.martin


Make me a captive, Lord,

      And then I shall be free;

Force me to render up my sword,

      And I shall conqueror be.

I sink in life’s alarms

      When by myself I stand;

Imprison me within Thine arms,

      And strong shall be my hand.

 

Quotation yang bagus dari George Matheson. Penggambaran yang indah mengenai paradox kebebasan dan ketaatan. Suatu pembahasan yang sudah sangat ama sering diucapkan, namun sangat susah untuk dilakukan.

Ketika masalah timbul, dan kita mencoba menyelesaikannya. Mengusahakan segala cara, hanya untuk kecewa di kemudian hari. Putus asa, hancur hati dan menyerah. Seakan tidak ada hal lain yang dapat kita andalkan untuk keluar dari masalah itu. Seakan Tuhan diam dan tidak ikut campur. Ketika kemudian kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan dan menyerahkan semuanya, barulah Tuhan bekerja.

Berapa kali kita berada dalam situasi demikian? Ketika kita merasa kita bisa melakukan sesuatu, Tuhan mengijinkan kita melakukannya dengan kekuatan sendiri. Barulah ketika kita menyerah total, Tuhan baru bekerja.

Posting ini didedikasikan untuk mereka yang sedang mengalami persimpangan di kehidupan mereka. Mereka yang terus berjuang mencari kehendak Tuhan dalam diri mereka, karena mereka hanya ingin menyenangkan hati-Nya. Biarlah bisa menjadi sebuah pengingat bagi mereka.









Membaca tulisan Rasul Yohanes memberikan suatu anggapan bahwa Rasul Yohanes adalah seorang yang penuh kasih. Dia lebih banyak menulis tentang “kasih” dibandingkan dengan penulis Alkitab manapun.

Allah adalah kasih (1Yoh 4:8); Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini (Yoh 3:16); kamu harus hidup di dalam kasih (2Yoh 1:16).

Benarlah apabila Rasul Yohanes disebut sebagai ‘murid yang dikasihi Yesus’ dalam narasi Injil Yohanes. Namun terkadang kita lupa melihat bagaimana Yohanes pada awal dia mengikut Tuhan.

” Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh.”  (Markus 3:17)

Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk 9:53-54)

Mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka (Markus 9:34)

Kata Yohanes kepada Yesus: “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” (Markus 9:38)

Tentulah kita melihat bagaimana Yohanes yang dari dulu memiliki temperamen yang keras, sehingga diberi nama anak guruh, bisa berubah menjadi seorang yang penuh kasih. Bukan sepenuhnya meninggalkan sifatnya yang keras, tapi justru Tuhan mengubahnya menjadi suatu sisi positif bagi Yohanes. Teguran-teguran yang Yohanes berikan di 1 Yohanes, merupakan teguran-teguran yang keras, tanpa kompromi. Tetapi di sisi lain, itu juga teguran yang penuh kasih, teguran yang membangun.

Ada satu hal yang tentunya membuat Yohanes berubah. Satu hal yang sangat membekas di dirinya. Apakah itu? Itulah peristiwa di mana Yohanes menyaksikan Yesus disalibkan dari jarak yang begitu dekat. Di sanalah Yohanes menemukan Kasih yang sebenarnya. Bahwa memang sebegitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga memberikan Yesus untuk menanggung hukuman atas dosa. Dari sana lah ia belajar mengenai kasih. Menerima kasih itu hanya dari Kasih itu sendiri.

Bagaimana dengan kamu? Apakah gambaran Yesus disalib itu tidak membuatmu gentar dan mengubah hidupmu?

If… I find taught in one part of the Bible that everything is fore-ordained, that is true; and if I find, in another Scripture, that man is responsible for all his actions, that is true; and it is only my folly that leads me to imagine that these two truths can ever contradict each other.

They are two lines that are nearly so parallel, that the human mind which pursues them farthest will never discover that they converge, but they do converge, and they will meet somewhere in eternity, close to the throne of God, whence all truth doth spring.

Charles H. Spurgeon, “A Defense of Calvinism”

“Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan,
kamu akan menerimanya.” (Mat 21:22)

Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kuasa dan sanggup melakukan apapun. Namun kadang-kadang Dia memakai kita untuk menjadi saluran berkat-Nya. Seringkali Dia menyuruh kita untuk berdoa, supaya kehendak-Nya jadi di dunia ini.

Dan beberapa minggu ini, aku baru benar-benar menyadari bagaimana Tuhan bekerja melalui doa-doa kita, terutama melalui aku. Seringkali ketika aku membaca atau mendengar suatu berita, ada dorongan untuk mendoakan hal-hal itu.

Ajaibnya, aku perlahan-lahan menyadari bagaimana SETIAP doaku dijawab!Iya benar.. Setiap doaku! Bukan hanya sebagian. Mengenai orang Korea Selatan yang ditahan oleh Taliban. Mengenai seorang teman untuk percaya kepada Kristus. Mengenai pilihan jalan hidup.

Sungguh betapa kita sering melupakan kuasa doa. Cobalah membuat suatu catatan doa. Ketika setiap kali kita berdoa, kita menuliskan pokok doa kita. Dan ketika jawaban Tuhan datang atas doa kita, berilah tanda. Amatilah dan kau akan terkejut melihat bagaimana Tuhan menjawab itu semua.

Tapi aku ingin menutup dengan suatu confession. Seiring dengan semakin kagumnya aku terhadap kekuatan doa itu, semakin ada dorongan untuk ‘memakai’ doa itu untuk kehendak-ku sendiri. Keinginan untuk menjadikan doa itu sebagai alat untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Bersyukur kalau Tuhan kembali mengingatkan bahwa doa itu seharusnya tempat dimana kita menyelaraskan keinginan kita supaya sama dengan kehendak Tuhan.

Kejadian Raja Hizkia (raja yang berdoa meminta kesembuhan dari Tuhan, hanya untuk berbalik dari Tuhan) selalu menjadi petunjuk bagiku untuk terus berhati-hati dalam berdoa. Untuk meminta kepada Tuhan apa yang Dia inginkan, bukan apa yang aku inginkan. =)

Markus 11:15-19 bercerita tentang kemarahan Tuhan Yesus di Bait Allah. Mungkin inilah satu-satunya dicatat dalam Alkitab tentang Yesus yang marah. Bila hal ini benar, tentulah ada suatu hal yang besar terjadi. Suatu hal yang membuat Yesus benar-benar merasa pedih. Apakah yang terjadi?

Yesus diceritakan masuk ke Bait Allah, dan menjumpai orang berjual beli di halaman Bait Allah. Pedagang burung dan ternak untuk persembahan pun diusir oleh Yesus. Mengapa Yesus marah?

Melalui Musa, Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk mempersembahkan korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan maupun korban penghapus dosa (baca Imamat). Karena Tuhan adalah kudus, Ia menghendaki binatang persembahannya untuk juga yang terbaik dan tidak bercacat. Namun hal inilah yang dijadikan lahan KOMERSIAL bagi para imam dan pedagang.

Umat Israel yang datang dari pelosok Israel ke Bait Allah membawa binatangnya harus melalui pemeriksaan oleh imam. Karena binatang itu diajak berjalan cukup jauh dari tempat asal mereka, dengan sendirinya imam akan menolak binatang itu untuk dijadikan korban. Orang Israel pun harus membeli binatang yang dijual oleh para pedagang di luar Bait Allah yang telah diberi cap ‘tak bercacat’ oleh para imam.

Sungguh menyedihkan bahwa suatu perayaan keselamatan yang sakral bagi umat Israel justru dikaburkan maknanya dengan keserakahan manusia terhadap UANG! Dan keserakahan yang sama membuat para pedagang berjubel memenuhi halaman luar Bait Allah, sehingga halaman luar yang seharusnya didedikasikan untuk orang Kafir (Yesaya 56:3-7) tidak dapat dipakai beribadah. Sekali lagi uang menjauhkan orang dari keselamatan!

Bagaimana dengan kasus ini? Buku-buku rohani yang seharusnya digunakan untuk memperlengkapi jemaat, dan membangun fondasi iman yang benar justru mengaburkan dan mencemarkan iman Kristiani yang benar. Cobalah lihat ke toko buku Kristen di dekat mu. Apakah kamu bisa bilang kalau buku-buku itu bermutu? Apakah kamu juga membelinya? Ataukah kamu justru sebaliknya membeli buku-buku yang terlalu menekankan self-help, kekayaan, psikologi ataupun perkara-perkara yang tidak membangun?

Sekali lagi buku yang seharusnya mampu menuntun orang menuju keselamatan, dikaburkan. Aku merenung, “Marahkah Tuhan melihat hal ini?”

Pernahkan kita membayangkan betapa Tuhan itu sungguh setia. Setiap saat kita berdoa, kapanpun itu, Tuhan selalu mendengarkan. Dan Tuhan menjawabnya, walaupun mungkin jawabannya tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Bandingkan dengan kita. Kita yang mungkin sering merasa malas hanya untuk menyisihkan 30 menit untuk menemui Dia. Ketika kita bangun di pagi hari, kita menunda saat teduh kita karena masih ingin tidur sejenak. Pernahkan membayangkan bagaimana jadinya jika Tuhan kita seperti itu ^^ ? Tentu semua akan menjadi kacau. Kita seharusnya merasa malu. Namun itu seharusnya membuat kita sadar bahwa kesetiaan kita memang sangat rapuh. Kita hanya bisa bergantung pada kesetiaan Tuhan saja. Amin.

 

Lord, my soul is ripped with riot,
Incited by my wicked diet
“We are what we eat,” said a wise old man,
“Lord, if that’s true, I’m a garbage can.
I want to rise on Judgement Day,
that’s plain,
But at my present weight I’ll need a crane.
So grant me strength that I may not fall
Into the clutches of cholesterol.
May my flesh with carrot curls be sated,
That my soul may be polyunsaturated.
And show me the light I might bear witness
To the President’s Council on Physical Fitness.
And oleo magarine I’ll never mutter,
For the road to hell is spread with butter.
And cream is cursed, and cake is awful,
And Satan is hiding in every waffle.
Mephistopheles lurks in provolone;
The devil is in each slice of bologna.
Beelzebub is a chocholate drop,
And Lucifer is a lollipop.
Give me this day my daily slice,
But cut it thin and toast it twice.
I beg upon my dimpled knees
Deliver me from jujubes.
And when my days of trial are done,
And my war with malted milks is won,
Let me stand with saints in heaven,
In a shining robe, size 37!
I can do it, Lord, if you’ll show to me
The virtues of lettuce and celery.
If you’ll teach me the evil of mayonnaise,
The sinfulness of hollandaise
And pasta Milanese,
And potatoes a la lyonnaise
And crisp fried chicken from the south
Lord, if you love me, shut my mouth.”

Moral of the story:
Kitab Maleakhi menegur dengan keras orang Israel yang membawa persembahan berupa binatang yang tidak layak kepada Tuhan. Binatang persembahan yang seharusnya merupakan binatang terbaik, tidak bercacat digantikan dengan binatang yang lebih inferior dan bercacat. Hal-hal inilah yang membuat Tuhan murka.

Sama dengan diri kita yang merupakan Bait Allah (1 Kor 3:16), marilah kita menjaga diri kita dengan baik. Tubuh yang sehat tentulah dapat dipakai untuk melakukan pekerjaan Tuhan sampai kita dipanggil-Nya. Biarlah kita mati demi nama Kristus, bukan karena kolesterol. :P

Inilah tema dari berita termuat akhir-akhir ini dalam suratkabar kita.

Berawal dari kasus Uni Eropa (EU) yang melarang maskapai penerbangan Indonesia untuk melayani penerbangan ke kawasan Eropa. Track record penerbangan Indonesia yang sangat parah dalam kurun waktu satu tahun ini membuat EU melarang penerbangan ke Eropa, jikalau standar keselamatan tidak ditingkatkan.

Meskipun sebenarnya tidak ada maskapai penerbangan Indonesia yang sekarang memiliki rute penerbangan ke Eropa, hal ini membuat sejumlah pihak terkait menjadi emosi. Ujung-ujungnya, nada mengancam untuk balas melarang penerbangan Eropa ke Indonesia-pun dilontarkan. Tentunya bisa kita bayangkan siapa yang rugi kalau penerbangan Eropa ke Indonesia dilarang :)

Kasus kedua yang belum lama terjadi pula adalah terkait Bapak Presiden SBY. Ketegangan terjadi antara Wakil Ketua DPR Zainal Ma’arif memberitakan bahwa SBY sebenarnya sudah menikah dengan Ibu Ani sebelum masuk sekolah militer. Peraturan militer menyatakan bahwa hal itu tidak seharusnya terjadi.

SBY-pun mengadukan Zainal ke pihak polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Kita belum tahu bagaimana akhir dari kasus ini.

Dan kasus yang paling baru adalah China balas melarang sejumlah makanan dari Indonesia untuk masuk ke China. Diduga sejumlah makanan tersebut mengandung bahan-bahan kimia berbahaya. Hal ini terjadi beberapa saat setelah Indonesia melarang impor beberapa makanan dan permen dari China karena diduga mengandung formalin.

Apakah yang Alkitab katakan tentang hal-hal ini? Mata ganti mata dan gigi ganti gigi? Ataukah suatu kasih ?

Mat 5:39-48
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

John Sung lahir di Hinghwa, Fukien tahun 1901. Dalam 42 tahun perjalanan hidupnya, dia merupakan salah satu penginjil yang paling memberikan dampak bagi kekristenan di China maupun sekitarnya. Membaca biografinya merupakan salah satu penyegaran bagi kehidupan rohani kita yang seakan-akan ‘suam-suam kuku’ dan menjadi suatu peringatan untuk kita hidup dalam rencana Tuhan.

Mengenal kekristenan dari kecil memberikan dampak bagi John Sung untuk selalu berdoa dan percaya akan jawaban Tuhan akan doanya. Pada umur 19 tahun, dia pergi ke Amerika untuk menempuh studinya. Dalam 6 tahun, dia menyelesaikan studi S1, S2 dan S3-nya serta memperoleh gelar doctor di bidang Kimia.

Namun ia justru berada di dalam krisis rohani. Pengaruh Kristen liberal menyerangnya membuat dia meragukan imannya. Kasih Tuhan kepada dia sekali lagi membawa dia kembali. Dia kembali bertobat dan mulai menentang pengaruh liberal yang ada di kampusnya.

Dia dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa selama 193 hari. Namun di sinilah titik tolak kehidupan dia. Selama 193 hari, dia membaca Alkitab sebanyak 40 kali, masing-masing menggunakan metode yang berbeda!! Hal-hal yang ia temui, ia catat dalam bukunya. Inilah “Sekolah Alkitab” yang sebenarnya bagi pemuda ini.

Selepas dari rumah sakit jiwa (1927), ia kembali ke Cina. Di sinilah suatu kejadian yang terkenal itu terjadi. Ia yang tidak merasakan ketenangan dari jiwanya, berjalan di atas kapal dan membuang hampir semua penghargaan yang diterimanya sebagai wujud kematian dirinya terhadap dunia.

Forbid it, Lor, that I should boast
Save in the Cross of Christ my Lord:
All the vain things that charm me most
I sacrifice them to His Blood

Mulai lah dia bekerja bagi perkejaan Tuhan. Namun baru tahun 1931, penginjilannya mulai efektif. Dia mulai bisa menemukan cara bagaimana dia bisa dipakai dia bisa dipakai Tuhan begitu hebatnya. Dan inilah yang terus ia tekankan kepada penginjil-penginjil lainnya sepanjang kotbahnya.

Doa. Pekerjaan Tuhan haruslah selalu diiringi dengan doa. Bukan hanya sebagai embel-embel rohani, namun di dalam doalah kekuatan untuk melakukan pekerjaan Tuhan berasal. “I talked least and I preached more. But I pray most!”. Satu hal yang patut diteladani oleh semua gembala adalah bagaimana dia menyimpan nama-nama orang yang menerima Kristus karena pelayanannya, dan dia mendoakannya setiap hari!

Kesucian diri. Bertobat, pengakuan akan pelanggaran dosa, dan menjaga diri dari hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Inilah bagaimana orang mempersiapkan dirinya untuk dipakai Tuhan. Bagaimana kita orang-orang bisa bersikap munafik untuk mempersembahkan diri kita kepada Tuhan sementara diri kita kotor!

Pimpinan Roh Kudus. John Sung merupakan orang yang peka terhadap pimpinan ke Roh Kudus. Pimpinan inilah yang membantu John Sunga dalam segala perjalanan penginjilannya. Begitu juga dalam kotbahnya, John Sung mampu menghadirkan kuasa Roh Kudus untuk bekerja dalam diri setiap mereka yang belum percaya. Roh Kudus menyatakan kepada mereka pelanggaran mereka, dan membawa mereka dalam pertobatan.

Perjalanan penginjilannya hampir selalu dikatakan berhasil. Ribuan orang bertobat dari dosanya, bahkan orang Kristen nominal pun mengalami kebangungan rohani yang luar biasa. Ketika ia pergi ke daerah-daerah, hampir tidak pernah ia datang membawa nama gerejannya sendiri. Namun justru dia mengadakan kebaktian penginjilan di gereja-gereja setempat. Tidak hanya mempertobatkan mereka yang belum percaya, namun dia juga memberkati para pemimpin gereja, sehingga domba-domba baru itupun dapat terurus dengan baik. Sungguh suatu system penginjilan yang baik.

Tahun 1934, ayahnya meninggal dunia. Di dalam mimpinya, John Sung bertemu dengan ayahnya yang berkata, “Sung, aku telah pergi ke Surga. Tapi kau masih punya 7 tahun lagi untuk bekerja. Jadi bekerjalah yang giat untuk Tuhan”. Pemberitahuan ini membuat dia semakin giat melayani Tuhan. Hari demi hari dia lalui tanpa istirahat untuk berkotbah. Sungguh hanya kekuatan Roh Kudus yang memampukan dia seperti itu. Bahkan para penerjemahnya pun tidak sanggup mengikuti semua kegiatan dia.

Pertobatan-pertobatan terjadi, kesaksian-kesaksian terus mengalir. Tanah Cina kembali menjadi suatu ladang yang siap dituainya. Lahan-lahan yang dipersiapkan misionari-misionari sebelumnya memperlihatkan hasil.

Dia pernah berkata, “Masih banyak orang yang lebih baik dari aku! Untuk pembelajaran Alkitab, aku tidak sebanding dengan Watchman Nee! Sebagai pengkotbah, aku tidak sebanding dengan Wang Ming-tao! Sebagai penulis, aku tidak dapat dibandingkan dengan Marcus Cheng! Sebagai musisi, aku jauh di bawah Timothy Chao. Aku tidak memiliki kesabatan seperti Alfred Chow! Sebagai figure public, aku tidak memiliki sopan santun seperti Andrew Gih. Hanya ada satu hal di mana aku melebihi mereka: yaitu dalam melayani Tuhan dalam setiap kekuatanku

Inilah John Sung, seorang Yohanes Pembaptis bagi China untuk memanggil para pendosa, mengingatkan mereka bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Dialah suara dari padang gurun yang memanggil orang ke dalam pertobatan.

“God, I pray Thee, light these idle sticks of my life and may I burn up for Thee. Consume my life, my God, for it is Thine. I seek not a long life but a full one, like You, Lord Jesus”
(Jim Elliot)

Halaman Berikutnya »