Desember 2007


Dibaca dan didoakan ya. =)

Salam.

Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan kita Yesus Kristus menyertai teman-teman sekalian.

Perkenalkan, nama saya H. Saya sekarang ditempatkan di sebuah perguruan tinggi bernama UTSG. Saya disini bekerja di sebuah laboratorium. Sehari-harinya saya bekerja bersama seorang atasan dan seorang teman kerja. Namanya T dan P. Syukur kepada Allah bagaimana kami boleh bekerja bersama sebagai sebuah tim. Memang butuh banyak waktu yang harus dilewatkan untuk membangun hubungan yang baik di antara kami. Terkadang saya sedih juga karena akhir-akhir ini saya tidak bisa lagi makan siang bersama sahabat-sahabat saya. Sejak saya menemukan bahwa waktu makan siang adalah waktu yang sangat berharga sekali dalam membangun hubungan yang erat di antara kami.

Kami sudah berbicara banyak selama lima bulan ini kami bersama. Terutama dengan P. Sampai sekarang memang saya terkadang masih merasa sulit untuk bisa ‘nyambung’ dengan orang yang berlatar belakang sangat berbeda dengan saya. Namun tiap hari saya belajar untuk bersikap seperti Tuhan kita yang rela mengosongkan dirinya dan menganggap kesetaraan dengan Allah itu bukanlah sesuatu yang patut dipertahankan. Saya belajar mati-matian untuk dapat berpikir seperti teman saya. Dan terpujilah Allah kalau saya sekarang sudah bisa memahami perasaan dan kebutuhannya. Kami banyak berbicara mengenai hidup. Dan dari sana saya boleh belajar betapa memang setiap orang memiliki kekosongan dalam hidupnya yang tak bisa diisi selain oleh Allah sendiri. Saya sendiri mencoba terus meyakinkan dia, dengan bertanya kepadanya apa yang ia ingin capai dalam hidupnya. Sampai ia sendiri merasa mentok dan akhirnya tidak dapat berkata apa-apa lagi. Sampai ia bertanya kepada saya, ‘ya, memangnya hidup itu untuk apa?’ Dari situ kami mulai berbicara bagaimana hidup yang semula dirancang untuk Tuhan dapat dipakai lagi sesuai rancangan awal tersebut. Dan kami masih berbicara mengenai hal ini.

Jadi, saya mohon doa teman-teman untuk beberapa pokok doa berikut:

  • Agar tim kami dapat melakukan penelitian dengan sungguh-sungguh dan berintegritas, dengan benar dan jujur, dan dengan demikian dapat menjadi contoh dan pengaruh yang baik bagi tim riset lain di tempat ini
  • Kepekaan hati dalam mengenali kebutuhan teman sekerja saya
  • Hati yang sungguh-sungguh mengasihi kedua rekan kerja saya ini
  • Kemauan untuk mendengar segala keluh kesah yang diutarakan P, betapa terkesan remehnya
  • Agar P boleh bertemu dan mengenal Sang Hidup

Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai teman-teman sekalian.

Hari Jumat yang lewat saya melihat seorang teman Muslim pergi dari NTU untuk sholat Jum’at. Hal seperti ini sudah sering saya lihat dan alami, namun entah mengapa yang kemarin itu sungguh berkesan di hati saya.

Saya waktu itu kepikiran saja, andai saja hari libur yang diadopsi di Singapura itu adalah hari Jumat, misalnya. Bukan hari Minggu. Jadi, situasinya dibalik nih. Hari Minggu. Kita harus bekerja. Dan di tengah pekerjaan itu, kita harus meminta ijin kepada supervisor untuk pergi ke gereja untuk beribadah.

Begitu.

Bagaimana?

Dan entah mengapa saya jadi terpikir dengan masalah dimana kita akan beribadah jika kita menghadapi situasi semacam ini. Dan, well, setelah dipikir-pikir lagi, pertanyaan dimana kita akan beribadah malah mungkin akan menjadi tidak relevan dalam situasi semacam ini! Asal kita bisa beribadah itu sudah bagus kok! Gereja terdekat dari kantor, for sure!

Dan saya berhenti memikirkan hal ini ketika menyadari bahwa hal ini tidak mungkin terjadi di Singapura. Oh, well, tidak ada gunanya memikirkannya kalau begitu.

Begitukah?

Posting ini didedikasikan untuk teman-teman yang mengalami pergumulan soal beribadah karena keharusan bekerja di hari dimana teman-teman harus beribadah, baik itu hari Jumat, Sabtu, Minggu, atau hari-hari yang lain jika ada. =)