Agustus 2007


Saya baru saja pulang dari sebuah kelas malam di SBC. Tadi dibagikan sebuah buletin, dan ada satu kolom yang menarik disana. Kolom kesaksian. Ada dua mahasiswa yang membagikan cerita mereka. Satu berasal dari gereja Presbyterian, satu dari gereja Methodist. Ada satu hal yang menarik perhatianku, yaitu mengenai bagaimana masing-masing mendeskripsikan proses pertobatan mereka. Yang satu berkata,

“I was brought to Christ.”

Yang lain,

“I accepted Christ.”

Tentunya saya tidak perlu memberitahu pernyataan mana diucapkan oleh siapa, ya? =)

Di sini kita menyaksikan bagaimana latar belakang teologi kita mempengaruhi cara berbicara kita (dan, sebenarnya, sadar atau tidak sadar, banyak aspek kehidupan kita). Saya pikir (dan yakin) apa yang disampaikan keduanya sama-sama benar. Yang satu memberikan penekanan kepada kedaulatan Allah. Yang lain memberikan penekanan pada tanggung jawab manusia. Atau, seperti yang seorang teman saya bilang, “Ini ‘DAN’, bukan ‘ATAU.’”









Membaca tulisan Rasul Yohanes memberikan suatu anggapan bahwa Rasul Yohanes adalah seorang yang penuh kasih. Dia lebih banyak menulis tentang “kasih” dibandingkan dengan penulis Alkitab manapun.

Allah adalah kasih (1Yoh 4:8); Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini (Yoh 3:16); kamu harus hidup di dalam kasih (2Yoh 1:16).

Benarlah apabila Rasul Yohanes disebut sebagai ‘murid yang dikasihi Yesus’ dalam narasi Injil Yohanes. Namun terkadang kita lupa melihat bagaimana Yohanes pada awal dia mengikut Tuhan.

” Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh.”  (Markus 3:17)

Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk 9:53-54)

Mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka (Markus 9:34)

Kata Yohanes kepada Yesus: “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” (Markus 9:38)

Tentulah kita melihat bagaimana Yohanes yang dari dulu memiliki temperamen yang keras, sehingga diberi nama anak guruh, bisa berubah menjadi seorang yang penuh kasih. Bukan sepenuhnya meninggalkan sifatnya yang keras, tapi justru Tuhan mengubahnya menjadi suatu sisi positif bagi Yohanes. Teguran-teguran yang Yohanes berikan di 1 Yohanes, merupakan teguran-teguran yang keras, tanpa kompromi. Tetapi di sisi lain, itu juga teguran yang penuh kasih, teguran yang membangun.

Ada satu hal yang tentunya membuat Yohanes berubah. Satu hal yang sangat membekas di dirinya. Apakah itu? Itulah peristiwa di mana Yohanes menyaksikan Yesus disalibkan dari jarak yang begitu dekat. Di sanalah Yohanes menemukan Kasih yang sebenarnya. Bahwa memang sebegitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga memberikan Yesus untuk menanggung hukuman atas dosa. Dari sana lah ia belajar mengenai kasih. Menerima kasih itu hanya dari Kasih itu sendiri.

Bagaimana dengan kamu? Apakah gambaran Yesus disalib itu tidak membuatmu gentar dan mengubah hidupmu?

If… I find taught in one part of the Bible that everything is fore-ordained, that is true; and if I find, in another Scripture, that man is responsible for all his actions, that is true; and it is only my folly that leads me to imagine that these two truths can ever contradict each other.

They are two lines that are nearly so parallel, that the human mind which pursues them farthest will never discover that they converge, but they do converge, and they will meet somewhere in eternity, close to the throne of God, whence all truth doth spring.

Charles H. Spurgeon, “A Defense of Calvinism”

Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan!

Dan mencekam, jika boleh berkata sebaliknya.

Pasukan terlihat seperti lautan manusia, berdiri baris-berbaris, berhadap-hadapan dengan lembah landai yang memisahkan kedua pihak. Di atas satu bukit nampak berlaksa orang orang bertubuh kekar tegap yang terlihat agak asing di tanah ini. Memang mereka merupakan para ‘tetangga’ yang kurang menyenangkan bagi sang empunya tanah. Dari sisi inilah turun dua orang menuju ke lembah. Jika dilihat di pertunjukan sirkus mungkin pasangan ini cukup menggelitik tawa. Yang seorang tinggi besar, bersenjatakan lengkap sampai-sampai jika ia berjalan bunyi gemerincing senjata cukup nyaring terdengar. Yang seorangnya lagi meski pendek dan gempal, membawa tameng bulat yang hampir sebesar dirinya, sehingga terlihat seperti kumpulan benda-benda bundar saja. Sayangnya ini bukan sirkus, dan jelas terlihat kalau si tinggi adalah seorang prajurit kawakan, dan si gempal hanyalah kacungnya yang membawakan tamengnya.

Di zaman ini memang adalah sesuatu yang cukup umum dilakukan saat perang, jika seorang ‘prajurit pilihan’ dari masing-masing sisi bertarung di tengah sebelum pertempuran dimulai atau bahkan menjadi penentu kemenangan itu sendiri saat pertempuran sudah berlangsung cukup lama. Selain sangat mendukung sisi ekonomis dan anggaran biaya perang yang harus dikeluarkan dari pertempuran, taktik mengadu pejuang unggulan ini juga sangat berguna dalam perang, untuk bisa meningkatkan moral pasukan, tentu saja jika si unggulan menang.

Sang tuan rumah sebenarnya lebih berharap melanjutkan pertempuran langsung, mengingat sebenarnya mereka ada di tanah mereka sendiri sehingga lebih unggul di pertempuran medan. Tapi apa daya, pihak lawan sudah menantang. Jika Tuan rumah tidak mengikuti, prajurit-prajuritnya akan ragu dengan kesanggupan sang pemimpin, sedang mereka sendiri tidak begitu memiliki ‘jagoan’ yang bisa diandalkan untuk duel maut seperti ini.

Singkat kata, mereka sudah ‘termakan’ oleh gaya bermain musuh. Kelelahan tampak di mata mereka. Toh, pertempuran sudah berjalan selama 40 hari 40 malam…

……………………

Siapa sangka, seorang bocah gembala itu yang bisa mengalahkan jagoan musuh tersebut dalam sekejapan mata? Dan ia tidak takut karena saat ia menggembala sehari-hari, ia pun sering melindungi kawanan domba-dombanya dari serangan singa dan beruang.

Ia bukannya meremehkan perihal melindungi negara dengan menyamakannya dengan perihal melindungi kawanan domba, tapi malah menjadi sebuah contoh nyata dari perkataan:

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.

Karena baik dalam perkara kecil ataupun besar, ia pun mampu berkata bahwa;

TUHAN adalah kekuatanku

Jeritan dan teriakan seperti: “Wahh, kacau banget de pemerintahan kabinet sekarang.” “Turunkan menteri…, ganti dengan….” “Reshuffle kabinet!!”, mungkin itu adalah sedikit perwakilan dari beberapa respon yang bisa keluar ketika kita membicarakan tentang pemerintahan, khususnya dalam konteks ini bangsa kita sendiri, Indonesia. Hmm, jika menilik kepada perjalanan waktu semenjak kerusuhan besar (sekitar 1997), maka banyak orang akan berpikir wajar saja, toh memang pemerintahan zaman itu tidak ada yang beres (atau mendekati beres) sampai sekarang. Korupsi, utang, begitu juga masalah kerja sama dengan negara luar seperti tak kunjung padam menimpa Indonesia. Tapi apakah sikap seperti itu (termasuk mempunyai pikiran bahwa protes itu wajar) merupakan sikap yang benar?

Pemerintah merupakan hamba Tuhan dalam mengatur kehidupan manusia menuju ke arah yang lebih baik. Karena itu, pemerintah mempunyai otoritas dari Tuhan, yang mempunyai otoritas absolut atas semuanya. Otoritas untuk mengatur negara, otoritas hukum untuk mengatur keadilan dan kebenaran. Barangsiapa melawan pemerintah, orang itu juga berarti melawan Allah.

Apakah pemerintah juga mempunyai keabsolutan otoritas dalam menjalankan pemerintahannya? Tidak. Kita berhak tidak menuruti otoritas pemerintah, apabila suatu kebijakannya bertentangan dengan Firman Tuhan, karena Tuhanlah Allah, bukan pemerintah. Pertanyaannya, atas dasar apakah kita mengkritik, dan bahkan pada tahap yang lebih jauh menggugat pemerintah? Memang ada beberapa kebijakan pemerintah yang jelas salah dan perlu digugat, tapi penulis mengamati, penggugatan itu muncul atas dasar rasa ketidakpuasan pribadi atas kebijakan2 yang diambil. Suatu ketidakpuasan karena hal-hal tersebut idak sesuai dengan yang saya mau. Di poin inilah konflik timbul, karena tak mungkin orang-orang yang dipilih melalui demokrasi menyenangkan 200-an juta lebih jiwa.

Kita harus bisa menghormati perwakilan ini. Sampaikanlah kritik dan masukan melalui jalur yang tersedia, bukan langsung dengan tindakan anarkis (seperti yang terjadi di banyak negara belakangan ini), seolah-olah ingin menunjukkan kekuatan. Secara hierarki, kita berada dibawah pemerintah, maka kita tak punya hak otoritas apapun atas pemerintah.

Semoga pemerintah sadar akan tanggung jawabnya, terlebih, kepada siapa ia bertanggungjawab. Bukan hanya kepada rakyat, terutama kepada Tuhan. Semoga rakyatpun percaya kepada pemerintah sambil terus mengamati kebijakan2 yang diambil, seimbang antara sikap aktif dan pasif.

Semoga setiap pihak mengerti posisi dan tugas masing-masing. Untuk Indonesia, biarlah dengan usia yang ke-62, semakin berkembang, dewasa, begitu juga semua manusianya (termasuk penulis). Dirgahayu Indonesia.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang diatasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah.” (Rm 13:1)

Catatan:

Otorujuk = self-cite

Otokomen = self-comment

Beberapa hari yang lalu, ketika sedang mencari-cari artikel mengenai PBPK, saya menemukan ada satu pengarang yang hobinya merujuk ke artikelnya sendiri, walau artikelnya kebanyakan diterbitkan di satu jurnal saja (saya sempat menduga nakal bahwa orang ini adalah editor jurnal tersebut, karena itu karyanya hanya masuk di sana). Disebutnya, self-cite. Dan, seingat saya, saya sempat menertawakan hal ini. :(

Saat itu juga saya jadi teringat fenomena apa yang terjadi di Teoblogi. Sempat terheran-heran mengapa blog ini bisa masuk Growing Blogs pada hari Selasa yang lalu (14/08/07). Satu dugaan saya adalah rasio antara jumlah komen dengan jumlah post cukup “lumayan” (setiap post rata-rata dikomentari 2 kali – sebagai perbandingan, rasio di blog saya sekitar 0.36), usia blog yang relatif muda, dan frekuensi post yang cukup sering. Growing Blogs sendiri, menurut WordPress, adalah ‘blogs that gained the most popularity recently.’ Jadi, tebakan yang lebih masuk akal adalah blog-blog dengan jumlah post, pengunjung, umpan balik, dan komentar yang banyak akhir-akhir ini.

Dan, kalau dipikir-pikir lagi, banyak komentar di blog ini (45 dari 62) yang ditulis oleh… ehm… penulis-penulis blog ini juga! He he. Saya menyebutnya, otokomen. Boleh dibilang, apa yang dilakukan oleh pengarang tersebut agak mirip dengan apa yang dilakukan pula di sini. Walau, tentunya, kami tidak memiliki motivasi tersembunyi apapun ketika kami memberikan komentar di post teman kami di sini! =)

Sebuah post ringan (dan sedikit iseng) semata. =)

Catatan tambahan: sungguh bersyukur melihat banyak kisah personal di blog ini. terima kasih, kawan-kawan. =)

“Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan,
kamu akan menerimanya.” (Mat 21:22)

Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kuasa dan sanggup melakukan apapun. Namun kadang-kadang Dia memakai kita untuk menjadi saluran berkat-Nya. Seringkali Dia menyuruh kita untuk berdoa, supaya kehendak-Nya jadi di dunia ini.

Dan beberapa minggu ini, aku baru benar-benar menyadari bagaimana Tuhan bekerja melalui doa-doa kita, terutama melalui aku. Seringkali ketika aku membaca atau mendengar suatu berita, ada dorongan untuk mendoakan hal-hal itu.

Ajaibnya, aku perlahan-lahan menyadari bagaimana SETIAP doaku dijawab!Iya benar.. Setiap doaku! Bukan hanya sebagian. Mengenai orang Korea Selatan yang ditahan oleh Taliban. Mengenai seorang teman untuk percaya kepada Kristus. Mengenai pilihan jalan hidup.

Sungguh betapa kita sering melupakan kuasa doa. Cobalah membuat suatu catatan doa. Ketika setiap kali kita berdoa, kita menuliskan pokok doa kita. Dan ketika jawaban Tuhan datang atas doa kita, berilah tanda. Amatilah dan kau akan terkejut melihat bagaimana Tuhan menjawab itu semua.

Tapi aku ingin menutup dengan suatu confession. Seiring dengan semakin kagumnya aku terhadap kekuatan doa itu, semakin ada dorongan untuk ‘memakai’ doa itu untuk kehendak-ku sendiri. Keinginan untuk menjadikan doa itu sebagai alat untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Bersyukur kalau Tuhan kembali mengingatkan bahwa doa itu seharusnya tempat dimana kita menyelaraskan keinginan kita supaya sama dengan kehendak Tuhan.

Kejadian Raja Hizkia (raja yang berdoa meminta kesembuhan dari Tuhan, hanya untuk berbalik dari Tuhan) selalu menjadi petunjuk bagiku untuk terus berhati-hati dalam berdoa. Untuk meminta kepada Tuhan apa yang Dia inginkan, bukan apa yang aku inginkan. =)

Lalu dia yang rupanya seperti manusia itu menyentuh aku pula dan memberikan aku kekuatan,
dan berkata:

“Hai engkau yang dikasihi, janganlah takut, sejahteralah engkau, jadilah kuat, ya, jadilah kuat!”

Sementara ia berbicara dengan aku,
aku merasa kuat lagi dan berkata:

“Berbicaralah kiranya tuanku, sebab engkau telah memberikan aku kekuatan.”

(Daniel 10:18-19)

Saat Tuhan memberikan kita kekuatan dan keberanian,
bukan kitalah yang lantas mampu berkata-kata dan bertindak.

Saat Tuhan memberikan kita kekuatan dan kemampuan,
Dialah yang akan berkata-kata dan bertindak dalam kita.

Mampukah kita untuk berserah kepada perkataan dan perbuatan-Nya?

Saat Tuhan memberikan kita kekuatan dan keberanian,
Ia memampukan kita untuk mendengar perkataan-Nya dan menyaksi akan perbuatan-Nya.

Berbicaralah kiranya tuanku, sebab engkau telah memberikan aku kekuatan.

Saat kita kuat dan mampu berserah, kemampuan kita pun datangnya dari Allah semata.

“Hai engkau yang dikasihi, janganlah takut, sejahteralah engkau, jadilah kuat, ya, jadilah kuat!”

Markus 11:15-19 bercerita tentang kemarahan Tuhan Yesus di Bait Allah. Mungkin inilah satu-satunya dicatat dalam Alkitab tentang Yesus yang marah. Bila hal ini benar, tentulah ada suatu hal yang besar terjadi. Suatu hal yang membuat Yesus benar-benar merasa pedih. Apakah yang terjadi?

Yesus diceritakan masuk ke Bait Allah, dan menjumpai orang berjual beli di halaman Bait Allah. Pedagang burung dan ternak untuk persembahan pun diusir oleh Yesus. Mengapa Yesus marah?

Melalui Musa, Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk mempersembahkan korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan maupun korban penghapus dosa (baca Imamat). Karena Tuhan adalah kudus, Ia menghendaki binatang persembahannya untuk juga yang terbaik dan tidak bercacat. Namun hal inilah yang dijadikan lahan KOMERSIAL bagi para imam dan pedagang.

Umat Israel yang datang dari pelosok Israel ke Bait Allah membawa binatangnya harus melalui pemeriksaan oleh imam. Karena binatang itu diajak berjalan cukup jauh dari tempat asal mereka, dengan sendirinya imam akan menolak binatang itu untuk dijadikan korban. Orang Israel pun harus membeli binatang yang dijual oleh para pedagang di luar Bait Allah yang telah diberi cap ‘tak bercacat’ oleh para imam.

Sungguh menyedihkan bahwa suatu perayaan keselamatan yang sakral bagi umat Israel justru dikaburkan maknanya dengan keserakahan manusia terhadap UANG! Dan keserakahan yang sama membuat para pedagang berjubel memenuhi halaman luar Bait Allah, sehingga halaman luar yang seharusnya didedikasikan untuk orang Kafir (Yesaya 56:3-7) tidak dapat dipakai beribadah. Sekali lagi uang menjauhkan orang dari keselamatan!

Bagaimana dengan kasus ini? Buku-buku rohani yang seharusnya digunakan untuk memperlengkapi jemaat, dan membangun fondasi iman yang benar justru mengaburkan dan mencemarkan iman Kristiani yang benar. Cobalah lihat ke toko buku Kristen di dekat mu. Apakah kamu bisa bilang kalau buku-buku itu bermutu? Apakah kamu juga membelinya? Ataukah kamu justru sebaliknya membeli buku-buku yang terlalu menekankan self-help, kekayaan, psikologi ataupun perkara-perkara yang tidak membangun?

Sekali lagi buku yang seharusnya mampu menuntun orang menuju keselamatan, dikaburkan. Aku merenung, “Marahkah Tuhan melihat hal ini?”

Halaman Berikutnya »