mengingat hal ini, jikalau suatu saat nanti salah satu dari kita akan mengalami hal yang serupa.

Kedua, saya pikir malah harusnya kita malu dan semakin terdorong ketika melihat semangat misi saudara-saudara kita dari Korea ini. Menurut data dari CIA, setidaknya terdapat sekitar 20 juta umat Kristen di Indonesia. Sedangkan di Korea Selatan, sepertiga dari penduduknya adalah Kristen. Itu berarti sekitar 15 juta orang. Perbandingannya berarti sekitar 4:3 antara umat Kristen di Indonesia dengan di Korea Selatan.

Bagaimana dengan jumlah misionaris yang dikirim oleh masing-masing negara? Untuk Indonesia, saya tidak tahu dengan pasti. Tidak ada data yang jelas mengenai hal ini. Namun, bolehlah kita menaruh angka 1000. Bagaimana dengan Korea Selatan? Pada akhir tahun 2006, Korea Selatan sudah menjadi negara pengirim misionaris terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat, dengan 16000 misionaris yang ditempatkan di berbagai belahan dunia. Jadi, untuk sekarang ini, perbandingannya berarti sekitar 1:16. =)

Tentunya kita tidak bisa membuat perbandingan dari segi jumlah saja. Banyak aspek kehidupan di masing-masing negara yang harus kita perhitungkan pula. Namun, saya harap kita boleh sungguh-sungguh meneladani semangat misi saudara-saudara kita ini.

Dan, sementara itu, mari kita terus berdoa.