Konteks kata kontekstualisasi di tulisan ini adalah kontekstualisasi yang dilakukan di misi. Dan di tulisan ini saya mengadopsi arti misi sebagai pelayanan pekabaran Injil lintas budaya. Kontekstualisasi dengan indah diutarakan Paulus dengan:
Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang,
aku menjadikan diriku hamba dari semua orang,
supaya aku boleh memenangkan
sebanyak mungkin orang.Demikianlah bagi orang Yahudi
aku menjadi seperti orang Yahudi,
supaya aku memenangkan
orang-orang Yahudi.Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat
aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat
(sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat),
supaya aku dapat memenangkan
mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat
aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat
(sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah,
karena aku hidup di bawah hukum Kristus),
supaya aku dapat memenangkan
mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.Bagi orang-orang yang lemah
aku menjadi seperti orang yang lemah,
supaya aku dapat menyelamatkan
mereka yang lemah.Bagi semua orang
aku telah menjadi segala-galanya,
supaya aku sedapat mungkin memenangkan
beberapa orang dari antara mereka.
(1 Kor 9:19-22)
Dapat kita perhatikan sebuah pola pada perikop di atas:
Bagi X
aku telah menjadi seperti X
supaya aku dapat {memenangkan, menyelamatkan}
X.
Sebagai contoh:
Bagi Budi
aku telah menjadi seperti Budi
supaya aku dapat memenangkan
Budi.Bagi orang Eropa
aku telah menjadi seperti orang Eropa
supaya aku dapat menyelamatkan
orang Eropa.
Atau, menurut sebuah buku yang saya baca:
Kontekstualisasi adalah bagaimana cara menabur bibit [i.e., Kabar Baik] tanpa harus menanam pot dan tanahnya. [i.e., budaya sang penabur]
Kontekstualisasi tidak hanya berarti harus bersedia mengorbankan banyak budaya asal yang mungkin bertentangan dengan budaya tujuan, namun seringkali meliputi kesediaan untuk mengorbankan banyak tradisi dan budaya rohani asal. Saat kita menjalankan misi itu sepenuhnya lah kita baru menyadari mana sebenarnya dogma rohani kita yang esensial dan mana yang opsional atau tradisional semata. Dan, ironisnya, ini lah yang paling sulit untuk dilakukan. Untuk melepaskan banyak kosa kata rohani kita dan melepaskan banyak kebiasaan ibadah kita. Yang malahan paling sering menjadi polemik di antara kita. Saya pernah menyaksikan bagaimana seseorang boleh dibilang melepaskan hampir semua identitas kekristenannya dan secara literal memenuhi apa yang ditulis Paulus di atas. Dan begitu tertegun ketika menyadari latar belakang tradisi kekristenannya sungguh berbeda dengan apa yang ia lakukan sekarang. Supaya apa? Supaya ia dapat memenangkan Budi, atau orang Eropa. Tergantung di mana dan kepada siapa kontekstualisasi itu dijalankan.
Ketika saya pertama kali menyadari hal ini, pemikiran saya pertama kali menuju kepada kondisi kesatuan gereja pada masa ini. Yang terkadang terpecah-pecah karena alasan yang sepele dan menggelikan. Gaya ibadah, lah. Ga suka sama jenis lagunya, lah. Walau, mungkin ada penjelasan rasional mengenai hal ini. Yaitu, untuk menjaga kemurnian ajaran. Namun, sampai semurni apakah kita ingin menjalankan ajaran kita? Sadarkah kita kalau sebenarnya praktek ibadah kita sebagian besar sangat Barat sekali? Sungguh pengalaman saya itu menyadarkan saya bahwa banyak aspek spiritualitas saya yang opsional (terutama yang praksis) dan apa saja yang sebenarnya esensial.
Karena itu, bermisilah sebagai sebuah gereja. Saat sebuah gereja semakin bermisi, saat itu pulalah sebuah gereja semakin menyadari betapa banyak aspek spiritualitasnya yang sebenarnya sebuah tradisi dan budaya semata. Saat itulah sebuah gereja akan semakin menghargai bermacam-macam tradisi gereja yang berbeda dengan dirinya. Saat itu pulalah gereja-gereja boleh semakin bersatu dalam mengabarkan Kabar Baik. Tidaklah heran kalau konferensi mahasiswa interdenominasi pertama (dan kedua, ketiga) di Singapura adalah konferensi misi. Saat gereja bermisi, ia bersatu.
Sungguh, pilihan membutakan kita. Pernahkah teman-teman berpikir, bagaimana jemaat Protestan Indonesia dengan ratusan denominasinya di Indonesia dapat beribadah dengan belasan denominasi saja di Singapura? Ya, karena di sini ‘lebih sedikit’ pilihan. Sekarang bagaimana kalau di sebuah tempat hanya terdapat satu denominasi saja? Die, die, walaupun berbeda jauh, kita akan beribadah di sana. Apalagi, dalam misi yang berkontekstualisasi. Bahkan, kalau saya bilang, kita akan bersedia untuk mengorbankan bentuk ibadah yang biasa kita temui di gereja! Ya, mengapa tidak? Mengapa tidak kita kembangkan sendiri liturgi à la Indonesia? Banyak yang sudah terlanjur terjadi dan seperti tak mungkin untuk dipulihkan lagi. Salah satunya adalah bentuk ibadah kita. Saya hanya bisa berandai-andai seperti apakah jadinya jikalau misionaris-misionaris Eropa itu berkontekstualisasi dalam misi mereka ke belahan penjuru dunia. Saya sungguh bersyukur untuk sumbangsih mereka dan tidak mengecilkan sedikit pun ketaatan mereka yang telah membagikan Kabar Baik ke banyak daerah yang sebelumnya tidak mengenal Yesus. Namun, kita selalu dapat belajar dari pengalaman masa lalu. Alkitab bukanlah kitab yang berisi orang-orang yang sempurna (kec. Yesus), namun berisikan orang-orang yang berdosa namun bersandar kepada kasih karunia Tuhan. Sejarah gereja tidak sepenuhnya diisi oleh kisah-kisah indah, namun banyak kekelaman sering terjadi pula. Kita bisa belajar dari sejarah ribuan tahun gereja telah bermisi. Marilah ketika kita bermisi, kita tidak menanam pot dan tanah kita, tidak memaksakan tradisi dan budaya rohani kita, namun membiarkan sendiri gereja lokal di sana untuk menentukan bagaimana mereka akan mengembangkan tradisi dan budaya rohani mereka masing-masing. Dan, bukan sinkretisme tentunya! Kesetiaan terhadap Firman Tuhan harus diutamakan. Lagi, kita harus setia kepada Firman Tuhan. Namun, kita harus dengan rendah hati pula menerima kalau banyak hal yang kita lakukan sekarang ini sebenarnya merupakan tradisi dan budaya semata.
Bagaimana dengan yang sudah ada sekarang? Bagaimana yang sudah terlanjur terpecah-pecah? Sejujurnya, saya masih mendambakan adanya kesatuan penuh antara gereja-gereja. Entah bagaimana caranya, saya tidak tahu. Namun, ada cara minimal yang menurut saya akan menunjukkan sikap hormat dan mengakui otoritas gereja lain. Saya sering sedih ketika mendengar ada sebuah gereja yang menanam gereja di sebuah tempat yang sebenarnya, o ya, ada gereja di sana! Hanya karena gereja ini berbeda dengan gereja lokal di tempat itu, jadilah mereka menanam gereja di sana. Misalnya, jemaat berbahasa Indonesia di Singapura. Ketika ada sebuah gereja berbahasa Indonesia baru di sini, saya pun bertanya: apa yang ada disini kurang, ya? Sampai kapan kita mau menambah gereja di sini? Bagi saya, maaf saja, menanam gereja di tempat di mana gereja sudah ada dan sebenarnya cukup untuk menampung umat Kristen di sana dan menjangkau orang yang belum percaya sama dengan sebuah pernyataan sikap bahwa kita tidak mengakui gereja-gereja di sini mampu untuk menyokong umat Kristen di sana. Saya pribadi, asalkan gereja lokal tidak liberal, tidak akan pernah menanam gereja di sebuah tempat di mana gereja sudah ada. Jika memang kita merasakan bahwa gereja lokal membutuhkan pertolongan, tolonglah. Masih banyak cara untuk menolong, bukan? Memberi pembinaan, menyokong dengan dana, mendukung dalam doa. Mengapa tidak? Sungguh, pilihan membutakan kita.
Pengalaman saya melihat bagaimana seseorang bersedia melakukan kontekstualisasi secara radikal untuk dapat menjangkau orang lain akan selalu mengingatkan saya bahwa saya harus bersedia untuk bersekutu dengan semua saudara saya terlepas dari apa pun latar belakang mereka. Kalau kita sudah demikian relanya berubah dan berkorban demi orang lain untuk mendengarkan Injil, saya tidak melihat adanya alasan mengapa saya harus menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah yang mungkin akan berbeda jauh dengan tradisi dan budaya rohani yang biasa saya jalani.
Akhir kata, saya mohon maaf jika tulisan ini mungkin tidak berkenan di hati saudara. Jikalau saya terkesan keras dalam tulisan ini, semoga itu hanya karena kerinduan hati saya yang mendalam dan besar untuk melihat gereja Tuhan bisa bersatu. Dan kegetiran hati saya ketika melihat betapa gereja Tuhan masih saling terkam satu sama lain. Kesatuan gereja adalah sebuah topik yang sudah menempati tempat tersendiri dalam hati saya.
PS: Setelah saya membaca lagi tulisan ini, saya menyadari kalau alur pikiran di tulisan ini agak tidak terorganisir. Mungkin suatu hari saya akan merapikannya. =)
November 30, 2007 at 2:27 pm
saya setuju dengan pendapat Anda, namun untuk menyatukan gereja yang selama ini kurang “bersahabat” karena pengajaran yang berbeda cukup sulit. Namun masih ada harapan karena kerinduan-kerinduan kita akan pengajaran yang lebih relevan bagi Indonesia, maka gereja-gereja itu akan tertegur sendiri. Gbu
Maret 5, 2009 at 4:16 pm
Salut bagi pemikiran Anda. Kegundahan semacam ini semestinya ada dan harus bergejolak di tiap batin orang percaya. bagaimana seefektif mungkin kita menyampaikan kabar baik.kesatuan gereja yang kita impikan bersama sebenarnya akan bermuara di titik misi. hanya saja persimpangan di dalam gereja dan dasar theologia yang selama ini mewarnainya, menjadkan kita kehilangan arah, tujuan dan hakekat gereja.gbu