setelah sekian lama absen dari dunia persilatan (baca: ngeblog), saya mau nulis lagi
Ini hasil perenungan saya setelah berlibur selama seminggu di Indonesia.
Di sepanjang jalan terpampang gambar-gambar calon legislatif dari berbagai partai. Ada yang ukurannya besar sekali, besar, sedang, kecil, dan kecil sekali. Ada yang bermuka garang, kumis tebal, tanpa senyum, kaku dan terlalu formal, ada juga yang terlalu narsis, kemaki (bahasa jawa, arti: lawan kata kemayu), dan kemayu. Terlebih lagi ada juga yang mempunyai wajah tidak bersahabat sama sekali.
Poster-poster yang menghiasi sepanjang jalan itu sangat merusak pemandangan. Saya mencoba jujur dan menuliskan apa yang ada di lubuk hati saya. Ya, merusak pemandangan dan keindahan. Bukan karena wajah para calon legislatif yang kurang menarik bagi saya, tetapi karena poster tersebut – menurut saya – tidak ditempatkan dengan rapi.
Metode yang digunakan dalam poster tersebut pun kadang tidak bisa saya pahami, entah saya yang tidak bisa mencerna dengan baik, atau mungkin poster tersebut yang sebenarnya tidak jelas. Ada menuliskan bahwa calon legislatif tersebut adalah mantan juara dunia cabang olahraga tertentu atau artis tertentu, ada juga yang malah memajang foto bapak/kakeknya di poster yang sama, padahal kakeknya juga bukan orang partai tersebut. Saya sempat bertanya-tanya, sebenarnya apa kaitan semua itu dengan beban kerja yang akan mereka hadapi kelak jika mereka terpilih menjadi anggota legislatif? Kenapa mereka tidak memamerkan keunggulan mereka yang sekiranya berkaitan dengan pekerjaannya kelak? Atau jangan-jangan mereka sebenarnya tidak mempunyai keunggulan yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya kelak? (lagi…)

