Juni 2007


Setiap orangtua memiliki impian tersendiri terhadap anaknya. Ada yang menginginkan anaknya menjadi orang yang sukses, atau menjadi orang yang berguna bagi keluarga, dan sebagainya.

Blog ini pun lahir dengan impian-impian. Dengan berbagai cita-cita. Impianku adalah blog ini menjadi wadah percakapan teologis antara sesama pemuda Kristen tentang kehidupan sehari-hari mereka masing-masing. Cakupan cakap-cakap di sini sepatutnya meliputi setiap aspek dalam kehidupan mereka, baik itu dalam kampus, dalam dunia kerja, dalam gereja, dalam masyarakat, dalam bangsa & negara. Hal ini didasari dengan keyakinan bahwa Allah berdaulat dalam setiap aspek kehidupan manusia dan karena itu sepatutnya kita senantiasa melihat Allah pula dalam setiap aspek kehidupan kita. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. (Mat 5:8) Harapannya adalah kepelbagaian pengalaman dan latar belakang mereka akan saling memperkaya khasanah iman mereka masing-masing maupun para pembaca blog ini. Pada akhirnya, semoga blog ini semakin menunjukkan keindahan Kristus bagi pembacanya, seperti yang terus diusahakan oleh setiap penulis blog ini.

Bagaimana blog ini akan dijalankan? Bayangan saya adalah tulisan-tulisan di blog ini secara umum dapat dibagi menjadi dua: pertama, tulisan panjang seperti biasanya, dan kedua, percakapan-percakapan antar penulis seperti yang biasanya kita temukan di dalam forum. Jadi, alih-alih menanggapi tulisan dengan menggunakan komentar, penulis yang lain menanggapi tulisan penulis sebelumnya di post yang baru. Kadangkala ada waktunya untuk menanggapi dengan komentar saja, namun ada kalanya pula penulis-penulis blog ini saling menanggapi lewat post yang baru. Mengenai praktisnya mana yang harus dibalas dengan komentar dan mana yang harus ditanggapi dengan post baru, saya pikir ini adalah ruang dimana kita belajar bersama-sama. Seiring dengan berlalunya waktu dan bertumbuhnya jumlah post, saya pikir kita akan semakin dewasa dalam memilih opsi yang tepat.

Selamat berdiskusi, saudara-saudaraku.

Pada hari minggu, seorang anak kecil keluar dari gereja. Ternyata dia baru selesai sekolah minggu. Seorang pemuda, yang kebetulan sedang berada di sekitar gereja, menghampiri anak kecil itu.

“Tadi di sekolah minggu, apa yang diajarkan oleh kakak pengasuh?”, tanya pemuda tersebut.

“Kakak pengasuh bercerita tentang Nabi Musa yang berhasil membelah dan menyeberang Laut Merah yang dalam.”, jawah si anak kecil.

“Cerita sebenarnya tidak seperti itu. Itu bukan laut yang dalam, tapi airnya cuma sebatas mata kaki, makanya Nabi Musa bisa melewatinya.”, sahut si pemuda.

“Wah, ternyata Raja Firaun lebih payah, dia dan pasukannya tewas di air setinggi mata kaki saat mengejar Nabi Musa.” jawab si anak kecil.

Pesan dari cerita : Kadang anak kecil lebih mempercayai secara tulus apa yang tertulis di alkitab.

Alamat blog ini terinspirasi oleh istilah yang digunakan oleh Pak Joas Adiprasetya di sini.