Seperti yang dimuat di Pistos edisi November-Desember 2007. =) Ditulis tanggal 4 November 2007.

*

I. Saya adalah seorang utusan

Saya adalah seorang yang diutus. Seorang utusan memiliki sebuah atau beberapa mandat. Panggilan. Misi. Ya, untuk tujuan dan tugas tertentu saya diutus. Tugas yang komunal, bahwa saya adalah bagian dari gereja yang am, dan personal, disesuaikan dengan setiap detil keberadaan saya. Seperti, misalnya, disesuaikan dengan pekerjaan saya saat ini. Seorang yang bekerja di bidang riset pencitraan kanker dan ditempatkan di NTU. Dan mengenali mandat, panggilan, misi ini, tentunya berkaitan erat dengan siapa yang memberikan mandat, panggilan, misi tersebut.

II. Saya adalah utusan seorang Raja

Pengutus saya adalah seorang raja. Seorang raja yang kepadanya telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Andai saja raja saya hanya berkuasa di dalam ruang ibadah setiap hari minggu, maka saya tidak perlu repot-repot memberitahu kepada orang-orang mengenai raja saya dan kebijakan-kebijakannya. Namun, ’sayangnya,’ tidak demikian. Sekali lagi, raja ini memiliki segala kuasa di sorga dan di bumi. Ya, termasuk di lab tempat saya bekerja. Atau, secara lebih luas, termasuk di dunia akademis dan riset. Ia pun raja di sini. Karena itulah, tiap hari saya berusaha sedapat mungkin mengenali titik-titik di mana ia tidak dianggap raja di sana. Sebagai contoh, dunia riset. Saya masih belajar bagaimana menyikapi dunia riset yang sekarang sudah terlalu terpusat pada publikasi. Apa-apa harus dihubungkan dengan publikasi. Sedangkan sukacita dalam mengamati fenomena alam, memformulasikan hipotesa berkenaan dengan pengamatan tersebut, dan mengetes hipotesa yang dibuat itu menjadi hal yang sekunder dibandingkan dengan berapa jumlah publikasi yang seorang dapatkan dalam setahun. Pun dengan titik-titik lain. Tentang bagaimana menghadapi persaingan yang tidak sehat dalam riset, walau sudah jelas tujuan risetnya adalah kemaslahatan umat manusia secara global. Atau, bagaimana menghadapi upaya menyembunyikan hasil yang buruk dalam publikasi. Dan bagaimana dengan presuposisi bidang riset ini sendiri? Wow, sangat banyak yang perlu dipikirkan! Karena itu, setiap harinya, saya diutus untuk bergelut dan menggumuli setiap detil aspek pekerjaan saya dengan sungguh-sungguh, dan terus bertanya dan berdoa, ‘Beginikah kami harus menjalankannya, ya Raja?’ Dan kalau memang bukan, saya juga diutus untuk mengkomunikasikan dalam perkataan dan perbuatan, ‘Hei, bukan begini caranya,’ dan berusaha memperkenalkan bahwa ada cara lain, i.e., cara sang raja, untuk melakukan hal ini.

Selain itu, raja ini juga memiliki kuasa atas segala yang hidup, untuk memberikan hidup yang kekal kepada semua yang Bapa-nya berikan kepadanya. Karena itu, kabar ini harus disampaikan pula kepada setiap orang yang belum mengenal sang raja. Pun pada tempat di mana saya berkarya tiap harinya. Berusaha sedapat mungkin untuk memperkenalkan sang raja kepada orang-orang yang saya temui dalam pekerjaan saya. Bagaimana caranya?

III. Saya adalah utusan seorang Raja yang menjadi Hamba

Raja yang mengutus saya adalah raja yang luar biasa. Darinya saya belajar, dan masih terus diajar, tentang bagaimana saya harus menjalankan segenap tugas saya. Karena dia sudah pernah menjalankannya terlebih dahulu. Dan sewaktu ia menjalankan pekerjaan yang diberikan Bapanya, ia mengambil rupa seorang hamba. Wow! Hal itu berarti, bagi saya, menganggap kesetaraan (dan segala hak istimewa yang terkandung di dalamnya) sebagai utusannya itu bukan sebagai sesuatu yang patut dipertahankan. Hal itu berarti, bagi saya, berusaha sedapat mungkin mengerti orang-orang yang saya temui setiap harinya untuk mengetahui bagaimana memperkenalkan sang raja kepada mereka. Hal ini berarti menjadi kontekstual inkarnasional dalam menjalankan panggilan saya. Kalau kata seorang utusannya yang lain, ‘Bagi X, aku menjadi seperti X, supaya aku sedapat mungkin memenangkan X.’ Empat bulan ini menjadi suatu pengalaman yang sangat berharga sekali bagi saya dalam mengenali dunia orang-orang beragama Tradisi Cina di Singapura. Walau generalisasi ini pun masih kurang tepat karena setiap orang memiliki keunikannya masing-masing, cukup aman untuk mengatakan bahwa selama empat bulan ini saya banyak belajar mengenai cara pandang mereka terhadap kekristenan, yang selama empat tahun sebelumnya saya sangat acuh tak acuh. Bersyukur untuk berbagai kesempatan yang sang raja sudah berikan. Dari ngobrol perayaan roh lapar berujung kepada pengampunan dan dosa, dari ngobrol tidak-ada-makan-siang-yang-gratis sampai kepada anugerah, dari ngobrol riset sampai kepada karakter Sang Pencipta, dari internet sampai alam sebagai ciptaan, dari ‘Friday 13th’ sampai perjamuan malam terakhir. Indah, sungguh indah.

Dan inilah perjalanan saya untuk menjadi utusan yang baik. Eh, salah. Perjalanan saya sebagai bagian dari gereja, utusan sang Raja, Tuhan Yesus. Dimana jutaan utusannya, tiap hari, diutus ke berbagai pelosok dan penjuru dunia. Di dalamnya, termasuk, di kampus, di kantor, di kedai makan. Untuk satu tujuan. Untuk menyatakan sang Raja.