Juli 2007


Selama seminggu ini banyak berita tentang kasus sandera di Afghanistan. 22 orang dari Korea Selatan ditangkap dan dijadikan sandera oleh kawanan Taliban. Kawanan ini menuntut pemerintah membebaskan beberapa penjahat militer sebagai ganti nyawa para sandera.

Senin, 30 Juli 2007

Ketika membaca kembali berita ini, barulah aku sadar kalau 22 orang yang tertangkap itu rupanya adalah orang Kristen yang sedang mengadakan mission trip di Afghanistan. Seketika itu juga muncul dorongan untuk berdoa bagi mereka, benar-benar dorongan yang kuat. Dorongan yang sama juga yang membuat aku mengajak beberapa orang untuk berdoa bersama-sama bagi kejadian ini.

Satu hal yang membuat aku merasa benar-benar malu, adalah kenapa aku tidak berdoa sejak awal kasus ini terjadi? Apakah karena aku tidak menyadari kalau mereka itu Kristen, sehingga tidak perlu didoakan? Kalimat itu terus terngiang, mengingatkan masih betapa terlalu egoisnya diriku. Ketika melihat kejadian di dunia, asalkan tidak berhubungan dengan kekristenan, tidak perlu didoakan..

Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga sering tidak peka terhadap kebutuhan doa di dunia yang mungkin berhubungan dengan orang-orang non Kristen? Ataukah bahkan kalian tidak pernah berdoa untuk saudara seiman-pun?

pada mulanya adalah Firman.

Jadilah Terang!

maka terang, sinar, dan harapan untuk kemuliaan pun
lanjut tersirat,

dirimu.

diriku.

Namun, entah sejak kapan.

sejak kapan?

ya. Entah sejak kapan,

saat aku terkurung dari belakang dan depan,
saat aku terlingkup daripada samudera luas,
saat aku terhempas dan bergulung di ombak raya.

belakangku dan depanku.
samuderaku, ombak dan air terjunku,

tidak kuingat

tidak kuingat

tidak kuingat

Ah

Jikalau.. aku bergulat denganmu di pagi buta,
dapatkahku bergelut saat pinggulku terpukul?

sebelum pagi merekah.

dan seluruh awan yang mengelilingiku bergerak
berputar putar, meraung raung.

dibalik semua rimba dan ribaan,
membelakangi sang mentari.

sang Terang dunia

saat kuterdiam
dan

saat kuberhenti

masih saja,

FirmanMu.

Whatever my lot, Thou hast taught me to say,
It is well, it is well, with my soul.

sebuah excerpt dari satu lagu yang cukup terkenal, It is well with my soul (juga dikenal sebagai tenanglah jiwaku).

Horatio Spafford membuat lirik lagu ini, pada saat ia mengalami kejadian yang sangat memukul.

Setelah anak laki-lakinya meninggal dan bisnisnya pun lumpuh karena kebakaran di tahun 1871, ia pun kehilangan keempat anaknya yang lain pada saat keluarganya menumpangi kapal ke Eropa pada tahun 1873, dimana ia berencana akan menyusul mereka. Istrinya yang selamat, mengirimkan dia telegram yang terkenal, berbunyi;

Saved alone.

Dalam guncangan dan cobaan yang melanda dia, Horatio membuat lirik lagu ini pada saat ia melewati laut tempat kecelakaan yang merenggut nyawa anak-anaknya.

Saat kesedihan berat melanda,
It is well with my soul.

Saat setan menggoda, dan cobaan datang,
It is well with my soul.

Seluruh dosaku telah ditanggung Kristus di salibNya!
Praise the Lord, O my soul!

Cepatlah datang, ya Tuhanku!
Even so, it is well with my soul.

dapatkah kita berkata seperti ini ketika badai cobaan datang menghantam?
That; whatever my lot is, You has taught me to say: It is well, it is well, with my soul.

Saya ingin sekedar menambahkan beberapa hal yang sempat terpikir setelah membaca tulisan Saudara Martin di post sebelumnya. Jika tanggapan saya kurang berhubungan dengan tulisan sebelumnya, mohon maaf.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbincang-bincang dengan saudara saya yang berada di Indonesia. Saya waktu itu bertanya kepadanya kira-kira apa yang bisa mengurangi jumlah korupsi di Indonesia.

Saudara saya ini menjawab, bahwa salah satunya adalah dengan sistem yang dirancang sedemikian rupa, sehingga menyulitkan orang untuk melakukan korupsi. Bahkan bukan hanya korupsi, tapi juga beberapa kebiasaan buruk lainnya.

Jika setiap akun bank yang dimiliki oleh seorang pegawai, dapat dideteksi oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Maka orang enggan mengirimkan hasil uang korupsi melalui bank. Seperti ini contohnya, misal saya adalah seorang pegawai. Saya baru saja menerima sogokan sejumlah uang dan hendak dikirimkan ke akun bank saya. Tapi karena jumlah itu besar sekali, maka setiap uang yang masuk ke akun saya, yang jumlahnya melebiji batas “kecurigaan” yang telah didefinisikan oleh lembaga semacam KPK dsb, maka saya bisa diperiksa. Setidaknya hal ini dapat mengurangi jumlah korupsi. Walaupun saya sadar, bahwa dalam pelaksanaan tidak akan sesederhana ini.

Contoh lain adalah dengan menggaji pegawai sesuai dengan tingkat kesulitan kerjanya. Tidak sedikit korupsi dan penyimpangan-penyimpangan terjadi karena gaji yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, padahal ia telah bekerja dan seharusnya gajinya lebih dari itu. Ujung-ujungnya pegawai tersebut melakukan korupsi.

Banyak juga orang yang tidak professional di pekerjaannya, karena lebih sibuk mengurus bisnis sampingannya. Kenapa mengurus bisnis sampingannya? Ya mungkin karena gaji yang diperoleh dari tempat kerja yang sebenarnya kurang mencukupi. Sehingga tidak jarang pekerjaan di tempat semula jadi acak-acakan.

Ada pengalaman lain mengenai hal pembajakan. Apapun bentuknya. Bisa berupa software, kaset, buku, dan sebagainya. Saya pun dulu sering sekali menggunakan barang bajakan. Baik itu berupa software, film dan buku. Tapi perlahan-lahan saya kurangi. Mencari alternatif lain yang tidak memerlukan membajak.

Seorang teman pernah berkata, agar kita tidak membajak, dengan alasan jika nanti suatu saat, barang kita dibajak (bisa berupa software buatan kita, ato buku hasil tulisan kita atau apaun itu), apakah kita juga senang dengan hal itu?

Memang benar, hal diatas, seperti pencegahan korupsi dengan sistem, penggajian sesuai beban kerja, dan tidak membajak supaya tidak dibajak gantian, adalah langkah awal yang terlihat itu baik. Hasilnya kejahatan korupsi dan pembajakan itu dapat dihindari.

Tapi apakah hanya sampai disana?

Tidak. Menurut saya, alasan tidak korupsi karena sistemnya tidak memungkinkan bagi kita untuk korupsi, tidak korupsi karena kita sudah digaji dengan layak, tidak membajak karena kita takut dibajak, merupakan alasan yang kurang tepat, terutama bagi saya, dan semoga Anda juga.

Kenapa kita tidak berkata, kita tidak melakukan korupsi, tidak membajak, karena iman kita menjadikan kita secara sadar untuk tidak melakukan hal-hal tersebut? Bukan karena takut dibajak. Bukan karena takut ketahuan KPK. Tapi karena kita memang tidak mau melakukan hal itu. Karena kita tahu hal itu tidak benar dan tidak boleh kita lakukan.  

Kita sering menjadikan kita seakan-akan benar, karena tidak melakukan suatu kesalahan. Tapi kadang kita tidak merenungkan kenapa kita tidak melakukan hal itu. Alasan apa yang mendasari kita tidak melakukan itu, perlu kita gali lebih jauh.

Orang yang hidup karena iman, perbuatan baik akan ada dalam dirinya. Namun, orang yang berbuat baik, belum tentu dia berbuat baik karena imannya.

Amin.

Kepulangan ke Indonesia selalu membawa pergumulan tersendiri. Banyaknya masalah dan berita membuat diri begitu terbuka akan hal-hal yang sedang terjadi di Indonesia. Apalagi ketika hal-hal itu dibenturkan dengan iman kristiani kita.

Hal yang mau aku angkat pada saat ini adalah mengenai dosa. Sebuah topik yang orang paling sering hindari, karena selalu ‘menusuk’ orang dan meminta pembacanya untuk berubah.

Sewaktu di Indo, aku sempat mendengar pembicaraan mengenai pajak. Bukan menjadi hal yang umum kalau banyak orang yang tidak membayar pajak sesuai ketentuan. Ada yang melakukan pembukuan ganda. Satu yang asli untuk keperluan perusahaan dan satu lagi untuk keperluan pajak. Atau dengan cara yang lebih ‘langsung’. Mendatangi petugas pajak, dan mengajaknya untuk ‘kongkalikong’ sehingga mereka sama-sama untung.

Sudah begitu parahkan kondisi moral di Indonesia, sehingga mereka tidak merasa berdosa melakukan hal itu. Ataukah ada kebutaan karena harta yang menyebabkan mereka melakukan hal itu? Banyak yang berdalih, “Ah.. Kan semua orang juga melakukannya”.

Coba kita renungkan.. Apa sih yang menyebabkan sesuatu itu disebut dosa ? Apakah dengan semua orang melakukannya, hal itu tidak lagi disebut dosa ? Apakah dengan tidak merugikan orang lain, hal itu tidak lagi menjadi suatu pelanggaran ?

Dosa bukanlah suatu hal yang subyektif dalam kacamata manusia. Dosa adalah obyektif. Ada suatu tolak ukur yang diberikan Tuhan untuk mengetahui apakah ini dosa atau tidak. Apa itu ? Kehendak Tuhan.

Asal kata dosa adalah hammartia, yang artinya adalah meleset dari sasaran. Dengan kata lain, ketika yang kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan, kita sudah berdosa. Jadi bukannya dosa atau tidak berdosa itu diukur dari orang-orang di sekitar kita.

Membaca berita ini dari detik.com, menyiratkan bahwa Rokhmin mengatakan kalau ia tidak layak diadili karena koruptor-koruptor lain juga tidak diadili. Apakah itu sesuai dengan apa yang baru saja kita pelajari? Tidak ! Orang yang bersalah tepat harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Dan itu tugas pengadilan untuk bias mengusut kasus-kasus yang lain.

Kalau contoh itu terlalu jauh untuk kita, bagaimana dengan pembajakan (piracy). Bukankah itu sudah mendarah daging dalam diri kita? Apakah dengan semua orang juga memakai Windows bajakan, berarti kita boleh memakainya? Mungkin kita merasa aman, karena tidak cuma kita yang melakukannya, tapi perasaan aman itu darimanakah asalnya? Kita bisa berkelit kalau harga Windows terlalu mahal, sehingga terpaksa memakai bajakan. Tidakkah itu tetap disebut berdosa? Dalih tersebut memang ada benarnya, bahwa harga software mungkin tidak terjangkau oleh sebagian orang. Tapi pernahkan kita berusaha untuk mencari alternatifnya? Dengan mencari informasi Operating System yang gratis atau lebih terjangkau. Atau dengan belajar memakainya?

“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah” (Yakobus 1:5)

***

Iseng-iseng cari generator logo di internet. (lebih tepatnya, karena tidak bisa membuat sendiri =)

logoteoblogi.jpg
dari logoblog.org dan diedit menggunakan MS Paint

Jika Anda hendak menampilkan logo blog ini pada sidebar blog Anda, silakan copy dan paste kode di bawah ini.

<a href="http://teoblogi.wordpress.com" target="_blank" ><img border="none" width="200" height="44" src="http://teoblogi.files.wordpress.com/2007/07/logoteoblogi.jpg"></a>

Anda boleh mengubah nilai width dan height disesuaikan dengan panjang dan lebar sidebar Anda. Akan tetapi mohon diperhatikan proporsi perbandingan panjang dan lebarnya, sehingga akan tetap terlihat proporsional.

Sebuah pertanyaan tentang nasionalisme (tema Persekutuan Pemuda (PP) di GPBB untuk 3 bulan ini adalah Indonesia – pemikiran di post ini didapatkan setelah PP minggu ini). Berulang kali kita acap mendengar sebuah pernyataan seperti ini, “Kita lahir sebagai orang Indonesia. Tentulah Tuhan memiliki rencana tersendiri bagi kita terhadap Indonesia.” Atau, “Kita lahir sebagai orang Indonesia bukanlah suatu kebetulan. Ada rencana Tuhan untuk kita bagi Indonesia.” Dan berbagai macam pernyataan lain yang mirip dengan keduanya. Satu pertanyaan yang terlintas di pikiran saya. Andaikan. Andaikan Indonesia adalah negara maju, aman sentosa, makmur, damai, teratur, dst, masihkah kita akan berpikiran demikian? Atau, malah pernyataan yang akan kita ucapkan malah, “Kita lahir sebagai orang Indonesia. Mungkin Tuhan punya rencana tersendiri untuk kita bagi dunia?”

Sebuah contoh yang baik adalah bagi teman-teman yang berdomisili di Singapura. Singapura adalah negara maju, aman sentosa, makmur, damai, teratur, dst. Sekarang pengandaiannya dibalik. Andaikan kita lahir sebagai orang Singapura. Akankah kita ditekankan bahwa karena kita lahir sebagai orang Singapura, tentulah ada rencana Tuhan untuk kita bagi Singapura?

Pokok dari semua ini adalah, apa sebenarnya yang mendorong kita untuk berbuat sesuatu bagi Indonesia: Indonesia atau kebutuhannya?

Saya ingin berbagi mengenai apa yang saya alami beberapa waktu ini. Ini adalah pengalaman pribadi saya, bagaimana Tuhan mendidik saya melalui cara yang mungkin berbeda dengan Anda.

Masa-masa ini adalah masa liburan di universitas saya. Liburnya sekitar 13 minggu, ya sekitar 3 bulan. Namun, saya tidak pulang ke kampung halaman, karena saya harus tinggal di sini untuk mengerjakan project yang hukumnya wajib bagi setiap mahasiswa teknik elektro tahun ke-2 yang beranjak ke tahun ke-3. Project itu memakan waktu sekitar 5 minggu. Lalu setelah itu, saya ada waktu senggang sekitar 1 minggu.

Setelah selesai project, saya mengikuti program semester pendek. Semester pendek ini memakan waktu sekitar 5 minggu juga. Jika termasuk ujian, jadi sekitar 6 minggu. Total waktu yang saya pakai sekitar 12 minggu.

Menjalani hidup di perantauan, maka hal yang sangat krusial adalah uang. Ya, saya tidak mempunyai cukup uang untuk dapat bertahan hidup di masa liburan. Jika tidak ada project dan semester pendek, maka uang saya (Study Loan) yang berasal dari pinjaman salah satu bank di Singapura, cukup untuk biaya hidup. Hal ini sudah saya pikirkan matang-matang. Berbagai kalkulasi dan perhitungan pun saya lakukan untuk memperkirakan sampai dimana saya dapat bertahan hidup dengan uang yang terbatas.

Saya putuskan waktu itu, untuk meminta uang kepada kakak saya di Indonesia, untuk biaya hidup saya selama project dan semester pendek. Waktu itu sudah saya perkirakan akan cukup. Saya pun sudah berusaha mencari kerja sampingan untuk menambah uang sebagai penyokong biaya hidup. Namun, entah kenapa saya selalu tidak mendapat kesempatan itu. Pasti ada saja alasannya.

Hal yang tidak diduga-pun terjadi. Saya jatuh sakit. Deman saya sangat tinggi. Ketika saya periksa ke dokter, dari gejala-gejala yang terjadi, dokter menduga saya terkena demam berdarah. Setelah dilakukan tes darah, ternyata saya tidak terkena demam berdarah. Hanya demam biasa. Hal tidak diduga yang lain, terjadi juga. Dari hasil tes darah, dokter menyatakan saya terkena infeksi paru-paru. Saya harus minum obat lagi untuk mengobati infeksi paru-paru disamping minum obat untuk demam saya.

Mulai dari biaya obat, dan biaya tes darah pun menambah daftar pengeluaran uang saya. Tidak bisa ditunda-tunda lagi. Jika mungkin saya bisa menunda membeli sebuah buku, tapi saya tidak bisa menunda membayar uang obat dan tes darah.

Pengeluaran lain yang berhubungan dengan sakit pun masih ada. Saya biasanya makan sehari 2 kali. Namun, karena saya sakit dan harus minum obat sehabis makan, maka saya pun tidak bisa menunda makan 3 kali sehari. Untuk deman, saya hanya minum obat sampai demam saya benar-benar sembuh, tapi untuk infeksi paru-paru, saya harus minum obat sekitar selama 3 minggu.

Tanpa disadari, keuangan sudah pada ambang batasnya. Saya tidak punya pemasukan lain, dan saya juga tidak tega jika saya harus meminta uang dari rumah lagi. Saya merasa tidak bijaksana jika saya meminta dan meminta uang dari rumah. Karena saya tau, kondisi ekonomi di rumah juga masih dalam tahap pemulihan. Dan memang saya sewajarnya tidak banyak membebani mereka, karena saya selayaknya sudah dicukupkan dengan uang pinjaman itu.

Hari ini, uang saya tinggal sekitar SG $ 5. Saya pakai untuk makan pagi (jam 3 sore) sekitar $1.8 dengan membeli sepiring chicken rice. Semalam saya sudah berdoa, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya mencoba mencari pinjaman uang dari teman. Namun, teman yang biasa meminjami saya uang, dia sedang berada di Indonesia. Sebenarnya saya merasa berat hati untuk meminjam uang. Bukan karena malu, tapi karena saya tidak ingin membebani dan merepotkan teman terlalu sering.

Akhirnya saya memutuskan untuk meminjam uang pada salah seorang teman yang masih berada di Singapura. Sebelum meminta bantuannya, saya mendoakannya dahulu. Dalam doa saya, saya meminta kepada Tuhan, kira-kira seperti ini,

Ya Tuhan, saya tidak tau apa yang sebaiknya saya lakukan, tapi saya kepikiran untuk meminjam uang kepada si A. Jika Engkau berkenan saya meminjam uang darinya, pakailah dia menjadi sarana dalam membantuku, tapi jika Engkau berkehendak lain, tunjukkanlah apa yang sebaiknya saya lakukan.

Doa ini saya ucapkan setelah saya selesai makan chicken rice dan menjelang saya masuk kelas bahasa Jepang program semester pendek ini.

Dalam perjalanan ke kelas, saya melewati mesin ATM. Saya ingat, saldo terakhir bulan lalu adalah $6. Dan tidak mungkin akan bertambah, karena ini belum masa uang pinjaman dari bank dicairkan. Tapi karena tidak ada antrian di mesin ATM, saya iseng-iseng memasukkan kartu ATM. Memasukkan nomer pin dan melihat saldo akun saya.

Ya, masih $6. Belum berubah. Itu kalimat yang ada di pikiran saya.

Tapi, sebentar. Kenapa ada angka 6 dibelakang angka 6? Saya lihat kembali. Ternyata saldo saat itu $66. Saya kaget. Darimana uang ini berasal. Seketika saya teringat bahwa, saya pernah dikirimi email bahwa itu uang biaya asrama yang dikembalikan karena saya keluar dari asrama sebelum waktu yang ditentukan. Thanks God, seketika saya berteriak dalam hati. Jadi masih ada uang sekitar $50. Karena pecahan terkecil di mesin ATM adalah $50.

Saya tertawa dan terseyum, mengingat betapa kalutnya saya ketika sudah tidak ada uang. Dan betapa saya merasa tidak enak untuk merepotkan teman maupun keluarga.

Didikan Tuhan itu sempurna. Melalui cara dan kejadian yang mungkin tidak kita pahami dan kita duga. Namun satu yang pasti bahwa, Tuhan itu mendidik kita, bukan mempermainkan kita.

Tuhan mendidik saya, sehingga saya bisa sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Tidak lagi megandalkan diri sendiri. Bukan kemewahan yang Tuhan berikan, bukan sesuatu yang serba berlimpah ruah dalam hidup saya. Tapi segala sesuatu yang mendidik saya, yang Tuhan berikan kepada saya.

Setidaknya saya masih punya waktu 2 minggu-an lagi, sebelum saya benar-benar harus merepotkan teman dan keluarga. Dan mungkin hal lain akan terjadi, yang tentunya tetap mendidik saya, untuk mejadi lebih setia dan bersandar pada Tuhan.

 

Salam.

Btw ini ada contoh blog yang konsepnya dapat kita contoh: 9marks. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Kepengarangan: pengarang-pengarang di blog itu saling mengenal. Mungkin begitu saja ya cara blog ini menambah pengarangnya.
  2. Sahut-menyahut: menggunakan re: [Judul Post]. Dan re: re: [Judul Post]. Dan seterusnya.
  3. Cakupan blog: di sana tentang seputar gereja. Dan dibatasi untuk hal itu saja. Disini? Pemuda? Apa kita mengalir dulu saja, dan melihat nanti bagaimana?

Seperti yang tertera di sini, ada pelbagai jenis pengguna yg bisa berperan dalam site ini;

admin; yakni para bos bos besar seperti Gem dan Jom. mereka inilah yang berhak melakukan segala sesuatu di site ini,

editor; mereka yang dapat mengatur lalu lintas pesan,

penulis dan kontributor; mereka yang secara rutin/tidak dapat membagikan sesuatu di site ini, meski tidak memiliki kontrol keseluruhan.

Jika keseharian kita dilihat sebagai sebuah blog, dan kejadian² di dalamnya adalah postingan kita, dimanakah kita menaruh diri kita? sebagai admin yang berkuasa penuh? sebagai editor yang mampu mengubah jalannya hidup kita? ataukah sebagai penulis dan kontributor yang menjalankan apa yang kita bisa dan menyerahkan semuanya kepada Boss kita?

Teoblogi mencari pengguna/users yang;

1. mau menulis dlm bahasa indo :p

2. mau menjadi; admin atau editor yang bertanggungjawab; ataupun penulis atau kontributor yang mau berperan sesuai pribadinya (lucu atau serius, singkat layak telegram atau panjang menyaingi disertasi, dll)

mari berperan dengan peran masing² dalam administrasiNya :)

Halaman Berikutnya »