.duncan


ada 4 elemen yang mau dibahas di sini;

A. Badan: organisasi, society, yang memayungi no.2
B. Insan: Anggota, individu yang terpayungkan no.1
C. Aksi: Kegiatan, acara, event, kerja, action yang dilakukan no. 2
D. Respons: Feedback dunia, masyarakat luar dan dalam terhadap action no.3

dan, beberapa kasus interaksi ke tiga elemen(yang ke empat berinteraksi bebas, secara ad-hoc) di atas;
1. Badan mengadakan Aksi melalui para Insan (yang sudah berafiliasi) dalamnya.
2. Insan mengafiliasikan diri kepada Badan. Kemudian Insan mengadakan Aksi.
3. Insan mengadakan Aksi. Kemudian Insan tersebut mengafiliasikan diri kepada Badan. Aksi tersebut diteruskan/diubah maknanya/diberhentikan.
(lagi…)

Hanya patung terentang,
mengucap Selamat datang.

Kota angkara,
kota angkasa,

Telah menanti, telah menari.
Roda meluncur liar, darah mengalir deras.

Jendral memberi pencuri hormat,
penguasa bercengkrama.

Lariku dari mulut Singa,
tapi ke mulut makhluk apakah ku ‘kan melangkah?

Jangan ku lari, o Tuhan, jangan.
Kemanakah ku dapat pergi dari naungan sayap-Mu?

Di pelbagai cerita fantasi (komik doraemon, film enchanted, etc.), sering dikisahkan bahwa saat orang di masa lalu melihat televisi, mereka melihat kotak ajaib yang dimana terdapat orang di dalamnya.

Saat kita melihat televisi, apa yang kita lihat? kumpulan transistor, gelombang pemancar, program stasiun berita. Pengetahuan kita memberi kita banyak presuposisi tentang apa yang kita lihat. Fiksi dan fakta tersaru dalam diode, Pikir dan pakar terlupakan. Di kotak itu, nyawa terlihat seperti angka; di kotak itu aktor menjadi nabi.

Dunia televisi, dunia yang dapat kita panggil sesuka hati, apakah kita terpanggil oleh tangis yang disiarkan?
yang dapat kita bunuh sesuka hati, apakah kita membunuh hati yang disiarkan?

Kapan kita bisa sedikit lebih naif,
sedikit lagi lebih purba,

untuk melihat manusia sesungguhnya di balik layar kaca?
melihat nyawa di balik angka?

———-

Duncan,

yang baru saja melihat kumpulan transistor di bus, dan gagal melihat Jaipur.

Workshop ISCF, IBS Kitab Wahyu, kegiatan iscf terakhir dalam fase ini. Melihat isu-isu dalam jemaat Efesus yang mendapat teguran melalui surat. Keesokan harinya, mencoba melihat isu-isu keenam jemaat yang lain. Masukan sangat ditunggu di comment.

1. Church in Ephesus
Memiliki pengajaran dan kegiatan yang kuat, tetapi terdapat eksklusivitas yang tidak memiliki kasih. Surat dikirim oleh yang memegang ketujuh bintang dan berjalan diantara ketujuh kaki dian; oleh Dia yang memegang kuasa atas kepala jemaat, jemaat dan berada beserta mereka, seakan berkata “ini gereja-Ku, dimana kasih-Ku kau letakkan?”

2. Church in Smyrna
Mendapati cobaan yang berat, dimana jemaatnya lambat laun akan dicobai dan mungkin menghadapi kematian. Surat dikirim oleh yang pertama dan terakhir; oleh Dia yang telah mati dan bangkit, seakan berkata “kalau kau bersama-Ku, kau pun akan bangkit dari kematian seperti yang telah Kutunjukkan”

3. Church in Pergamum
Meskipun tetap berpegang kepada iman, tapi jemaat ini terbawa oleh ketidaktaatan yang berasal dari arus pengajaran yang tidak sehat dari pengaruh luar. Surat dikirim oleh Dia yang empunya pedang bermata dua; seakan berkata “keadilan akan dijaga dengan pedang, dan ketidaktaatanmu akan menghadapi pedang”

4. Church in Thyatira
Meskipun melayani dalam kesabaran dan kasih, tetapi dalam jemaat sendiri ada pengajar palsu yang mengajar ketidaktaatan kepada Allah. Surat dikirim oleh Dia yang bermata seperti api, dan kakinya seperti tembaga, seakan berkata “bisa Kulihat dirimu dan ketidaktaatanmu sampai ke dalam-dalam, hanya yang berdiri bersama-Ku saja yang akan tetap teguh”

5. Church in Sardis
Dikritik karena tidak bersemangat, dan malas. Jemaat yang biasa-biasa saja, tidak sampai sesat karena memang mungkin tidak cukup berpikir. Surat dikirim oleh Dia yang memiliki tujuh roh dan tujuh bintang; seakan berkata “ini roh yang daripada-Ku, di mana roh dan semangatmu?”

6. Church in Philadelphia
Jemaat yang terkata kecil kekuatannya, namun dijanjikan kekuatan oleh Allah, dan mereka setia terhadap misi-Nya. Surat dikirim oleh dia yang Kudus, yang Benar, yang memegang kunci Daud; seakan berkata “sekecil apapun engkau, jika pintu telah Kubuka tak akan ada yang bisa menutup, dan jika telah Kututup tak akan ada yang bisa membuka, manfaatkanlah kairos ini.”

7. Church in Laodicea
Mendapat teguran yang paling keras, karena mereka “suam-suam kuku” atau mungkin acuh tak acuh terhadap kebenaran yang dari Allah. Surat dikirim oleh Amin, saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan, Dia yang seakan berkata “ini Aku, kegenapan akan kebenaran dan janji Allah. Masihkah kau acuh tak acuh terhadap-Ku?”

Pertanyaan-pernyataan di atas bukanlah Firman Tuhan, tetapi saat saya menempatkan diri sebagai pembaca dengan keterbatasan pengetahuan terhadap konteks jaman dulu, itu pertanyaan dan pernyataan yang terngiang saat membaca kop surat bertajuk “From:..”, seakan-akan ditanyakan kepada gereja. Akan isu-isu yang saya rasa masih sangat relevan bagi gereja segala abad dan tempat (termasuk masa kini).

Dapatkah kita berkata; “ini aku Tuhan, milik-Mu, bagian jemaat-Mu dan gereja-Mu yang telah setia.”?

Perkembangan blog ini sama seperti cerita roman kebanyakan; Bermulai dari sebuah abstraksi, permulaan yang manis, kemunduran yang cukup lama, re-abstraksi mencari jati diri, terjun kembali ke dunia, etc etc.. Happy Ending (yang terakhir ini belum). Apakah kita belum cukup bergulat dalam abstraksi dan mencari jati diri dahulu, sehingga sekarang kita harus berusaha lagi, atau memang inilah proses bergulat itu. Terus menerus bergumul dan mencari abstraksi diri, dalam jati dan visi.

Beberapa post belakangan tampak usaha keras untuk berabstraksi, meskipun tampak tidak terorganisir namun saya percaya inilah proses yang harus terlaksana, mundur sesaat untuk maju, mencoret guratan untuk background kanvas sebelum melukis.

Sekiranya kita akan bergulat bersama Allah dalam setiap hal kecil maupun besar.

Your name shall no longer be called Jacob, but Israel, for you have striven with God and with men, and have prevailed.

——————-
Perihal penebusan dunia dan ciptaan baru, setuju sekali kalau yang terpenting bukanlah 5W+1H, tetapi bertanya in the light of the truth. Dan dalam kerangka berpikir, berdoa, bergumul “Apa yang Tuhan mau” ini, saya percaya kita dapat memulai dengan “Why”, yang akan mendrive kita bertanya 4W+1H selanjutnya, yang pasti akan lebih spesifik dari Why yang lebih general, dengan seeking in truth menjadi yang terpenting. Dan misi pembaruan dunia ini hanya bisa dilakukan dengan pertolongan Tuhan, yang telah menjadikan dunia; langit dan bumi beserta segala isinya.

Kenapa blog yang ramai (banyak partisipan) ini sepi (tidak ada post baru)?

saat sibuk, saya sendiri merasa malas meng-update, jangankan blog ini, blog sendiri pun terlantar. bayangannya blog ini bakal ada temen2 lain yang bakal nge post. jadinya kayak prisoner’s dilemma, meskipun lebih beneficial kalo semua posting, tapi kalo pada ga posting lebi enak ga posting juga :p.

mungkin pelajarannya adalah, bukan apa yg kita bisa dapat dari sebuah persekutuan, tapi apa yang bisa kita beri. not what can the country do for you, but what can you do for the country.

yang saya rasa, blog ini telah membuat sebuah spark awal untuk kita, “selanjutnya terserah anda”. secara negatif, bisa saja diartikan terserah anda mau di teruskan atau tidak, secara positif mungkin artinya it only takes a spark, to let the fire going elsewhere :) .

mari kita serahkan pada persekutuan ini dan Tuhan, blog ini bakal kemana.
baik berjalan terus sebagai persekutuan, atau pun hanya pernah menjadi sebuah spark yang baik bagi kita.

baik yang pertama ato yang ke dua, saya rasa masing2 ada faedahnya.

^^

bila saat ini
waktu berhenti

hingga kugenggam bulir bulir hujan
tanpa basah dan dingin

tak perlu kauputar balik waktu itu
ku hanya ingin bila saat ini
waktu terhenti

bila saat ini
waktu berhenti

semua angin kan canggung terdiam
semua api kan rapuh terbeku
tanpa desiran
tanpa tarian

ku tak perlu memutar balik waktu lalu
ku hanya ingin bila saja

bila saja saat ini
waktu terhenti

dan semua angkasa raya pun gulita
dan semua pencakar langit membisu
saat cahaya remang bergeming
saat ambisi angkara hilang menguap

tapi saat ini
segalanya menerjang
ke kanan dan ke kiri
menggala di segala ruang

ku tak perlu mengulang waktu tadi
ku hanya mau
waktu terhenti

pada tahun 2002, Timor Leste menjadi anggota PBB, sama seperti Indonesia.

5 tahun lewat sudah, apa pandangan Indonesia kepada Tim-tim? Pengkhianatkah? Sama seperti jambret dan supir tabrak lari?

5 tahun lewat sudah, apa pandangan Timor Leste kepada Indonesia? Penjajahkah? Sama seperti Netherlands dan Nippon yang menyisakan pahit dan getir?

5 tahun lewat sudah, apa cita anak bangsa? Dengki ataukah damai?

secarik kalimat dari saat teduh;

It is not that God makes us beautifully rounded grapes, but that He squeezes the sweetness out of us. Spiritually, we cannot measure our life by success, but only by what God pours through us, and we cannot measure that at all.

Semoga bisa menguatkan kita yang merasa gagal dan di dalam tekanan =)

Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan!

Dan mencekam, jika boleh berkata sebaliknya.

Pasukan terlihat seperti lautan manusia, berdiri baris-berbaris, berhadap-hadapan dengan lembah landai yang memisahkan kedua pihak. Di atas satu bukit nampak berlaksa orang orang bertubuh kekar tegap yang terlihat agak asing di tanah ini. Memang mereka merupakan para ‘tetangga’ yang kurang menyenangkan bagi sang empunya tanah. Dari sisi inilah turun dua orang menuju ke lembah. Jika dilihat di pertunjukan sirkus mungkin pasangan ini cukup menggelitik tawa. Yang seorang tinggi besar, bersenjatakan lengkap sampai-sampai jika ia berjalan bunyi gemerincing senjata cukup nyaring terdengar. Yang seorangnya lagi meski pendek dan gempal, membawa tameng bulat yang hampir sebesar dirinya, sehingga terlihat seperti kumpulan benda-benda bundar saja. Sayangnya ini bukan sirkus, dan jelas terlihat kalau si tinggi adalah seorang prajurit kawakan, dan si gempal hanyalah kacungnya yang membawakan tamengnya.

Di zaman ini memang adalah sesuatu yang cukup umum dilakukan saat perang, jika seorang ‘prajurit pilihan’ dari masing-masing sisi bertarung di tengah sebelum pertempuran dimulai atau bahkan menjadi penentu kemenangan itu sendiri saat pertempuran sudah berlangsung cukup lama. Selain sangat mendukung sisi ekonomis dan anggaran biaya perang yang harus dikeluarkan dari pertempuran, taktik mengadu pejuang unggulan ini juga sangat berguna dalam perang, untuk bisa meningkatkan moral pasukan, tentu saja jika si unggulan menang.

Sang tuan rumah sebenarnya lebih berharap melanjutkan pertempuran langsung, mengingat sebenarnya mereka ada di tanah mereka sendiri sehingga lebih unggul di pertempuran medan. Tapi apa daya, pihak lawan sudah menantang. Jika Tuan rumah tidak mengikuti, prajurit-prajuritnya akan ragu dengan kesanggupan sang pemimpin, sedang mereka sendiri tidak begitu memiliki ‘jagoan’ yang bisa diandalkan untuk duel maut seperti ini.

Singkat kata, mereka sudah ‘termakan’ oleh gaya bermain musuh. Kelelahan tampak di mata mereka. Toh, pertempuran sudah berjalan selama 40 hari 40 malam…

……………………

Siapa sangka, seorang bocah gembala itu yang bisa mengalahkan jagoan musuh tersebut dalam sekejapan mata? Dan ia tidak takut karena saat ia menggembala sehari-hari, ia pun sering melindungi kawanan domba-dombanya dari serangan singa dan beruang.

Ia bukannya meremehkan perihal melindungi negara dengan menyamakannya dengan perihal melindungi kawanan domba, tapi malah menjadi sebuah contoh nyata dari perkataan:

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.

Karena baik dalam perkara kecil ataupun besar, ia pun mampu berkata bahwa;

TUHAN adalah kekuatanku

Halaman Berikutnya »