Cerita


krisis makanan.

banjir.

harga minyak.

iklim dunia.

perang.

bolehkah saya memilih untuk tidak tahu dan tidak peduli mengenai hal-hal ini, ya Allah?

mungkin hidupku akan lebih nyaman, ya Tuhan?

pancaindera kita menangkap berbagai sensasi yang berbeda. kadang, ada sensasi-sensasi yang khas, tidak dapat dilupakan, dan biasanya mudah terngiang-ngiang kembali karena keunikan kisah di balik sensasi awal kisah tersebut terjadi.

hari ini saya mengalaminya. ketika saya mencium sebuah bau yang langsung mengingatkan saya kepada bau yang sama di kisah yang berbeda. bau tersebut sudah terasosiasikan dengan kisah itu.

mungkin itu yang dialami petrus juga. ia berdiang di dekat sebuah api arang sebab hawa nya dingin kala itu. kala yesus ditangkap. dan ia menyangkalnya tiga kali. (yoh 18.15-27)

entah bagaimana rasanya ketika ia melihat api arang lagi. yang pasti, satu saat ketika ia berada di dekat api arang, ia kembali ditanya tiga kali. (yoh 21.9-17)

sejak saat itu, api arang pastilah membekas di hati petrus.

hari ini kami menerima selebaran dari pemerintah singapura yang menginformasikan ‘benefits for all Singaporean in 2008’, bagaimana pemerintah akan membagikan 3 miliar dolar kepada seluruh warga singapura dalam berbagai wujud. welfare lah.

sungguh menarik bagaimana selebaran ini begitu informatif, sungguh berguna bagi masyarakat, sehingga mereka tahu apa ‘hak-hak’ mereka, dan bagaimana pemerintah singapura sendiri begitu serius dalam mengurusi warganya. tentunya hal ini tidak akan cukup melingkupi seluruh kebutuhan tiap warga secara spesifik, namun apa yang dilakukan pemerintah ini sangatlah baik.

sebenarnya pemerintah Indonesia mungkin melakukan hal-hal yang serupa, seperti jatah beras untuk kaum miskin, dsb. namun masalahnya seringkali hal ini tidak dilakukan dengan transparan dan masyarakat tidak mendapat kejelasan mengenai apa yang sebenarnya pemerintah ingin lakukan bagi warganya. benefits ini terdapat di anggaran tahunan, jadi apa yang dilakukan oleh pemerintah singapura ini boleh dibilang sebagai informasi mengenai apa yang terdapat di anggaran tahunan, walau saya kurang tahu apakah kita memiliki exposure yang cukup terhadap apbn kita.

berikut selebaran yang dimaksud.

sesungguhnya, pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikan. (Rm 13.4) mari membayar pajak dengan sukacita. =)

Dibaca dan didoakan ya. =)

Salam.

Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan kita Yesus Kristus menyertai teman-teman sekalian.

Perkenalkan, nama saya H. Saya sekarang ditempatkan di sebuah perguruan tinggi bernama UTSG. Saya disini bekerja di sebuah laboratorium. Sehari-harinya saya bekerja bersama seorang atasan dan seorang teman kerja. Namanya T dan P. Syukur kepada Allah bagaimana kami boleh bekerja bersama sebagai sebuah tim. Memang butuh banyak waktu yang harus dilewatkan untuk membangun hubungan yang baik di antara kami. Terkadang saya sedih juga karena akhir-akhir ini saya tidak bisa lagi makan siang bersama sahabat-sahabat saya. Sejak saya menemukan bahwa waktu makan siang adalah waktu yang sangat berharga sekali dalam membangun hubungan yang erat di antara kami.

Kami sudah berbicara banyak selama lima bulan ini kami bersama. Terutama dengan P. Sampai sekarang memang saya terkadang masih merasa sulit untuk bisa ‘nyambung’ dengan orang yang berlatar belakang sangat berbeda dengan saya. Namun tiap hari saya belajar untuk bersikap seperti Tuhan kita yang rela mengosongkan dirinya dan menganggap kesetaraan dengan Allah itu bukanlah sesuatu yang patut dipertahankan. Saya belajar mati-matian untuk dapat berpikir seperti teman saya. Dan terpujilah Allah kalau saya sekarang sudah bisa memahami perasaan dan kebutuhannya. Kami banyak berbicara mengenai hidup. Dan dari sana saya boleh belajar betapa memang setiap orang memiliki kekosongan dalam hidupnya yang tak bisa diisi selain oleh Allah sendiri. Saya sendiri mencoba terus meyakinkan dia, dengan bertanya kepadanya apa yang ia ingin capai dalam hidupnya. Sampai ia sendiri merasa mentok dan akhirnya tidak dapat berkata apa-apa lagi. Sampai ia bertanya kepada saya, ‘ya, memangnya hidup itu untuk apa?’ Dari situ kami mulai berbicara bagaimana hidup yang semula dirancang untuk Tuhan dapat dipakai lagi sesuai rancangan awal tersebut. Dan kami masih berbicara mengenai hal ini.

Jadi, saya mohon doa teman-teman untuk beberapa pokok doa berikut:

  • Agar tim kami dapat melakukan penelitian dengan sungguh-sungguh dan berintegritas, dengan benar dan jujur, dan dengan demikian dapat menjadi contoh dan pengaruh yang baik bagi tim riset lain di tempat ini
  • Kepekaan hati dalam mengenali kebutuhan teman sekerja saya
  • Hati yang sungguh-sungguh mengasihi kedua rekan kerja saya ini
  • Kemauan untuk mendengar segala keluh kesah yang diutarakan P, betapa terkesan remehnya
  • Agar P boleh bertemu dan mengenal Sang Hidup

Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai teman-teman sekalian.

Hari Jumat yang lewat saya melihat seorang teman Muslim pergi dari NTU untuk sholat Jum’at. Hal seperti ini sudah sering saya lihat dan alami, namun entah mengapa yang kemarin itu sungguh berkesan di hati saya.

Saya waktu itu kepikiran saja, andai saja hari libur yang diadopsi di Singapura itu adalah hari Jumat, misalnya. Bukan hari Minggu. Jadi, situasinya dibalik nih. Hari Minggu. Kita harus bekerja. Dan di tengah pekerjaan itu, kita harus meminta ijin kepada supervisor untuk pergi ke gereja untuk beribadah.

Begitu.

Bagaimana?

Dan entah mengapa saya jadi terpikir dengan masalah dimana kita akan beribadah jika kita menghadapi situasi semacam ini. Dan, well, setelah dipikir-pikir lagi, pertanyaan dimana kita akan beribadah malah mungkin akan menjadi tidak relevan dalam situasi semacam ini! Asal kita bisa beribadah itu sudah bagus kok! Gereja terdekat dari kantor, for sure!

Dan saya berhenti memikirkan hal ini ketika menyadari bahwa hal ini tidak mungkin terjadi di Singapura. Oh, well, tidak ada gunanya memikirkannya kalau begitu.

Begitukah?

Posting ini didedikasikan untuk teman-teman yang mengalami pergumulan soal beribadah karena keharusan bekerja di hari dimana teman-teman harus beribadah, baik itu hari Jumat, Sabtu, Minggu, atau hari-hari yang lain jika ada. =)

Seperti yang dimuat di Pistos edisi November-Desember 2007. =) Ditulis tanggal 4 November 2007.

*

I. Saya adalah seorang utusan

Saya adalah seorang yang diutus. Seorang utusan memiliki sebuah atau beberapa mandat. Panggilan. Misi. Ya, untuk tujuan dan tugas tertentu saya diutus. Tugas yang komunal, bahwa saya adalah bagian dari gereja yang am, dan personal, disesuaikan dengan setiap detil keberadaan saya. Seperti, misalnya, disesuaikan dengan pekerjaan saya saat ini. Seorang yang bekerja di bidang riset pencitraan kanker dan ditempatkan di NTU. Dan mengenali mandat, panggilan, misi ini, tentunya berkaitan erat dengan siapa yang memberikan mandat, panggilan, misi tersebut.

II. Saya adalah utusan seorang Raja

Pengutus saya adalah seorang raja. Seorang raja yang kepadanya telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Andai saja raja saya hanya berkuasa di dalam ruang ibadah setiap hari minggu, maka saya tidak perlu repot-repot memberitahu kepada orang-orang mengenai raja saya dan kebijakan-kebijakannya. Namun, ’sayangnya,’ tidak demikian. Sekali lagi, raja ini memiliki segala kuasa di sorga dan di bumi. Ya, termasuk di lab tempat saya bekerja. Atau, secara lebih luas, termasuk di dunia akademis dan riset. Ia pun raja di sini. Karena itulah, tiap hari saya berusaha sedapat mungkin mengenali titik-titik di mana ia tidak dianggap raja di sana. Sebagai contoh, dunia riset. Saya masih belajar bagaimana menyikapi dunia riset yang sekarang sudah terlalu terpusat pada publikasi. Apa-apa harus dihubungkan dengan publikasi. Sedangkan sukacita dalam mengamati fenomena alam, memformulasikan hipotesa berkenaan dengan pengamatan tersebut, dan mengetes hipotesa yang dibuat itu menjadi hal yang sekunder dibandingkan dengan berapa jumlah publikasi yang seorang dapatkan dalam setahun. Pun dengan titik-titik lain. Tentang bagaimana menghadapi persaingan yang tidak sehat dalam riset, walau sudah jelas tujuan risetnya adalah kemaslahatan umat manusia secara global. Atau, bagaimana menghadapi upaya menyembunyikan hasil yang buruk dalam publikasi. Dan bagaimana dengan presuposisi bidang riset ini sendiri? Wow, sangat banyak yang perlu dipikirkan! Karena itu, setiap harinya, saya diutus untuk bergelut dan menggumuli setiap detil aspek pekerjaan saya dengan sungguh-sungguh, dan terus bertanya dan berdoa, ‘Beginikah kami harus menjalankannya, ya Raja?’ Dan kalau memang bukan, saya juga diutus untuk mengkomunikasikan dalam perkataan dan perbuatan, ‘Hei, bukan begini caranya,’ dan berusaha memperkenalkan bahwa ada cara lain, i.e., cara sang raja, untuk melakukan hal ini.

Selain itu, raja ini juga memiliki kuasa atas segala yang hidup, untuk memberikan hidup yang kekal kepada semua yang Bapa-nya berikan kepadanya. Karena itu, kabar ini harus disampaikan pula kepada setiap orang yang belum mengenal sang raja. Pun pada tempat di mana saya berkarya tiap harinya. Berusaha sedapat mungkin untuk memperkenalkan sang raja kepada orang-orang yang saya temui dalam pekerjaan saya. Bagaimana caranya?

III. Saya adalah utusan seorang Raja yang menjadi Hamba

Raja yang mengutus saya adalah raja yang luar biasa. Darinya saya belajar, dan masih terus diajar, tentang bagaimana saya harus menjalankan segenap tugas saya. Karena dia sudah pernah menjalankannya terlebih dahulu. Dan sewaktu ia menjalankan pekerjaan yang diberikan Bapanya, ia mengambil rupa seorang hamba. Wow! Hal itu berarti, bagi saya, menganggap kesetaraan (dan segala hak istimewa yang terkandung di dalamnya) sebagai utusannya itu bukan sebagai sesuatu yang patut dipertahankan. Hal itu berarti, bagi saya, berusaha sedapat mungkin mengerti orang-orang yang saya temui setiap harinya untuk mengetahui bagaimana memperkenalkan sang raja kepada mereka. Hal ini berarti menjadi kontekstual inkarnasional dalam menjalankan panggilan saya. Kalau kata seorang utusannya yang lain, ‘Bagi X, aku menjadi seperti X, supaya aku sedapat mungkin memenangkan X.’ Empat bulan ini menjadi suatu pengalaman yang sangat berharga sekali bagi saya dalam mengenali dunia orang-orang beragama Tradisi Cina di Singapura. Walau generalisasi ini pun masih kurang tepat karena setiap orang memiliki keunikannya masing-masing, cukup aman untuk mengatakan bahwa selama empat bulan ini saya banyak belajar mengenai cara pandang mereka terhadap kekristenan, yang selama empat tahun sebelumnya saya sangat acuh tak acuh. Bersyukur untuk berbagai kesempatan yang sang raja sudah berikan. Dari ngobrol perayaan roh lapar berujung kepada pengampunan dan dosa, dari ngobrol tidak-ada-makan-siang-yang-gratis sampai kepada anugerah, dari ngobrol riset sampai kepada karakter Sang Pencipta, dari internet sampai alam sebagai ciptaan, dari ‘Friday 13th’ sampai perjamuan malam terakhir. Indah, sungguh indah.

Dan inilah perjalanan saya untuk menjadi utusan yang baik. Eh, salah. Perjalanan saya sebagai bagian dari gereja, utusan sang Raja, Tuhan Yesus. Dimana jutaan utusannya, tiap hari, diutus ke berbagai pelosok dan penjuru dunia. Di dalamnya, termasuk, di kampus, di kantor, di kedai makan. Untuk satu tujuan. Untuk menyatakan sang Raja.

Aku bermimpi.

Di Singapura hanya ada satu gereja.

Dengan satu waktu ibadah setiap minggunya.

Dimana orang-orang datang dengan antusias.

Satu jam sebelum ibadah, mereka sudah datang.

Paling telat, tiga puluh menit sebelum ibadah mulai.

Masing-masing mempersiapkan hati.

Sungguh-sungguh.

Menunggu ibadah dimulai.

Dan aku pun terbangun.

“Argh, udah jam 8! Gak keburu ini mah untuk ibadah jam 9. Tidur lagi deh sampai jam 9, ikut ibadah jam 11 aja…”

Kiranya banyaknya pilihan tidak menjadikan kita manja. :)

“Datang ngepas itu terlambat sebenarnya.”
(Kak Petrus, outing gabungan pemuda CLPC-GPBB-GPO)

Hari ini saya potong rambut di EC House. Dan ternyata ada fasilitas baru di tempat ini. Sekarang, ada layar monitor LCD kecil di bawah cermin.

echouse.PNG

Layar monitor LCD ini diposisikan sedemikan rupa sehingga kita pasti dapat melihat tayangan di layar tersebut baik dalam posisi pandangan normal maupun ketika kita disuruh menunduk ketika rambut kita sedang dipotong.

Tayangannya sendiri berisi cuplikan film-film bioskop yang belum ditayangkan dan beberapa iklan produk tertentu. Dan akan berulang setiap 10 menit sekali.

Dari pengalaman tersebut ada beberapa hal yang saya pikirkan.

Pertama, alasannya. Kawan saya menyebutkan alasan yang saya pikir tepat. Secara sederhana memang untuk iklan semata. Toh memang orang tidak melakukan kegiatan apapun ketika ia sedang dipotong rambutnya. Ya, jadi waktu-waktu kosong ini dapat digunakan juga untuk promosi produk maupun jasa. Setidaknya dari pengalaman hari ini saya jadi hapal sebuah tagline iklan obat pelangsing tubuh: “You’ll start to worry when you look pregnant.” >.<

Kedua. Setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin tayangan ini ada bagusnya. Setidaknya ia bisa mengalihkan kita dari saat-saat dimana kita paling memuja diri kita sendiri ketika kita dengan tidak henti-hentinya memperhatikan diri kita di depan cermin.

Ketiga. Mungkin ini adalah suatu cara cerdik dari EC House untuk mengalihkan perhatian konsumer agar ia tidak memperhatikan jalannya pemotongan rambut, karena siapa tahu potongannya jadi aneh, dan tahu-tahu sudah selesai tanpa ia sadari.

OK. Yang kedua dan ketiga memang agak tidak masuk akal. Namun yang terakhir ini serius.

Keempat. Kalau ini dari sisi pengunjungnya. Saya sendiri semakin sedih dengan adanya fasilitas ini. Saat-saat potong rambut adalah suatu kesempatan yang langka bagi orang Singapura untuk setidaknya bisa duduk diam tanpa melakukan sesuatu hal apapun. Ya, kita adalah orang-orang yang patut dikasihani, karena sudah lupa bagaimana caranya untuk duduk tenang berkonsentrasi untuk jangka waktu yang lama. =) Potong rambut 10 menit adalah saat dimana kita ‘dipaksa’ untuk duduk diam dan tidak melakukan sesuatu hal apapun. Hal yang dianggap sebagai ‘tidak produktif’ di dunia yang lebih mengagungkan berapa banyak yang kita kerjakan dibandingkan karakter kita. Dan saat potong rambut inipun akhirnya direnggut dari sejumlah kecil saat-saat tenang tersebut. =)

Saya baru saja pulang dari sebuah kelas malam di SBC. Tadi dibagikan sebuah buletin, dan ada satu kolom yang menarik disana. Kolom kesaksian. Ada dua mahasiswa yang membagikan cerita mereka. Satu berasal dari gereja Presbyterian, satu dari gereja Methodist. Ada satu hal yang menarik perhatianku, yaitu mengenai bagaimana masing-masing mendeskripsikan proses pertobatan mereka. Yang satu berkata,

“I was brought to Christ.”

Yang lain,

“I accepted Christ.”

Tentunya saya tidak perlu memberitahu pernyataan mana diucapkan oleh siapa, ya? =)

Di sini kita menyaksikan bagaimana latar belakang teologi kita mempengaruhi cara berbicara kita (dan, sebenarnya, sadar atau tidak sadar, banyak aspek kehidupan kita). Saya pikir (dan yakin) apa yang disampaikan keduanya sama-sama benar. Yang satu memberikan penekanan kepada kedaulatan Allah. Yang lain memberikan penekanan pada tanggung jawab manusia. Atau, seperti yang seorang teman saya bilang, “Ini ‘DAN’, bukan ‘ATAU.’”









Halaman Berikutnya »