Bangsa


setelah sekian lama absen dari dunia persilatan (baca: ngeblog), saya mau nulis lagi

Ini hasil perenungan saya setelah berlibur selama seminggu di Indonesia.

Di sepanjang jalan terpampang gambar-gambar calon legislatif dari berbagai partai. Ada yang ukurannya besar sekali, besar, sedang, kecil, dan kecil sekali. Ada yang bermuka garang, kumis tebal, tanpa senyum, kaku dan terlalu formal, ada juga yang terlalu narsis, kemaki (bahasa jawa, arti: lawan kata kemayu), dan kemayu. Terlebih lagi ada juga yang mempunyai wajah tidak bersahabat sama sekali.

Poster-poster yang menghiasi sepanjang jalan itu sangat merusak pemandangan. Saya mencoba jujur dan menuliskan apa yang ada di lubuk hati saya. Ya, merusak pemandangan dan keindahan. Bukan karena wajah para calon legislatif yang kurang menarik bagi saya, tetapi karena poster tersebut – menurut saya – tidak ditempatkan dengan rapi.

Metode yang digunakan dalam poster tersebut pun kadang tidak bisa saya pahami, entah saya yang tidak bisa mencerna dengan baik, atau mungkin poster tersebut yang sebenarnya tidak jelas. Ada menuliskan bahwa calon legislatif tersebut adalah mantan juara dunia cabang olahraga tertentu atau artis tertentu, ada juga yang malah memajang foto bapak/kakeknya di poster yang sama, padahal kakeknya juga bukan orang partai tersebut. Saya sempat bertanya-tanya, sebenarnya apa kaitan semua itu dengan beban kerja yang akan mereka hadapi kelak jika mereka terpilih menjadi anggota legislatif? Kenapa mereka tidak memamerkan keunggulan mereka yang sekiranya berkaitan dengan pekerjaannya kelak? Atau jangan-jangan mereka sebenarnya tidak mempunyai keunggulan yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya kelak? (lagi…)

Jeritan dan teriakan seperti: “Wahh, kacau banget de pemerintahan kabinet sekarang.” “Turunkan menteri…, ganti dengan….” “Reshuffle kabinet!!”, mungkin itu adalah sedikit perwakilan dari beberapa respon yang bisa keluar ketika kita membicarakan tentang pemerintahan, khususnya dalam konteks ini bangsa kita sendiri, Indonesia. Hmm, jika menilik kepada perjalanan waktu semenjak kerusuhan besar (sekitar 1997), maka banyak orang akan berpikir wajar saja, toh memang pemerintahan zaman itu tidak ada yang beres (atau mendekati beres) sampai sekarang. Korupsi, utang, begitu juga masalah kerja sama dengan negara luar seperti tak kunjung padam menimpa Indonesia. Tapi apakah sikap seperti itu (termasuk mempunyai pikiran bahwa protes itu wajar) merupakan sikap yang benar?

Pemerintah merupakan hamba Tuhan dalam mengatur kehidupan manusia menuju ke arah yang lebih baik. Karena itu, pemerintah mempunyai otoritas dari Tuhan, yang mempunyai otoritas absolut atas semuanya. Otoritas untuk mengatur negara, otoritas hukum untuk mengatur keadilan dan kebenaran. Barangsiapa melawan pemerintah, orang itu juga berarti melawan Allah.

Apakah pemerintah juga mempunyai keabsolutan otoritas dalam menjalankan pemerintahannya? Tidak. Kita berhak tidak menuruti otoritas pemerintah, apabila suatu kebijakannya bertentangan dengan Firman Tuhan, karena Tuhanlah Allah, bukan pemerintah. Pertanyaannya, atas dasar apakah kita mengkritik, dan bahkan pada tahap yang lebih jauh menggugat pemerintah? Memang ada beberapa kebijakan pemerintah yang jelas salah dan perlu digugat, tapi penulis mengamati, penggugatan itu muncul atas dasar rasa ketidakpuasan pribadi atas kebijakan2 yang diambil. Suatu ketidakpuasan karena hal-hal tersebut idak sesuai dengan yang saya mau. Di poin inilah konflik timbul, karena tak mungkin orang-orang yang dipilih melalui demokrasi menyenangkan 200-an juta lebih jiwa.

Kita harus bisa menghormati perwakilan ini. Sampaikanlah kritik dan masukan melalui jalur yang tersedia, bukan langsung dengan tindakan anarkis (seperti yang terjadi di banyak negara belakangan ini), seolah-olah ingin menunjukkan kekuatan. Secara hierarki, kita berada dibawah pemerintah, maka kita tak punya hak otoritas apapun atas pemerintah.

Semoga pemerintah sadar akan tanggung jawabnya, terlebih, kepada siapa ia bertanggungjawab. Bukan hanya kepada rakyat, terutama kepada Tuhan. Semoga rakyatpun percaya kepada pemerintah sambil terus mengamati kebijakan2 yang diambil, seimbang antara sikap aktif dan pasif.

Semoga setiap pihak mengerti posisi dan tugas masing-masing. Untuk Indonesia, biarlah dengan usia yang ke-62, semakin berkembang, dewasa, begitu juga semua manusianya (termasuk penulis). Dirgahayu Indonesia.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang diatasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah.” (Rm 13:1)

Inilah tema dari berita termuat akhir-akhir ini dalam suratkabar kita.

Berawal dari kasus Uni Eropa (EU) yang melarang maskapai penerbangan Indonesia untuk melayani penerbangan ke kawasan Eropa. Track record penerbangan Indonesia yang sangat parah dalam kurun waktu satu tahun ini membuat EU melarang penerbangan ke Eropa, jikalau standar keselamatan tidak ditingkatkan.

Meskipun sebenarnya tidak ada maskapai penerbangan Indonesia yang sekarang memiliki rute penerbangan ke Eropa, hal ini membuat sejumlah pihak terkait menjadi emosi. Ujung-ujungnya, nada mengancam untuk balas melarang penerbangan Eropa ke Indonesia-pun dilontarkan. Tentunya bisa kita bayangkan siapa yang rugi kalau penerbangan Eropa ke Indonesia dilarang :)

Kasus kedua yang belum lama terjadi pula adalah terkait Bapak Presiden SBY. Ketegangan terjadi antara Wakil Ketua DPR Zainal Ma’arif memberitakan bahwa SBY sebenarnya sudah menikah dengan Ibu Ani sebelum masuk sekolah militer. Peraturan militer menyatakan bahwa hal itu tidak seharusnya terjadi.

SBY-pun mengadukan Zainal ke pihak polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Kita belum tahu bagaimana akhir dari kasus ini.

Dan kasus yang paling baru adalah China balas melarang sejumlah makanan dari Indonesia untuk masuk ke China. Diduga sejumlah makanan tersebut mengandung bahan-bahan kimia berbahaya. Hal ini terjadi beberapa saat setelah Indonesia melarang impor beberapa makanan dan permen dari China karena diduga mengandung formalin.

Apakah yang Alkitab katakan tentang hal-hal ini? Mata ganti mata dan gigi ganti gigi? Ataukah suatu kasih ?

Mat 5:39-48
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Ketika melihat Indonesia, apakah kita akan selalu teringat dengan suasana Muslim yang begitu kental? Beberapa mesjid dan suara azan yang membahana. Orang-orang yang bersama-sama selalu ke mesjid untuk mendengarkan siraman rohani dan menunaikan ibadahnya.

Selain itu semua, ada beberapa tempat di Indonesia yang justru berbeda dari yang lain. Silakan menikmati.

Sebuah pertanyaan tentang nasionalisme (tema Persekutuan Pemuda (PP) di GPBB untuk 3 bulan ini adalah Indonesia – pemikiran di post ini didapatkan setelah PP minggu ini). Berulang kali kita acap mendengar sebuah pernyataan seperti ini, “Kita lahir sebagai orang Indonesia. Tentulah Tuhan memiliki rencana tersendiri bagi kita terhadap Indonesia.” Atau, “Kita lahir sebagai orang Indonesia bukanlah suatu kebetulan. Ada rencana Tuhan untuk kita bagi Indonesia.” Dan berbagai macam pernyataan lain yang mirip dengan keduanya. Satu pertanyaan yang terlintas di pikiran saya. Andaikan. Andaikan Indonesia adalah negara maju, aman sentosa, makmur, damai, teratur, dst, masihkah kita akan berpikiran demikian? Atau, malah pernyataan yang akan kita ucapkan malah, “Kita lahir sebagai orang Indonesia. Mungkin Tuhan punya rencana tersendiri untuk kita bagi dunia?”

Sebuah contoh yang baik adalah bagi teman-teman yang berdomisili di Singapura. Singapura adalah negara maju, aman sentosa, makmur, damai, teratur, dst. Sekarang pengandaiannya dibalik. Andaikan kita lahir sebagai orang Singapura. Akankah kita ditekankan bahwa karena kita lahir sebagai orang Singapura, tentulah ada rencana Tuhan untuk kita bagi Singapura?

Pokok dari semua ini adalah, apa sebenarnya yang mendorong kita untuk berbuat sesuatu bagi Indonesia: Indonesia atau kebutuhannya?