September 2007


pada tahun 2002, Timor Leste menjadi anggota PBB, sama seperti Indonesia.

5 tahun lewat sudah, apa pandangan Indonesia kepada Tim-tim? Pengkhianatkah? Sama seperti jambret dan supir tabrak lari?

5 tahun lewat sudah, apa pandangan Timor Leste kepada Indonesia? Penjajahkah? Sama seperti Netherlands dan Nippon yang menyisakan pahit dan getir?

5 tahun lewat sudah, apa cita anak bangsa? Dengki ataukah damai?

Saya suka membaca sejarah. Melihat dan merenungkan bagaimana Allah terus bekerja dari waktu ke waktu. Pun dengan sejarah penyebaran Kabar Baik ke seluruh dunia. Saya mudah untuk terkagum melihat ketaatan orang-orang yang memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang yang belum pernah sama sekali mendengar kisah kasih Allah ini. Terkagum, terharu, terbuai.

Namun, sesuai naturnya, sejarah akan terus berkembang. Masa yang kita hidupi sekarang pun akan menjadi sejarah, nantinya. Sejarah pemberitaan kisah kasih Allah masih ditulis. Dan kita pun sebenarnya dipanggil untuk ambil bagian di dalamnya. Siapa tahu, seratus tahun lagi, di buku “From Jerusalem to Irian Jaya” edisi terbaru, kita akan menemukan kalimat berikut ini: “Pada awal abad ke-21, dimulailah pergerakan misi mahasiswa Indonesia di Singapura…” Siapa tahu. =)

Konteks kata kontekstualisasi di tulisan ini adalah kontekstualisasi yang dilakukan di misi. Dan di tulisan ini saya mengadopsi arti misi sebagai pelayanan pekabaran Injil lintas budaya. Kontekstualisasi dengan indah diutarakan Paulus dengan:

Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang,
aku menjadikan diriku hamba dari semua orang,
supaya aku boleh memenangkan
sebanyak mungkin orang.

Demikianlah bagi orang Yahudi
aku menjadi seperti orang Yahudi,
supaya aku memenangkan
orang-orang Yahudi.

Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat
aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat
(sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat),
supaya aku dapat memenangkan
mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.

Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat
aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat
(sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah,
karena aku hidup di bawah hukum Kristus),
supaya aku dapat memenangkan
mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.

Bagi orang-orang yang lemah
aku menjadi seperti orang yang lemah,
supaya aku dapat menyelamatkan
mereka yang lemah.

Bagi semua orang
aku telah menjadi segala-galanya,
supaya aku sedapat mungkin memenangkan
beberapa orang dari antara mereka.
(1 Kor 9:19-22)

Dapat kita perhatikan sebuah pola pada perikop di atas:

Bagi X
aku telah menjadi seperti X
supaya aku dapat {memenangkan, menyelamatkan}
X.

Sebagai contoh:

Bagi Budi
aku telah menjadi seperti Budi
supaya aku dapat memenangkan
Budi.

Bagi orang Eropa
aku telah menjadi seperti orang Eropa
supaya aku dapat menyelamatkan
orang Eropa.

Atau, menurut sebuah buku yang saya baca:

Kontekstualisasi adalah bagaimana cara menabur bibit [i.e., Kabar Baik] tanpa harus menanam pot dan tanahnya. [i.e., budaya sang penabur]

Kontekstualisasi tidak hanya berarti harus bersedia mengorbankan banyak budaya asal yang mungkin bertentangan dengan budaya tujuan, namun seringkali meliputi kesediaan untuk mengorbankan banyak tradisi dan budaya rohani asal. Saat kita menjalankan misi itu sepenuhnya lah kita baru menyadari mana sebenarnya dogma rohani kita yang esensial dan mana yang opsional atau tradisional semata. Dan, ironisnya, ini lah yang paling sulit untuk dilakukan. Untuk melepaskan banyak kosa kata rohani kita dan melepaskan banyak kebiasaan ibadah kita. Yang malahan paling sering menjadi polemik di antara kita. Saya pernah menyaksikan bagaimana seseorang boleh dibilang melepaskan hampir semua identitas kekristenannya dan secara literal memenuhi apa yang ditulis Paulus di atas. Dan begitu tertegun ketika menyadari latar belakang tradisi kekristenannya sungguh berbeda dengan apa yang ia lakukan sekarang. Supaya apa? Supaya ia dapat memenangkan Budi, atau orang Eropa. Tergantung di mana dan kepada siapa kontekstualisasi itu dijalankan.

Ketika saya pertama kali menyadari hal ini, pemikiran saya pertama kali menuju kepada kondisi kesatuan gereja pada masa ini. Yang terkadang terpecah-pecah karena alasan yang sepele dan menggelikan. Gaya ibadah, lah. Ga suka sama jenis lagunya, lah. Walau, mungkin ada penjelasan rasional mengenai hal ini. Yaitu, untuk menjaga kemurnian ajaran. Namun, sampai semurni apakah kita ingin menjalankan ajaran kita? Sadarkah kita kalau sebenarnya praktek ibadah kita sebagian besar sangat Barat sekali? Sungguh pengalaman saya itu menyadarkan saya bahwa banyak aspek spiritualitas saya yang opsional (terutama yang praksis) dan apa saja yang sebenarnya esensial.

Karena itu, bermisilah sebagai sebuah gereja. Saat sebuah gereja semakin bermisi, saat itu pulalah sebuah gereja semakin menyadari betapa banyak aspek spiritualitasnya yang sebenarnya sebuah tradisi dan budaya semata. Saat itulah sebuah gereja akan semakin menghargai bermacam-macam tradisi gereja yang berbeda dengan dirinya. Saat itu pulalah gereja-gereja boleh semakin bersatu dalam mengabarkan Kabar Baik. Tidaklah heran kalau konferensi mahasiswa interdenominasi pertama (dan kedua, ketiga) di Singapura adalah konferensi misi. Saat gereja bermisi, ia bersatu.

Sungguh, pilihan membutakan kita. Pernahkah teman-teman berpikir, bagaimana jemaat Protestan Indonesia dengan ratusan denominasinya di Indonesia dapat beribadah dengan belasan denominasi saja di Singapura? Ya, karena di sini ‘lebih sedikit’ pilihan. Sekarang bagaimana kalau di sebuah tempat hanya terdapat satu denominasi saja? Die, die, walaupun berbeda jauh, kita akan beribadah di sana. Apalagi, dalam misi yang berkontekstualisasi. Bahkan, kalau saya bilang, kita akan bersedia untuk mengorbankan bentuk ibadah yang biasa kita temui di gereja! Ya, mengapa tidak? Mengapa tidak kita kembangkan sendiri liturgi à la Indonesia? Banyak yang sudah terlanjur terjadi dan seperti tak mungkin untuk dipulihkan lagi. Salah satunya adalah bentuk ibadah kita. Saya hanya bisa berandai-andai seperti apakah jadinya jikalau misionaris-misionaris Eropa itu berkontekstualisasi dalam misi mereka ke belahan penjuru dunia. Saya sungguh bersyukur untuk sumbangsih mereka dan tidak mengecilkan sedikit pun ketaatan mereka yang telah membagikan Kabar Baik ke banyak daerah yang sebelumnya tidak mengenal Yesus. Namun, kita selalu dapat belajar dari pengalaman masa lalu. Alkitab bukanlah kitab yang berisi orang-orang yang sempurna (kec. Yesus), namun berisikan orang-orang yang berdosa namun bersandar kepada kasih karunia Tuhan. Sejarah gereja tidak sepenuhnya diisi oleh kisah-kisah indah, namun banyak kekelaman sering terjadi pula. Kita bisa belajar dari sejarah ribuan tahun gereja telah bermisi. Marilah ketika kita bermisi, kita tidak menanam pot dan tanah kita, tidak memaksakan tradisi dan budaya rohani kita, namun membiarkan sendiri gereja lokal di sana untuk menentukan bagaimana mereka akan mengembangkan tradisi dan budaya rohani mereka masing-masing. Dan, bukan sinkretisme tentunya! Kesetiaan terhadap Firman Tuhan harus diutamakan. Lagi, kita harus setia kepada Firman Tuhan. Namun, kita harus dengan rendah hati pula menerima kalau banyak hal yang kita lakukan sekarang ini sebenarnya merupakan tradisi dan budaya semata.

Bagaimana dengan yang sudah ada sekarang? Bagaimana yang sudah terlanjur terpecah-pecah? Sejujurnya, saya masih mendambakan adanya kesatuan penuh antara gereja-gereja. Entah bagaimana caranya, saya tidak tahu. Namun, ada cara minimal yang menurut saya akan menunjukkan sikap hormat dan mengakui otoritas gereja lain. Saya sering sedih ketika mendengar ada sebuah gereja yang menanam gereja di sebuah tempat yang sebenarnya, o ya, ada gereja di sana! Hanya karena gereja ini berbeda dengan gereja lokal di tempat itu, jadilah mereka menanam gereja di sana. Misalnya, jemaat berbahasa Indonesia di Singapura. Ketika ada sebuah gereja berbahasa Indonesia baru di sini, saya pun bertanya: apa yang ada disini kurang, ya? Sampai kapan kita mau menambah gereja di sini? Bagi saya, maaf saja, menanam gereja di tempat di mana gereja sudah ada dan sebenarnya cukup untuk menampung umat Kristen di sana dan menjangkau orang yang belum percaya sama dengan sebuah pernyataan sikap bahwa kita tidak mengakui gereja-gereja di sini mampu untuk menyokong umat Kristen di sana. Saya pribadi, asalkan gereja lokal tidak liberal, tidak akan pernah menanam gereja di sebuah tempat di mana gereja sudah ada. Jika memang kita merasakan bahwa gereja lokal membutuhkan pertolongan, tolonglah. Masih banyak cara untuk menolong, bukan? Memberi pembinaan, menyokong dengan dana, mendukung dalam doa. Mengapa tidak? Sungguh, pilihan membutakan kita.

Pengalaman saya melihat bagaimana seseorang bersedia melakukan kontekstualisasi secara radikal untuk dapat menjangkau orang lain akan selalu mengingatkan saya bahwa saya harus bersedia untuk bersekutu dengan semua saudara saya terlepas dari apa pun latar belakang mereka. Kalau kita sudah demikian relanya berubah dan berkorban demi orang lain untuk mendengarkan Injil, saya tidak melihat adanya alasan mengapa saya harus menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah yang mungkin akan berbeda jauh dengan tradisi dan budaya rohani yang biasa saya jalani.

Akhir kata, saya mohon maaf jika tulisan ini mungkin tidak berkenan di hati saudara. Jikalau saya terkesan keras dalam tulisan ini, semoga itu hanya karena kerinduan hati saya yang mendalam dan besar untuk melihat gereja Tuhan bisa bersatu. Dan kegetiran hati saya ketika melihat betapa gereja Tuhan masih saling terkam satu sama lain. Kesatuan gereja adalah sebuah topik yang sudah menempati tempat tersendiri dalam hati saya.

PS: Setelah saya membaca lagi tulisan ini, saya menyadari kalau alur pikiran di tulisan ini agak tidak terorganisir. Mungkin suatu hari saya akan merapikannya. =)

Where there is no prophetic vision the people cast off restraint,
but blessed is he who keeps the law.
(Pro 29:18)

Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.
Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.
(Ams 29:18)

Pekerjaan saya sekarang mengharuskan saya untuk pergi ke National Cancer Centre (NCC) seminggu sekali dan ke Nanyang Technological University (NTU) di empat hari lainnya. Dan lingkungan kerja di dua tempat ini berbeda jauh. Di NTU, saya ditempatkan di sebuah lab dengan etos kerja yang cukup rendah. Mahasiswa PhD di lab ini seperti tidak terlihat keseriusannya dalam mengerjakan atau memikirkan tesisnya. Dan ini berpengaruh kepada saya. Sulit sekali menemukan motivasi ketika saya bekerja di NTU di tengah lingkungan yang sulit seperti ini.

Sebaliknya, di NCC (saya ditempatkan di bagian Oncologic Imaging – CT, MRI, X-ray, Ultrasound, PET, etc.), tampaknya semua orang mengerjakan tugasnya dengan bertanggung jawab. Walau, tentunya, memang ada dua latar belakang terhadap hal ini. Pertama, karena tuntutan pekerjaan, dalam arti kedatangan pasien yang seperti tidak habis-habisnya memang mengharuskan kita untuk menjalankan tugas kita. Jika kita bermalas-malasan, pastilah pekerjaan kita akan tidak selesai.

Kedua, karena memang kita dengan segenap hati mengerjakan tugas kita. Untuk ini pun masih ada dua sisi yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan, namun dapat dibedakan. Yaitu, untuk sedapat mungkin mengerjakan bagian masing-masing dalam pelayanan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan, dalam hal ini, orang-orang yang sakit kanker dan ingin mengetahui perkembangan terapi mereka (diagnosis) maupun yang ingin mendeteksi apakah ada tumor di dalam tubuh mereka (prognosis). Dan, tentunya, untuk bekerja segenap hati untuk Tuhan. Ya, bekerja bagi manusia dan bagi Tuhan. Pro Deo et homo.

Sayangnya, saya masih belum berbuat apapun dengan segenap hati seperti untuk Tuhan. At best, saya bekerja dengan segenap hati sebagai bentuk kasih terhadap sesama saja. Tiap kali saya ke NCC, hati saya selalu trenyuh melihat kondisi pasien-pasien di sana. Dan itu yang selalu mendorong saya untuk mengerjakan tugas saya dengan baik. Dengan doa dan harapan bahwa riset dan pekerjaan saya suatu hari dapat meningkatkan kualitas terapi kanker. Dan, puji Tuhan, setiap kali saya ke NCC saya akan kembali lagi ke NTU dengan lebih bertanggung jawab. Sebelum pada akhirnya harus berjuang lagi dan melawan suasana ‘kemalasan’ di lab saya. Menurut terminologi teknik kontrol, pergi ke NCC adalah bentuk kontrol terhadap pekerjaan saya untuk mencegah ‘ketidakstabilan’ yang akan mungkin terjadi jika saya tidak dikontrol. (walau hal sebaliknya sangat mungkin terjadi: saya mengekspor kemalasan dari NTU ke NCC! Lord forbid!) Dan itu kondisi at best.

At worst, saya bekerja masih karena tuntutan pekerjaan. Dalam bahasa saya, sungguh mustahil untuk bermalas-malasan ketika saya melihat bagaimana rekan-rekan yang lain bekerja dengan setia! Dan, sungguh mustahil pula untuk bermalas-malasan ketika melihat pasien-pasien itu.

Ayat yang saya kutip di atas merupakan ayat saat teduh saya beberapa minggu yang lalu yang merefleksikan kondisi saya sekarang. Ketika tidak ada ‘prophetic vision’, menjadi liarlah rakyat. Ketika saya melupakan bagaimana kondisi di NCC, menjadi liarlah saya. Namun, lebih baik lagi, berbahagialah orang yang berpegang pada hukum dan tidak perlu menunggu ‘prophetic vision.’ Ketimbang bekerja dengan ‘kontrol’, adalah lebih baik untuk bekerja dengan segenap hati. Dengan berpegang pada hukum. Hukum kasih. Kasihilah Tuhan Allahmu, kasihilah sesamamu manusia. Bekerja sebagai bentuk kasih terhadap Tuhan dan sesama. Tuhan tolong saya. Amin.

Seperti orang gila menembakkan panah api, panah dan maut,demikianlah orang yang memperdaya sesamanya dan berkata : “aku hanya bersenda gurau.” (Amsal 26 : 18-19)

Seberapa banyak dari kita yang berpikir sebelum kita bercanda (bersenda gurau)? Di sebuah film, saya melihat tentang salah satu bagian cerita dimana seseorang berkata kepada temannya bahwa rumahnya kebakaran. Temannya itupun menjadi panik dan segera berlari ke rumahnya. Ternyata dia mendapati bahwa rumahnya masih utuh dan baik-baik saja. Kontan teman ini kembali dengan marah-marah. Namun dengan santainya, orang tadi berkata bahwa ia hanya bercanda saja. Mungkin saat kita menonton film ini, kita akan tertawa karena melihat temannya yang berlari panik dan akhirnya mendapati dia sedang dibohongi.

Mari kita pertimbangkan kasus seperti ini. Seandainya temannya adalah orang yang sakit jantung. Begitu dikatakan bahwa rumahnya kebakaran, orang ini langsung terkena serangan jantung dan meninggal. Padahal, maksud awal dari orang itu hanya ingin bercanda, namun  malah mengakibatkan kematian.

Mungkin tidak semua kasus seperti ini, tapi “kematian-kematian” lain mungkin terjadi. Tak salah jika dikatakan “lidah bagaikan pedang”. Pertimbangkanlah, apakah saat kita bercanda, kita malah mungkin sedang menusukkan pedang tersebut ke dalam hati teman kita?

Sebagai orang yang hidup di Singapura, saya sudah cukup termanjakan, terbiasa, dan terpengaruh budaya instan negeri ini. Internet cepat, akses informasi instan, kegiatan yang padat, perubahan tren dalam waktu yang sekejap. Budaya instan ini juga mempengaruhi spiritualitas kita. Saat teduh sejenak, renungan singkat, pertumbuhan instan, dst. Dan hal ini ternyata turut mempengaruhi bagaimana gereja berpikir dalam mendukung pelayanan misi.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mendengarkan seorang pekerja yang menceritakan bagaimana ia sulit mencari dukungan dana dari gereja. Dalam arti, pada umumnya banyak yang ingin mendukung pelayanannya dalam dana, hanya saja untuk jangka waktu yang singkat. Dua tahun. Tiga tahun. Dan kalau dalam jangka waktu tersebut tidak ada “buah”, maka dukungan dana tersebut dicabut. Dengan tidak memperhatikan betapa sulit daerah yang dilayani. Dan lebih terpincut dengan potensi daerah yang lain. Mendengar betapa banyak dan cepat “buah” di sana. Karena itu, jarang yang berani untuk mendukung daerah yang sama dengan setia sampai puluhan tahun.

Pekerja itu melanjutkan ceritanya dengan mengingatkan kita dari sejarah. Ia menunjukkan bahwa banyak daerah yang memang membutuhkan waktu yang lama untuk terbuka. Namun kita seolah-olah tidak melihat hal itu. Yang kita inginkan adalah hasil, sekarang juga. Ya kalau begini, repot. Kita jadi mudah kecewa jika setelah dua, tiga, bahkan sampai lima tahun, tidak ada hasil. Namun, apa artinya lima tahun. Kita harus siap mendukung pelayanan misi ke daerah-daerah yang memang sulit bukan hanya untuk jangka waktu tersebut. Kita harus siap untuk mendukung selama puluhan tahun.

Mulai bulan ini saya juga memiliki komitmen pribadi untuk mendukung pelayanan seorang pengerja. Semoga saya sungguh-sungguh menghidupi apa yang telah saya tulis dan yakini ini.

Seorang teman bercerita tentang kejadian yang baru saja ia alami pada saat ia ke Hong Kong. Pada saat akan masuk ke kereta dalam kota, seorang pencopet mengambil dompetnya dan membawanya (dompetnya) kabur. Singkat kata seorang polisi gendut mengejar pencopet ini (sayang bukan Samo Hung) dan menghilang dari pandangan. Sayangnya juga, tidak seperti di film-film di mana si polisi menggunakan keahlian akrobat khas Jackie Chan berhasil menangkap si pencopet ini, dalam kasus temanku ia tidak berhasil menangkap si pencuri ini.

Cerita temanku ini mengingatkanku bahwa kita bisa melihat banyak kejadian serupa di mana terjadi kejar-kejaran polisi dan pencuri. Tetapi yang ingin aku bicarakan adalah orang-orang alias crowd yang ada di sekitar daerah kejadian. Misalnya kita bisa melihat adegan di mana polisi mengejar pencuri melewati daerah pasar dan ada kereta-kereta buah-buahan yang terbalik dan buah-buahan yg tercecer di mana-mana. Memang mungkin dalam kasus ini si penjual buah tidak punya cukup waktu buat bereaksi apa-apa. Tetapi seringkali kita perhatikan juga bahwa ada orang banyak yang semustinya mengetahui bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi, bahwa ada polisi yg sedang mengejar dan satu-satunya orang yang sedang berlari di depan polisi adalah seorang yg kemungkinan besar adalah orang yang polisi ini kejar. Dan sepertinya, orang-orang ini punya cukup waktu buat bereaksi. Entah itu menahan si pencuri supaya tidak terus lari, ataukah…… menghindar?

Mencoba berhipotesa sedikit, apakah kira-kira yang ada di pikiran orang-orang itu? Apakah…

“gak boleh kepo ah.. itu kan urusan mereka…”

“huh huh? Ini orang yang lagi lari ini buronan polisi? Berarti semustinya aku bantu polisi itu donk? Eh… tapi kalo ternyata dia cuman lagi lari aja dan bukan buronan gimana? Malu atuh…”

“jangan maen sok jagoan ah.. ntar kenapa-napa repot”

“Ah ada juga orang yang lain bisa bantuin. Kenapa harus aku?”

“gerak enggak gerak enggak gerak enggak gerak enggak (100x)…. …. …..”

“huh? apa?”

“…”

dan lain-lain.

Entah apa yang mereka pikirkan. Dan aku sendiri mungkin masih bergumul apakah kalau aku ada dalam posisi salah satu orang itu, aku akan bertindak dengan benar? – entah apakah “tindakan yang benar itu”.

Bagaimana dengan anda? Kalau anda sedang berada di suatu jalan, lalu seorang polisi sedang mengejar seorang lelaki yang sedang berlari-lari membawa sebuah benda yang kelihatannya seperti dompet dan melaju ke arah anda? Apa yang akan anda lakukan?

Berawal dari sebuah percakapan santai dengan dua orang teman sebelum pergi untuk brunch, saya diingatkan oleh sebuah quote dari nickname MSN teman saya. Bunyinya begini:

“Early birds get the worms” – “Early worms get eaten by the birds”

yang bisa diterjemahkan menjadi

“Burung-burung yang bangun awal mendapatkan cacing-cacing” – “Cacing-cacing yang bangun awal dimakan oleh burung-burung”

 dan menurut teman saya ini (kalau tidak salah), moral cerita ini adalah

“once you’re a worm you will always be a worm” - and get eaten by the birds.

yang kira-kira bisa diterjemahkan menjadi

“Sekali cacing tetaplah cacing” – dimakan oleh burung-burung.

Yah, memang tidak sepenuhnya salah juga. Tetapi membuatku jadi berpikir. Kita sebagai manusia, mau menempatkan diri dalam cerita ini sebagai seekor burung ataukah seekor cacing?

Kita-kita yang mengasosiasikan diri dengan para cacing akan berkata,

“Yah, kalau begitu, mau bangun pagi mau bangun siang tidak akan merubah fakta bahwa aku adalah seekor cacing. Dan seekor cacing sudah ditakdirkan untuk dimakan oleh burung-burung. Lebih baik kita bersantai-santai saja setelah puas baru kita bangun dan menunggu dimakan oleh burung-burung di udara”

Sebaliknya, kita yang mengasosiasikan diri dengan para burung akan berkata,

“Mari kita bangun awal dan pergi untuk mencari cacing-cacing itu karena kita memang perlu (baca: terpanggil untuk) makan. Kalau kita menunda-nunda untuk pergi mungkin kita tidak akan bisa dapat makan hari ini – memang sih, ada cacing-cacing yang bermalas-malasan sehingga baru keluar di siang hari tetapi setidaknya sekali mereka keluar bisa langsung kita makan”

Kejadian 1:26,

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, …

Kita diciptakan menurut gambar dan rupaNya, kita jauh lebih berharga dibandingkan burung-burung itu (Matius 6:26). Masakan kita mau menyamakan panggilan yang kita miliki dengan takdir para cacing? Ironisnya, manusia seringkali berusaha menolak panggilan yang ia miliki (Yunus misalnya) dan memilih untuk menyerah pada “takdir” (perhatikan tanda kutip di sini) yg sebenarnya jelas bukan apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita.

Bagaimana dengan anda?

“Palsu”. Kata ini memberikan 2 realita yang sangat bertolak belakang. Orang sangat membenci kalau karyanya atau barang miliknya dipalsukan. Tapi di sisi lain, banyak orang senang menggunakan barang palsu. Aneh tapi nyata, begitulah keadaan banyak orang sekarang yang mudah tersinggung ketika dikatakan egois, tapi arah dari perbuatan-perbuatan mereka adalah diri sendiri.

Terlebih buruk lagi, ternyata bukan hanya barang (sesuatu yang nampak saja) yang bisa di palsukan. Hal-hal yang tidak nampakpun sangat mudah dipalsukan. Hati-hatilah. Apakah yang anda rasakan ketika menerima sesuatu yang palsu? Apakah anda mau? Jika tidak, maka anda masih termasuk manusia yang normal, yang mana masih bisa berpikir dengan jernih ketika membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan diri sendiri.

Jika anda tidak ingin sesuatu yang palsu dari orang lain, atau dipalsukan, maka sebagai orang normal, anda tahu kan apa yang harus diperbuat? Jujurlah pada diri sendiri!

secarik kalimat dari saat teduh;

It is not that God makes us beautifully rounded grapes, but that He squeezes the sweetness out of us. Spiritually, we cannot measure our life by success, but only by what God pours through us, and we cannot measure that at all.

Semoga bisa menguatkan kita yang merasa gagal dan di dalam tekanan =)