Sebagai orang yang hidup di Singapura, saya sudah cukup termanjakan, terbiasa, dan terpengaruh budaya instan negeri ini. Internet cepat, akses informasi instan, kegiatan yang padat, perubahan tren dalam waktu yang sekejap. Budaya instan ini juga mempengaruhi spiritualitas kita. Saat teduh sejenak, renungan singkat, pertumbuhan instan, dst. Dan hal ini ternyata turut mempengaruhi bagaimana gereja berpikir dalam mendukung pelayanan misi.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mendengarkan seorang pekerja yang menceritakan bagaimana ia sulit mencari dukungan dana dari gereja. Dalam arti, pada umumnya banyak yang ingin mendukung pelayanannya dalam dana, hanya saja untuk jangka waktu yang singkat. Dua tahun. Tiga tahun. Dan kalau dalam jangka waktu tersebut tidak ada “buah”, maka dukungan dana tersebut dicabut. Dengan tidak memperhatikan betapa sulit daerah yang dilayani. Dan lebih terpincut dengan potensi daerah yang lain. Mendengar betapa banyak dan cepat “buah” di sana. Karena itu, jarang yang berani untuk mendukung daerah yang sama dengan setia sampai puluhan tahun.

Pekerja itu melanjutkan ceritanya dengan mengingatkan kita dari sejarah. Ia menunjukkan bahwa banyak daerah yang memang membutuhkan waktu yang lama untuk terbuka. Namun kita seolah-olah tidak melihat hal itu. Yang kita inginkan adalah hasil, sekarang juga. Ya kalau begini, repot. Kita jadi mudah kecewa jika setelah dua, tiga, bahkan sampai lima tahun, tidak ada hasil. Namun, apa artinya lima tahun. Kita harus siap mendukung pelayanan misi ke daerah-daerah yang memang sulit bukan hanya untuk jangka waktu tersebut. Kita harus siap untuk mendukung selama puluhan tahun.

Mulai bulan ini saya juga memiliki komitmen pribadi untuk mendukung pelayanan seorang pengerja. Semoga saya sungguh-sungguh menghidupi apa yang telah saya tulis dan yakini ini.